Tiga Cara Pemeliharaan Al-Quran pada Masa Nabi

173

Jakarta, Muslim Obsession – Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril dalam bentuk suara, bukan dalam bentuk kitab yang sudah tertulis. Kalam Allah SWT itu diturunkan secara berangsur-angsur (mutawatir).

Tujuannya, agar kandungan Al-Quran lebih mudah dipahami, dihafal, serta diamalkan manusia. Dengan cara seperti ini, Rasulullah SAW akan mudah memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan yang diajukan, baik oleh umat beliau sendiri maupun orang-orang kafir.

Berikut ini adalah tiga jalan pemeliharaan Al-Quran yang berlangsung sejak kenabian hingga akhir hayat Rasulullah SAW.

1. Jaminan dari Allah

Mengutip buku Sudahkah Kita Mengenal Al-Quran? (2013), antusiasme Nabi SAW begitu tinggi saat menerima wahyu. Beliau tak ingin kehilangan satu huruf pun dari Kalam Allah yang sampai kepadanya.

Maka, beliau segera menggerakkan lisannya untuk meniru bacaan Jibril meski malaikat mulia itu belum menyelesaikan bacaan. Allah SWT pun menegur Nabi SAW agar tak tergesa-gesa (QS al-Qiyamah:16-18).

Surah itu juga menegaskan, Allah SWT menjamin, Dia-lah yang mengumpulkan setiap ayat Al-Quran dan menanamkannya dalam dada Nabi SAW. Rasul SAW tak perlu khawatir ada yang terlewat.

2. Hafalan

Nabi Muhammad SAW merupakan seorang ummi, yakni tak pandai membaca dan menulis. Memang, umumnya masyarakat Arab kala itu tidak mahir dengan kepandaian tersebut. Maka dari itu, Nabi SAW berfokus pada upaya menghafalkan Al-Quran.

Dengan begitu, keakuratan tiap huruf dari firman Allah Ta’ala akan terjaga. Beliau membacakan perlahan-lahan tiap ayat yang diwahyukan kepadanya. Selanjutnya, para sahabat mengulanginya, melafalkannya, dan menghafalkannya.

Banyak sahabat di rumahnya mengulangi hafalan Al-Quran. Dari kejauhan, suara mereka seperti dengungan lebah. Rasul SAW kerap menyusuri Madinah saat malam. Sesekali, beliau berhenti di dekat rumah beberapa sahabatnya yang sedang membacakan Al-Quran.

Suatu kali, beliau memuji Abu Musa al-Asy’ari, “Kamu tak tahu tadi malam aku mendengarkan bacaanmu. Sungguh, Allah telah menganugerahkan kepadamu seruling (suara indah) dari seruling keluarga Daud” (HR Bukhari).

3. Tulisan

Di antara para sahabat Nabi SAW, tak sedikit yang mahir menulis. Kepada beberapa dari mereka, Rasulullah SAW menyuruh untuk menuliskan ayat-ayat Al-Quran. Di antara para penulis wahyu pada era Makkah ialah Abdullah bin Sa’ad dan Khalid bin Sa’id. Sejak hijrah, tentu kian banyak yang menuliskan Al-Quran.

Ada sekitar 65 sahabat yang ditugaskan Nabi SAW sebagai penulis wahyu. Mereka antara lain adalah empat orang yang akhirnya menjadi khulafaur rasyidin. Pembukuan Al-Quran terutama pada masa Khalifah Utsman bin Affan juga mengandalkan tulisan-tulisan Al-Quran yang diguratkan para sahabat Nabi SAW di berbagai medium–semisal pelepah kurma, kulit ternak yang telah disamak, batu, dan sebagainya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here