Tiga Agenda Strategis Muhammmadiyah

235
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Foto istimewa.

Aceh, Muslim Obsession – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan perlu ada tiga agenda tajdid atau pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah di era modern saat ini.

Ia menilai untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan pusat-pusat keunggulan sebagai persambungan dari gerakannya yang telah berlangsung 107 tahun, memerlukan agenda-agenda tajdid yang penting dan strategis.

Hal itu disampaikan Haedar saat pembukaan Sidang Fikih Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Senin (14/10/2019).

Dalam kehidupan kebangsaan di Indonesia mutakhir, diakui Haedar, kecenderungan positif dari keberagamaan ialah semarak untuk menjalankan agama secara ritual semakin tinggi.

“Di kalangan umat Islam ditandai dengan meningkatnya jumlah jamaah haji dan umrah setiap tahun, bahkan harus menunggu berpuluh tahun untuk haji. Demikian pula kegiatan pengajian-pengajian dan majelis-majelis taklim, majelis dzikir, gerakan shalat berjamaah, dan berbagai ritual dan simbolik yang menunjukkan identitas keagamaan,” kata Haedar, seperti dikutip dari Muhammadiyah, Selasa (15/10/2019).

Karenanya, Haedar meminta Majelis Tarjih penting menghadirkan “Risalah Dakwah dan Tajdid” yang memberi pedoman atau panduan hidup “Beragama di era Modern” yang membawa misi tengahan, damai, mencerdaskan, dan memajukan sebagaimana Risalah Pencerahan hasil Tanwir Bengkulu dalam tema “Beragama yang Mencerahkan”.

“Jangan sampai semarak beragama dan penguatan identitas keagamaan yang tinggi menjurus ke ekstrimitas dalam beragama yang ekslusif, verbalistik, dan menimbulkan kecenderungan “ta’arudh” atau “virus bermusuhan” terhadap pihak lain yang berbeda paham dan praktik keagamaan,” harap Haedar.

Kedua, dakwah dan tajdid di era media sosial dan revolusi 4.0. Ia mengatakan, perkembangan media sosial benar-benar menjadi kenyataan dunia baru bagi masyarakat Indonesia.

“Warga bangsa bukan hanya lekat dengan dunia media sosial (medsos) antara lain melalui gaya hidup gemar berinteraksi melalui twitter, facebook, whatshapp, dan lainnya. Mereka bahkan tergantung pada media digital tersebut, seolah tampak keranjingan, sehingga tiada detik tanpa bermedsos. Bermedsos cenderung bebas, liar, dan apa saja boleh sehingga menjadi sekuler dan liberal,” ujar Haedar.

Dan yang terakhir, penguatan tajdid internal Muhammadiyah. Dunia modern saat ini, diakui Haedar baik di tingkat global maupun nasional dan lokal antara lain memiliki kecenderungan “mengeras” (radikal, ekstrem) sebagai respons atau terkait dengan situasi kehidupan yang sarat antagonistik dalam berbagai aspek kehidupan.

“Umat Islam Indonesia dan dunia tidak cukup hanya berkarakter moderat, tetapi juga harus maju (berkemajuan), yakni unggul dalam segala bidang kehidupan, sehingga kehadirannya sebagai pembawa misi rahmat bagi semesta alam benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata di muka bumi ini,” pungkasnya. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here