TGB: Menghafal itu Melatih Otak, Mengasah Kecerdasan

455
Tuan Guru Bajang (TGB) (Foto: Edwin Budiarso)

Muslim Obsession – Ulama muda asal Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan pentingnya menghafal dalam proses belajar.

Menurut mantan Gubernur NTB tersebut, menghafal itu penting apalagi untuk mempelajari Al-Quran.

Penegasan itu diungkapkan TGB melalui akun Instagramnya, Senin (16/12/2019). Dalam postingannya, TGB mengunggah dialog dirinya dengan santri-santri salah satu pondok pesantren tahfizh Al-Quran di Wanasaba, Lombok.

“Tuan Guru, bagaimana hafalan kita?” Tanya anak santri Tahfidz di Wanasaba Lombok.

“Kenapa?” selidik saya.

“Kan katanya dunia tidak butuh anak yang jago menghafal,” imbuh dia.

Oh itu rupanya. Saya bilang, “Jangan dengarkan, apalagi percaya.”

Menghafal itu penting. Terlebih Al-Quran. Jauh sebelum terkumpul sebagai satu mushaf, Alquran tersimpan dalam ribuan dada para penghafalnya. Dari generasi ke generasi. Dan itulah unsur utama yang menjaga otentisitas Al-Quran.

TGB menjelaskan bahwa belajar itu harus dilakukan seara total. Menghafal, menganalisa, menemukan ide baru adalah rangkaian belajar.

“Menghafal itu melatih otak, mengasah kecerdasan. Tentu saja tak semua hal harus dihafal. Yang penting dan bermanfaat saja,” tulisnya.

Ia kemudian menyajikan sebuah ungkapan yang cukup dikenal di pesantren, ‘Al-‘Ilm fis Shudur la fis Suthur’ yang bermakna bahwa ilmu itu ada di dalam dada, bukan di atas kertas.

“Hingga kini santri di pesantren diharuskan menghafal naskah-naskah induk, kumpulan referensi utama. Tak hanya untuk menguasai substansi namun juga mengasah kecerdasan berbahasa dan kecermatan berlogika,” pungkasnya.

Unggahan TGB tersebut tampaknya menyentil pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa dunia saat ini tidak butuh siswa yang hanya jago menghafal.

Dikutip dari Kompas, Mendikbud mengatakan, perihal Ujian Nasional hanya menuntut siswa menghafal seluruh pelajaran di ujung kenaikan kelas. Hal ini membuat siswa stress karena harus mengcover seluruh materi pelajaran, dan hanya menyentuh aspek memori.

Untuk itu Ujian Nasional memang tidak dihapus namun diganti dengan asesmen kompetensi. Sebab dengan asesmen ini siswa tidak lagi menghafal. Melainkan ada aspek kognitif siswa yang ditest.

Kognitif yang dimaksud adalah penalaran dan pemahaman siswa atas mata pelajaran yang dimaksud. Karena menurutnya dunia saat ini tidak butuh siswa yang hanya jago menghafal. Untuk itu dibutuhkan penyederhanaan ujian nasional dengan cara lain.

Nadiem pun memaparkan dalam RDP dengan DPR pada Kamis (12/12), ujian nasional ini belum menyentuh kepada karakter siswa. Sehingga ia menilai ujian nasional hanya akan ada sampai 2020.

Setelah itu asesmen kompetisi minimum dan survei karakter‎ akan diterapkan. Hal ini juga akan mendorong kompetisi guru untuk lebih berinovasi dalam mendidik siswanya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here