Ta’ziyah, Obituari Bapak Mohammad Siddik

136
Alamrhum Mohammad Siddik.

Oleh: M. Habib Chirzin

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kita kehilangan lagi seorang mujahid dakwah yang berdedikasi tinggi, mantan Ketua Umum DDII; professional yang tekun, mantan pejabat di kantor pusat Islamic Development Bank (IDB), Jeddah; Direktur IDB Asia Pacific di KL, pendidik kader serta pembelajar yang tidak kenal lelah; sampai saat dipanggil kembali ke haribaan Allah.

Pak Siddik adalah sosok yg berpadu dalam dirinya pribadi aktivist, professional, pecinta ilmu serta pembelajar sepanjang hayat.

Kepergian Pak Siddik, cukup mengejutkan, pada 29 Juni 2021, jam 16.45. Karena pada tgl 19 Juni 2021 kemarin, masih mengirim pesan kepada saya yang direkamnya via WA. Dan pada keesokkan harinya, pada tgl 20 Juni 2021 menelpon saya dan menyampaikan bahwa sedang kena flue.

Pak Siddik menyampaikan program yang sedang dilakukannya bersama UIN Syarief Hidayatullah Jakarta dalam seri kajian Islamic Epistemology and Integration of Knowledge. Program ini dilaksanakannya bersama Prof. Mulyadhi Kartanegara, yang menjadi partner kami sejak 2010.

Pada malam hari setelah saya informasikan wafatnya Pak Siddik, saya menerima telpon dari Mas Mulyadhi yang menyampaikan program di UIN yang sedang berjalan. In syaa Alllah akan kita lanjutkan bersama.

Kegiatan di PII, WAY, UNICEF, OKI dan IDB

Sejak muda Pak Siddik telah berkiprah di PB PII, 1962. Kemudian pada th 1966 terpilih sebagai Sek Jen KPI (Komite Pemuda Indonesia), yang berafiliasi dengan WAY (World Assembly of Youth) yg berpusat di Brussel, Belgia.

Saya terlibat dalam konperensi WAY di Yogya pada th 1968, sebagai ketua Dewan Mahasiswa IPD, Gontor; yg dihadiri oleh Sek Jen WAY Asia Pacific, KV Ready yang berasal dari India. Kemudian dlm program WAY community development and Family Planning. Th 1973 Pak Siddik bekerja di badan PBB, UNICEF di New York.

Sempat ditugaskan di UNICEF Kathmandu, Nepal. Saya diundang ke Tribhuvan University, Kathamandu, Nepal, pada acara UNESCO pada bulan Agustus 1978. Kemudian Pak Siddik berkarier di OKI, Jeddah dan selanjutnya di IDB, Jeddah dan terakhir diamanati sebagai Director IDB, Asia Pacific di Kuala Lumpur; sampai pensiun.

Pada th 1970 Pak Siddik diundang ke PBB, New York, dalam konperensi internasional pemuda, sebagai juru bicara delegasi pemuda Indonesia; dalam rangka Ulang tahun PBB yang ke 25. Dalam beberapa pertemuan Pak Siddik menceritakan: “Saya diundang ke peringatan ulang tahun PBB yang ke 25. Kalau saudara Habib ini diundang ke PBB pada ulang tahunnya yang ke 50”.

Saya memang tiga kali resmi diundang ke PBB di New York. Tapi setiap kali ke Amerika, saya sempatkan berkunjung ke PBB. Kecuali pada September 2002. Karena acaranya hanya 5 hari. Banyak persambungan saya dan Pak Siddik dalam kegiatan. Hanya berbeda tahun.

Fathul Wahid (Rektor UII), M. Habib Chirzin (Penulis), dan Almarhum Mohammad Siddik.

Symposium Nasional DDII

Pada kegiatan DDII, symposium nasional yang bertajuk “Optimalisasi Tiga Pilar Da’wah Guna Memperkokoh NKRI Menuju Indonesia Maju yang Diridloi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Saya membersamai Pak Siddik dan Prof. Dr. Ir. Fathul Wahid, Rekror UII.

Symposium ini digelar bersama antara UII dan DDII di Auditorium Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, kampus utama UII di Jalan Kaliurang, Yogyakarta.

Saya diundang oleh Pak Siddik untuk menanggapi presentasi oleh Prof. Dr. Didin Hafiduddin, IPB-UIK, Ketua BKSPPI dan KH Hassan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam, Gontor.

Pada symposium dalam rangka Milad DDII tersebut juga dipresentasikan Best practices dari Dewan Masjid Indonesia, oleh kawan lama Natsir Zubaidi, yang juga anggota badan pembina DDII; Masjid Al Fallah, Surabaya, oleh Ust. Irwinanto, Ketua Dewan Pembina; dan Masjid Jogokaryan Yogyakarta oleh Ust. H. Muhammad Jazir Asp yang sangat inspiratif dan menggugah semangat peserta.

Juga presentasi dari Masjid Kampus oleh sahabat baik saya Prof. Dr. Ir. Hermawan Kresno Dwipa Yana, Salman ITB, Ketua perhimpunan Dakwah Kampus; H. Muhammad Hafidz, MSc, praktisi dakwah kampus oleh PR III UII yang sangat menarik. Dan memberikan harapan yang cerah.

Ketiga pusat pembangunan dan dakwah perlu terus diberdayakan secara kontekatual. Untuk pembinaan kemanusiaan, keilmuan dan peradaban.

Sepuluh Tahun Bersama di IIIT

Selama 10 th terakhir ini saya berdua bersama Pak Siddik diamanahi untuk menjadi country representative IIIT (the International Institute of Islamic Thought) yang berpusat di Washington, DC. Setiap tahun kami berdua menghadiri “annual meeting” East and South East Asia representatives, bersama kawan-2 regional representatives dari Jepang, Korea, China, Hong Kong, Kamboja, Thailand, The Philippines, Brunei, Malaysia dan Singapore.

Selain annual meeting yang biasanya diselenggarakan di Kuala Lumpur dan sekitarnya; Pak Siddik juga diundan annual meeting di Phnompenh, Kamboja dan Istanbul, yang jiga dihadiri oleh Dr. Hisham AlTalib, President IIIT, dan Dr. Ahmad Totonji, mantan Sek Jen IIIT.

Ada kenangan bersama Pak Siddik, di hari terakhir meeting, kami berdua berjalan kaki ke Blue Mosque dan Hagia Sophia, Aya Sofia; yang tidak jauh dari hotel tempat meeting kami. Pak Siddik sempat mengambil foto-foto saya, dan sebaliknya.

Setelah melaksanakan berbagai seminar, workshop, public lecture di berbagai perguruan tinggi dari Acheh, Medan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Palembang, Lampung sd Makassar dan Mataram; kami berdua menginisiasi Regional Inter- University Forum on Islamic Epistemology and Civilizational Studies, di Universitas Andalas (Unand) Padang; yang dipimpin oleh Prof. Musliar Kasim, Mantan Rektor Unand dan Wakil Menteri Diknas. Dan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), yang dipimpin oleh Prof. Ravik Karsidi. Yang bekerja sama dengan UNIDA, Gontor dan UMY.

Dalam melaksanakan program Integration of Knowledge, Curriculum Reform, Text Book Writing, Research dll kami berdua sering bekerja sama dengan IIUM (International Islamic University of Malaysia). Kami pernah membuat workshop untuk Textbook Writing dengan mengundang 14 orang dari 12 PT di Indobesia, selama 3 hari di kampus IIUM.

Kami berdua pernah mendampingi Prof.Dr. Abdul Hamid AbuSulayman, mantan Rektor IIUM menyelenggarakan workshop Textbook Writing untuk para dosen IIUM. Kami bertiga menginap di Rumah dinas Rektor di Bukit Rektor di atas IIUM. Juga meeting dengan Rektor, Prof. Zaleha Kamaruddin dan mantan Rektor , Prof. Kamal Hassan, Prof. Syed Araby Idit.

Bersillaturrahmi dengan Tansri Dato’ Seri Utama Rais Yatim, President IIUM (International Islamic University Malaysia). Juga menjabat sebagai Special Adviser to the Malaysian Government on the socio-cultural matters, with ministerial status….. Dato’ Seri Utama Rais Yatim juga mantan dan pernah menjabat berbagai porto folio dalam pemerintahan Kerajaan Malaysia sebagai Minister of Land and Regional Development (1982-1984), Minister of Information (1984-1986), Minister of Foreign Affairs (1986-1987), Minister in the Prime Minister’s Department – legal portfolio (1999 – 2004), Minister of Culture, Arts and Heritage (2004-2008), Minister of Foreign Affairs (19 Mac 2008 – Mac 2009), Minister of Information, Communication and Heritage (April 2009-2013).

Kami bertiga, Prof. DR. Abdul Hamid AbuSulayman, mantan Rektor IIUM dan Bapak Mohammad Siddik, mantan pejabat IDB Jeddah, melanjutkan kerja sama yang sudah lama terjalin.

Menjelang pendirian kampus UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia), sebagai penghargaan, perhatian dan simpati, Pak Siddik dan saya bersama Prof. Dr. Abdul Hamid AbuSulayman, mantan Rektor IIUM KL, President IIIT, USA; bersillaturrahim dg segenap team pendirian UIII: Prof. Komaruddin Hidayat, Prof. Bahtiar Effendy, Amb Dr. Nazaruddin Nasution, Dr. Alimun Hanif Dkk, (Prof. Jamhari Ma’ruf, Dr. Hendro Prasetyo dll tidak hadir) dan berdiskusi ttg pengembangan kurikulum, rekruitment mahasiswa internasional, pengembangan fasilitas kampus dll di Fak Fishum UIN JKT.

Pertemuan dengan team persiapan pendirian UIII ini kemudian dilanjutkan dg Audiensi dengan Wapres Dr. M. Jusuf Kalla, yang didampingi oleh Prof. Dr. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendis, Kemenag, mewakili Menag; Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Ketua Team pembangunan Intl Islamic University, Indonesia (UIII): Dr. Mohammad Oemar, Kep Sekretariat Wapres; DR. Bambang Widiyanto, Deputy Human Resource Dev dll. Kami bersama Prof. Dr. Abdul Hamid Abu Sulayman, membicarakan tentang rencana kerja sama dll.

Persiapan Pendirian IIFTIHAR di IDB Jeddah

Kenangan yang tak terlupakan, menjelang pendirian IIFTIHAR (the International Islamic Forum on Sciences, Technology and Human Resources Development), bulan Mei 1996; ketika Pak Siddik menjabat sebagai salah seorang direktur di IDB Jeddah. Pada saat itu saya bertiga bersama Bang Imad, Dr. Ir. Imaduddin Abdulrahiem, Mas Jimly, Prof. Jimly Asshuddiqie, diutus oleh Pak Habibie untuk bertemu dengan President IDB, Dr. Ahmad Mohammed Aly di Jeddah.

Juga Sekjen IIIT, Dr. Ahmad Totonji; President Al Manar Dr. Tawfiq al Shawi dan Sek Jen Dr. Ahmad Faried Musthofa; Sek Jen Rabithah al Alam al Islamy Dr . Shaleh Al Obaid dan wakilnya Dr. Hassan Bahafdzallah. Pak Siddik bersama Ustadz Fadhol Arovah dan Dr. Ziyad, dua orang staff IDB asal Indonesia; banyak sekali membantu kami bertiga selama di Jeddah.

Pak Siddik sangat berbaik hati mengajak dua orang staff IDB untuk membahas draft Establishment of IIFTIHAR yang diamanatkan kepada saya untuk membuat draftnya. Document of Establishment ini akan ditanda tangani waktu pendirian IIFTIHAR di kantor IDB dan di dekan Ka’bah di Makkah.

Sebulan setelah itu, pada bulan Juni 1996, Pak Habibie datang ke Jeddah dari Jerman, dan kami rombongan dari ICMI datang dari Jakarta: Bang Imad, Pak Amien Rais, Pak Adi Sasono, Pak Dawam Rahardjo, Pak Watik Pratiknya, Mas Jimly, Mbak Marwah Daud, Mbak Tatat Rahmita Utami.

Setelah acara penanda tanganan naskah pendirian IIFTIHAR di kantor IDB, kami bersama-sama menuju ke Makkah, sudah berpakaian ihram, untuk melakukan umrah. Dan juga penanda tanganan naskah pendirian IIFTIHAR. Jasa Pak Siddik tidak terlupakan pada proses penanda tanganan naskah pendirian IIFTIHAR ini.

Pak Siddik adalah seorang yang tulus dan baik hati.

Pernah dua kali ke tempat tinggal saya di Jalan Mangga, Utan Kayu pada th 2010-2011, Jakarta. Dan dua kali berkunjung ke rumah saya di Jalan Borobudur, Ngrajek, Magelang, 2013-2014 . Dan saya bersama isteri juga pernah bersillaturrahim ke rumahnya di Condet, Jakarta 2010.

Selamat jalan Pak Siddik. Segala jasa, perjuangsn dan pengabdianmu akan selalu kami kenang. Kebaikan hati dan ketulusan senyummu akan kami ingat selalu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here