TAWAKKAL KEPADA ALLAH

1061
Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Oleh: Abdullah Mahmud

Suasana masyarakat dalam menyikapi pendemi COVID-19 ini bervariasi. Banyak orang yang mengeluh karena keadaannya tidak menguntungkan. Di-PHK, nggak bisa dagang, nggak bisa ngajar, dan segudang masalah akibat PSBB.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau lockdown total; 24 jam di rumah. Survei terbaru sekitar 67% dari total penduduk yang terdampak.

Ada juga yang lebih beruntung karena masih punya simpanan uang atau bisa jual barang. Lebih sedih lagi yang nggak punya apa-apa sehingga terpaksa harus berhutang. Yang lebih parah lagi sampai putus asa dan bunuh diri.

PBB menyebutkan bangsa di dunia yang paling banyak bunuh dirinya itu; Swedia, Jepang, Amerika, Perancis dan Korea Selatan. Semua negara maju. Kenapa? Krisis rohani.

Menurut survei itu, yang merasa diuntungkan dengan keadaan ini hanya 5%. Dalam situasi seperti ini, ayo kita belajar tawakkal kepada Allah. Karena tawakkal itu membawa ketenangan.

Jadi manusia itu butuh dua hal:

Pertama, inner locus of control yakni dia butuh dirinya yang mengontrol agar seimbang dan semua urusannya baik. Ini mutlak usaha manusia sesuai dengan harapan dan kenyataannya.

Kedua, outer locus of control yakni dia butuh gantungan di luar dirinya.

Siapakah gantungan yang maha dahsyat tidak punya kelemahan dan serba mampu, Dialah Allah subhanahu wa ta’ala Sang Maha Pencipta, Pemilik, dan Pengatur. Makanya manusia harus berusaha maksimal dan bergantung kepada Allah,

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“..Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal,” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam mendakwahkan dan menasehati kaumnya,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).

Ketika beliau diancam dibakar dengan api, tawakkal kepada Allah sambil mengucapkan; ‘Hasbunallah wa Nikmal Wakiil’, cukup Allah sebagai pelindungku.

Begitu pula Nabi Muhammad ﷺ ketika mendakwahi kaumnya justru diterjunkan pasukan kuffar untuk menyerang beliau dan pengikutnya,

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung,” (QS. Ali ‘Imran [3]: 173).

Begitu riwayat Imam Bukhari.

Orang beriman selalu diperintahkan untuk tawakkal kepada Allah,

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman,” (QS. Al-Maaidah [5]: 23).

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ اِنْ نَّحْنُ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَمُنُّ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَمَا كَانَ لَنَآ اَنْ نَّأْتِيَكُمْ بِسُلْطٰنٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ (11) وَمَا لَنَآ اَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنَا سُبُلَنَاۗ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ (12)

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Tidak pantas bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah saja hendaknya orang yang beriman bertawakal. Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri,” (QS. Ibrahim [14]: 11-12).

Maksudnya? Ya berusaha maksimal dan berdoa. Nabi ﷺ berpesan:

« إِنّ اللَّهَ يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ »

“Sesungguhnya Allah cinta, bila seorang muslim itu melakukan pekerjaannya, perfeksionis,” (HR. Abu Ya’la dan Al-Hakim. Shahih).

Bahasa orang sekarang profesional dan zero defects (kesalahan nol persen). Begitu pula seorang mukmin ketika menghadapi COVID-19 ini, dia berusaha melakukan prosedur kesehatan yang dianjurkan oleh para dokter semaksimal mungkin, terus tawakkal kepada Allah. Begitu pula menghadapi seluk beluk kehidupan.

Karena itu tuan Hasan Al-Bashri, ulama tabi’in, dilihat khalayak ramai, orang yang sangat tenang. Beliau ditanya apa rahasia yang menyebabkan tuan tenang? Beliau menjawab: ” Karena saya yakin rezekiku tidak akan jatuh ke tangan orang lain.” Subhanallah.

Setiap orang sudah ada takdirnya. Rezekinya, jodohnya, kehidupannya, matinya, dst. Buat apa resah? Selama qalbu ini yakin sama Allah, aman. Dijamin Allah setiap masalah ada jalan keluar, dicukupkan, diberi kemudahan, diampunkan dosa-dosanya.

… (وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا (2

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,”

…(وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3

“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu,”

… (وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا (4

“…Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya,”

… (وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا (5

“…barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya,” (QS. Ath-Thalaq, 65: 2-5).

Sahl bin Abdullah At-Tusturi berkata: “Semua ilmu masuk bab ibadah. Ibadah masuk bab wara’ (menjaga untuk tidak melanggar Allah). Wara’ itu masuk bab zuhud (menggunakan dunia untuk akhirat) dan zuhud masuk bab tawakkal.”

Makanya, melakukan sebab dulu baru tawakkal,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal,” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

dan setelah tawakkal pasrah,

فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢبِالْعِبَادِ

“Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir [40]: 44).

Karena itu, kata Bisyr Al-Haafi, kalau orang itu bertawakkal kepada Allah niscaya dia akan ridha dengan ketetapan Allah. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah pasti Allah akan cukupkan.

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya,” (QS. Ath-Thalaq [65]: 3).

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here