Tapa Ngeli, Cara Berdakwah Sunan Muria

25441
Gunung Muria (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Tidak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Putra Sunan Kalijaga ini meniru cara berdakwah ayahnya yang moderat terhadap berbagai kebudayaan Jawa.

Sunan Muria yang mempunyai nama asli Raden Umar Said tak lantas mengharamkan berbagai tradisi kuno seperti adat kenduri pada hari-hari tertentu kematian anggota keluarga.

Semasa berdakwah, Sunan Muria lebih memilih tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota. Tempat tinggal beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo. Di sana, Sunan Muria banyak berinteraksi dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sunan muria menyebarkan agama Islam kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Metode yang digunakan beliau dalam menyebarkan agama Islam yakni dengan tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah.

Beliau juga yang telah menciptakan berbagai tembang jawa, yang mana salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti. Tempat dakwah yang mulanya berada di sekitar gunung Muria, kemudian diperluas meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung Muria.

Lewat tembang-tembang itulah ia mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ”menghanyutkan diri” dalam masyarakat.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Dengan gayanya yang moderat, mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya. Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau shalawat.

Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung Muria yang tingginya sekitar 750 meter.

Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here