Tantangan MUI Mendatang adalah Bagaimana Ide Besarnya Diterima Banyak Pihak

97
Ketua Umum MUI KH. Ma'ruf Amin saat mengisi sesi ramah tamah, Rabu (25/11/2020) malam di Hotel Sultan, Jakarta.

Jakarta, Muslim Obsession – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki dua ide besar untuk menjaga umat yang kini sudah disahkan secara nasional. Dua ide besar tersebut adalah sertifikasi halal dan ekonomi syariah yang sudah menjadi sistem nasional.

Keduanya merupakan pencapaian besar, apalagi dengan status Indonesia yang sedari awal disepakati bukan negara agama. Terwujudnya dua ide besar itu menandakan bahwa kinerja MUI diterima, meski tidak semua, oleh banyak pihak.

“Bagaimana ide-ide besar baru seperti itu bisa diterima menjadi tantangan MUI mendatang. Pasca acara Pembukaan Munas MUI 2020, MUI memang sudah harus merancang ide besar lain yang dituangkan dalam rekomendasi, taushiyah, maupun program,” ujar Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin saat sesi ramah tamah dengan pimpinan harian MUI Pusat dan ketua MUI Provinsi se-Indonesia, Rabu (25/11/2020) di Hotel Sultan, Jakarta.

Kiai Ma’ruf berharap pengurus yang akan datang bisa menjalankan ide-ide besar hasil keputusan bersama tersebut dan mengusahakan diterima banyak kalangan. (Baca juga: Tugas MUI Saat Ini Meneruskan Mata Rantai Kebaikan Pengurus Terdahulu)

Kiat supaya ide besar itu bisa diterima bahkan sampai melembaga seperti sertifikasi halal maupun ekonomi syariah, jelas Kiai Ma’ruf, perlu ada kesadaran untuk berkomunikasi yang baik dan strategis.

“Mari kita membiasakan, bukan sebuah keinginan kita bicarakan sendiri lalu kita gaungkan sendiri, tapi kita diskusikan, wasyaawirhum fil amri, kalau sudah musyawarah menjadi suatu keputusan, faida azamta fatawakkal ‘ala Allah, kita terus perjuangkan bagaimana supaya kita berhasil,” paparnya.

Dalam konteks Indonesia, Kiai Ma’ruf melanjutkan, sistem yang berlaku adalah kesepakatan nasional. Maka MUI harus berjalan di atas kesepakatan itu supaya ide-ide besarnya terlaksana.

“Maka saya sering mengatakan, kita Muslim Indonesia itu, kita Muslim kaaffah ma’al mitsaq. Kita Muslim yang kafah di ibadah, muamalah dan akhlak, itu namanya kafah. Namun kita ada kesepakatan nasional yang harus kita jalani. Di sinilah spesifikasi khususnya kehidupan kita umat Islam di Indonesia,” ungkapnya.

“Prinsip seperti itu yang terus kita bangun dan itu merupakan al-baqiyatus sholihat, jadi itu dalam rangka bagaimana syariat bisa diterapkan dalam suatu kehidupan melalui suatu upaya dan bagaimana orang bisa menerima dengan baik, artinya orang mentafadholkan, apa yang kita gerakkan, mereka memberikan welcome,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here