Tangisan Gus Baha di Hadapan KH. Masbuhin Faqih

887
KH. Masbuhin Faqih dan Gus Baha saat berebut saling cium tangan. (Foto: Al-Fikrah)

Muslim Obsession – Air mata Gus Baha (Rais Syuriah PBNU) pecah saat berpamitan dengan KH. Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik, usai memberi kuliah umum di hadapan para mahasiswa INKAFA (Institut Keislaman Abdullah Faqih) pada Ahad, (19/1/ 2020).

Diwartakan @nahdlatululama, Selasa (21/1/2020), suasana haru tiba-tiba hadir di ruangan ndalem Kiai Masbuhin saat Gus Baha pamitan pada sosok kiai yang pernah menjadi teman akrab ayahandanya.

Tentu bukan hanya itu, keharuan itu juga disebabkan sikap tawadhu Kiai Masbuhin yang tiba-tiba membungkukkan badannya untuk bisa mencium tangan Gus Baha, hingga terabadikan dalam kamera forografer; keduanya saling berebut cium tangan.

Gus Baha menggandeng tangan KH. Masbuhin Faqih.

Kiai Masbuhin Faqih memang dikenal sebagai kiai yang sangat tawadhu’. Dilansir dari NU, beliau merupakanb salah seorang kiai yang meletakkan tawadhu’ di tempat yang amat tinggi. Walaupun merupakan kiai besar dengan jumlah santri dan alumni hingga puluhan ribu, namun beliau tak jumawa.

Rasa hormat dan takdim pada guru-gurunya tetap dijunjungnya tinggi-tinggi. Sifat tawadhunya tampak saat disowani oleh Kiai Muda Dr Afifuddin Dimyati, pengasuh pondok pesantren Hidayatul Quran, Rejoso, Peterongan, Jombang pada Ahad (7/10) pagi.

Saat keduanya bersalaman, Kiai Masbuhin yang 32 tahun lebih tua berusaha mencium tangan sang tamu, namun tak berhasil. Kiai Masbuhin lantas mengatakan “Kulo (saya) yang seharusnya mencium tangan panjenengan,” sambil mendekat berusaha meraih tangan sang tamu, namun ditolak secara halus.

Gus Afif memang bukan guru yang pernah memberi pelajaran pada Kiai Masbuhin. Namun nasab Gus Afif sampai pada guru-guru Kiai Masbuchin. Dari jalur ayah, Gus Afif adalah putra Kiai Dimyati bin Kiai Romli Attamimi. Kiai Romli Attamimi sendiri merupakan guru dari Kiai Usman Al-Ishaqi, yang tak lain adalah guru Kiai Masbuhin.

Sementara di sisi ibu, Gus Afif merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid Langitan yang juga merupakan guru Kiai Masbuhin Faqih. Silsilah itulah yang membuat Kiai Masbuhin begitu menghormati Gus Afif seperti menghormati gurunya sendiri.

Sebenarnya cerita tingginya sifat tawadhu’ Kiai Masbuhin pada gurunya telah banyak berkembang. Alkisah, pernah pada suatu hari, seorang santri laki-laki dari Kiai Masbuhin meminta sang kiai untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri.

Pada waktu yang ditetapkan, berangkatlah sang kiai menuju rumah sang gadis yang akan dilamarkan. Akan tetapi sesampainya di lokasi, Kiai Masbuhin batal melamarkan santrinya, setelah mengetahui bahwa sang gadis merupakan alumni pondok pesantren Langitan, Jawa Timur, tempat beliau menimba ilmu selama belasan tahun. Konon, Kiai Masbuhin ‘tak berani’ melamarkan karena takut su’ul adab pada gurunya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here