Tangani Pasien Corona, Bagaimana Cara Shalat bagi Tenaga Medis?

466
Tenaga medis melaksanakan shalat di tengah kesibukan menangani pasien corona.

Muslim Obsession – Upaya tenaga medis untuk menangani pasien yang terjangkit virus Corona patut diapresiasi. Mereka meraih pahala dengan cara yang tak semua orang bisa.

Namun di sisi lain, kewajiban tenaga medis yang beragama Islam untuk menunaikan shalat tetap mesti dilakukan.

Lalu, bagaimana cara menunaikan shalat? Apakah dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) diperbolehkan?

Mengutip Rumaysho, shalat tetap wajib dilakukan oleh tenaga medis yang menangani pasien Corona meski harus mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Hanya saja mereka mendapatkan rokhshah atau keringanan dalam pelaksanaan shalat.

Shalatnya bisa dengan menjamak dua shalat sekaligus (Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya). Jika tidak bisa berwudhu dan tayammum dalam kondisi seperti ini, shalat tetap dilakukan. Di antara bentuk kasih sayang Allah adalah kita tidak dibebani di luar kemampuan kita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata, “Bila luka itu tidak berhenti mengucurkan darah, seperti kasusnya Umar bin Al-Khatthab yang tertusuk saat shalat, maka orang yang seperti ini keadaannya tetaplah harus shalat berdasarkan kesepakatan para ulama. Terlepas dari apakah wudhunya dianggap batal ataukah tidak, dan terlepas dari apakah darah yang mengucur itu banyak ataukah sedikit.

Dalilnya ialah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 (لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إلَّا وُسْعَهَا) yang artinya: “Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” Demikian pula firman Allah dalam QS. At-Taghabun ayat 16 (فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ) yang artinya: “Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”

Dan juga sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika kalian kuperintahkan melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian,” (HR. Bukhari, no. 7288).

Setiap kewajiban shalat yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba, maka kewajiban itu gugur darinya. Oleh karenanya, ia tidak diperbolehkan menunda pelaksanaan shalat hingga keluar dari waktunya, namun ia tetap harus shalat pada waktunya semampunya. (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:223).

Melihat dasar di atas, maka shalat tetap dilakukan pada waktunya masing-masing dalam keadaan bersuci dan bersih dari najis.

Jika tidak bisa melakukan seperti di atas, maka shalat tersebut dijamak (shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya digabungkan) baik dengan cara jamak takdim (didahulukan pada waktu shalat pertama) atau jamak takhir (diundur pada waktu shalat kedua), tanpa diqashar.

Jika akhirnya waktu shalat mau habis, maka shalat tetap dilakukan pada waktunya dalam keadaan apa pun meskipun dalam keadaan tidak bisa berwudhu dan tidak bisa bertayammum, walaupun pula dalam keadaan memakai APD yang dalam keadaan najis atau dalam keadaan memakai pampers yang ada najis.

Namun kalau masih bisa shalat tersebut dijamak, maka pilihannya tetap dijamak walau dalam keadaan tidak memenuhi syarat bersuci.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here