Taliban Wajibkan Mahasiswi Pakai Cadar, Ruang Kelas Dipisah dengan Pria

62

Jakarta, Muslim Obsession – Taliban mewajibkan perempuan yang kuliah wajib menggenakan cadar atau niqab. Taliban juga menetapkan adanya pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin, atau setidaknya dibagi dengan tirai di ruangan.

Dalam dokumen panjang yang dikeluarkan oleh otoritas pendidikan Taliban, juga memerintahkan agar siswa perempuan hanya diajar oleh perempuan lain. Tetapi jika itu tidak memungkinkan, maka “laki-laki tua” yang berkarakter baik bisa mengisi.

Dekret itu berlaku untuk perguruan tinggi dan universitas swasta, yang telah menjamur sejak pemerintahan pertama Taliban berakhir pada 2001.

Selama periode pemerintahan pertama Taliban itu, anak perempuan dan sebagian besar perempuan dikeluarkan dari pendidikan, karena aturan tentang kelas sesama jenis dan desakan agar mereka harus ditemani oleh kerabat laki-laki setiap kali meninggalkan rumah.

Tidak ada perintah bagi wanita untuk mengenakan burqa dalam peraturan baru yang dikeluarkan Sabtu malam (4/9/2021). Tetapi niqab secara efektif menutupi sebagian besar wajah, hanya menyisakan mata yang terbuka.

Dalam beberapa tahun terakhir, burqa dan niqab sebagian besar telah menghilang dari jalan-jalan Kabul, tetapi terlihat lebih sering di kota-kota kecil.

Keputusan itu muncul saat universitas swasta bersiap untuk dibuka pada Senin (6/9/2021).
“Universitas diharuskan merekrut guru perempuan untuk siswa perempuan berdasarkan fasilitas mereka,” kata keputusan itu melansir AFP.

Aturan baru Taliban juga mengharuskan laki-laki dan perempuan harus menggunakan pintu masuk dan keluar yang terpisah.

Jika tidak mungkin mempekerjakan guru perempuan, maka perguruan tinggi “harus mencoba mempekerjakan guru laki-laki tua yang memiliki catatan perilaku yang baik”.

Perempuan Afghanistan sekarang juga harus belajar secara terpisah dari laki-laki. Mereka juga akan mengakhiri pelajaran mereka lima menit lebih awal dari laki-laki, untuk mencegah mereka berbaur di luar.

Mereka kemudian harus tinggal di ruang tunggu sampai rekan pria mereka meninggalkan gedung, menurut dekrit yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan tinggi Taliban.

“Praktiknya, ini adalah rencana yang sulit – kami tidak memiliki cukup instruktur atau kelas perempuan untuk memisahkan para gadis,” kata seorang profesor universitas, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

“Tetapi fakta bahwa mereka mengizinkan anak perempuan bersekolah dan universitas adalah langkah positif yang besar,” katanya kepada AFP. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here