Tak Semua Habib Keturunan Rasul, Lalu Apa Beda Habib, Syarif dan Sayyid?

3614

Jakarta, Muslim Obsession – Istilah habib selalu ramai dan menjadi pembicaraan banyak orang. Ada yang menyebut habib adalah sebutan kepada mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah Saw. Namun ada juga masih meragukan keaslian Habib sebagai keturunan Rasul.

Pakar Hukum dan Tata Negara, yang juga kerap memberikan ceramah keagamaan Mahfud MD misalnya menyebut banyak pihak tidak paham arti dari ‘habib”. Menurutnya, habib adalah sebutan hormat dan sayang kepada seseorang.

Mahfud MD menegaskan, tidak semua yang dipanggil habib adalah keturunan nabi..Ia menambahkan, keturunan nabi, sebutannya ada dua, yakni syarif/syarifah dan sayyid/sayyidah.

Syarif/syarifah adalah keturunan Nabi Muhammad dari jalur Hasan. Sedangkan sayyid/sayyidah adalah keturunan Nabi Muhammad dari jalur Husein. Hasan dan Husein adalah anak dari Ali bin Abu Tholib yang menikah dengan putri Nabi Muhammad, Fatimah.

Lebih lanjut, Mahfud MD mengatakan ada banyak pihak yang ‘sok tahu’ tentang arti habib dan menyalahkan orang yang tahu arti dari habib. Menurut Mahfud, habib artinya adalah ‘yang terhormat’ atau ‘tuan’. Mahfud sendiri mengaku pernah dipanggil pula dengan sebutan habib.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Umar bin Smith juga ikut menjelaskan, para habaib ini kebanyakan adalah ulama dan auliya yang berkepribadian luhur dan menjadi tokoh rujukan keilmuan.

Sebutan ‘Habib’ yang artinya dicintai kepada mereka karena para habaib ini memang begitu dicintai para muridnya dan juga masyarakat sekitarnya.

“Jadi bukan beliau-beliau itu yang menamakan dirinya habib untuk diri mereka sendiri, tetapi lingkungan yang mencintainya. Khusus di Indonesia panggilan itu menjadi populer dari generasi ke generasi sampai kini. Hanya saja terjadi pergeseran makna,” kata dia.

Sering kali, kata dia, panggilan Habib disematkan kepada seorang sayyid (jika perempuan syarifah) dan menjadi panggilan keseharian, bukan lagi untuk panggilan ulama yang berilmu dan menjadi tokoh yang dicintai, dan berakhlak mulia. Intinya terjadi degradasi makna.

Sehingga, mungkin ada seorang yang berasal dari keturunan tersebut di atas, tetapi bukan ahli ilmu atau tokoh yang dituakan atau dihormati, berarti dia seorang sayyid, dan belum sampai pada tingkatan seorang Habib yang betul-betul dicintai masyarakat.

“Sedangkan sebutan syarif dari keturunan Sayyidina Hasan sampai saat ini populer di negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara dan belahan dunia yang lain. Kebenaran silsilah dari keturunan ini dicatat di lembaga-lembaga nasab yang ada di banyak negara,” tuturnya.

Adapun di Indonesia kata Zen, silsilah nasab para habaib itu bisa dilihat di Al-Maktab Addaimi, Rabithah Alawiyah.

“Belakangan, beberapa pihak yang ingin membuktikan secara ilmiah biasanya melakukan tes DNA di luar negeri seperti Jerman dan Italia, yang menghasilkan banyak data tentang jalur kesamaan etnik dari keturunan di atas yang terbukti sama, walaupun berasal dari berbagai negara,” tuntasnya.

Hal senada disampaikan da’i muda NU, Habib Ahmad bin Hasan Alaydrus. Menurutnya, sejarah mencatat, bahwa satu-satunya putri Nabi Muhammad Saw yang memiliki keturunan adalah Sayyidah Fatimah Azzahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan keduanya, lahirlah dua orang putera yang bernama Hasan dan Husein.

“Keturunan Hasan dan Husein inilah yang hingga saat ini masih membawa trah keturunan Fatimah binti Muhammad SAW dan disebut sebagai dzurriyyah (anak keturunan) Nabi Muhammad SAW atau yang sering juga disebut dengan istilah Bani `Alawiyyin (nisbat dari kata Ali) yang berarti keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib,” terang Ahmad Alaydrus.

Pengasuh Majelis Taklim Al-Murtadha ini menjelaskan, beberapa kalangan muslim sering juga menggunakan istilah sayyid (tuan) dan syarif (yang mulia) sebagai gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang masih memiliki garis keturunan Rasulullah Saw melalui cucu beliau Hasan dan Husein. Sedangkan untuk keturunan yang wanita mendapat gelar sayyidah atau syarifah.

“Sebutan sayyid/sayyidah sering digunakan oleh keturunan Husein bin Ali sedangkan syarif/syarifah disematkan bagi keturunan Hasan bin Ali. Menurut catatan sejarah, di Indonesia, para keturunan Nabi Muhammad Saw. ini banyak berasal dari Husein bin Ali, oleh karenanya banyak yang disebut dengan sayyid,” papar Ahmad.

Sementara untuk keturunan Hasan bin Ali lanjut Ahmad, kebanyakan menjadi raja-raja seperti di Maroko, Jordania dan kawasan Timur Tengah lainnya. Mereka sering disebut Syarif.

Untuk menjaga kemurnian garis keturunan nabi yang tersebar di belahan dunia dibentuklah sebuah organisasi dari kalangan Bani Alawiyyin yang memiliki tugas mencatat para dzurriyyah, seperti halnya lembaga Rabithah Alawiyyah, di mana untuk wilayah Indonesia saat ini diketuai oleh Habib Zen Umar bin Smith.

“Terdapat fenomena sosial yang tersebar luas di kalangan masyarakat selama ini terkait penyematan kata habib (habaib) kepada setiap dzurriyyah nabi, baik sayyid atau syarif. Biasanya, sebagian masyarakat menyebut para dzurriyyah yang masih anak-anak dengan sebutan yik, syarif, sayyid, dan akan memberikan gelar ‘habib’ kepada mereka pada saat usianya menginjak dewasa,” tuturnya. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here