Tafsir Perdebatan Soal Kemana Hilangnya Nabi Isa

353

Jakarta, Muslim Obsession – Prof. Dr. K. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag, seorang pengajar dan ulama Indonesia dari Muhammadiyah ini menulis dengan baik tentang perdebatan kemana sebenarnya Nabi Isa? Apakah dia sudah meninggal atau masih hidup? Ia menulis artikelnya di surat kabar Suara Muhammadiyah.

Pertama ia menyebut dalam Surat An-Nisa ayat 157 yang sudah dikutip sebelumnya Allah SWT menegaskan bahwa mereka tidak membunuh dan juga tidak menyalib Nabi Isa AS. Yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan wajahnya dengan Isa yaitu Yudas Iskariot muridnya yang berkhianat.

Dalam Injil Barnabas—injil yang tidak diakui oleh gereja—sebagaimana dikutip oleh Sayyid Qutub, diceritakan bahwa tatkala Yudas Iskariot memasuki kamar tempat Isa menginap, si pengkhianat itu tidak menemukan Isa di dalam kamarnya.

Lalu Yudas masuk ke kamar 11 murid-murid yang lain menanyakan kemana sang guru. 11 murid-murid yang lain itu terheran-heran kenapa gurunya mencari-cari Isa padahal dirinya sendirilah Isa tersebut.

Yudas tidak sadar bahwa Allah SWT telah merubah wajah dan caranya bicara hingga serupa dengan Isa. Murid-muridnya yang sebelas orang itu mengatakan:

“Tuanku, engkaulah guru kami. Apakah engkau telah melupakan kami sekarang? Akhirnya Yudaslah yang ditangkap oleh tentara Herodes. Lalu kemana Isa?

Allah Mengangkat Isa ke sisi-Nya

Tatkala tentara Herodes datang ke rumah tempat persembunyiannya, Isa mendengar kehadiran orang banyak, lalu NabI Isa menjauh dari kamar tempatnya bermalam dengan penuh ketakutan. Pada saat itulah Allah SWT memerintahkan kepada malaikat untuk mengangkat Isa AS sebagaimana yang dinyatakan pada ayat berikutnya. Allah SWT berfirman:

بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا

“ Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. An-Nisa’ 4: 158)

Kemana Isa diangkat? Dalam Surat Ali Imran 55 disebutkan bahwa Isa diangkat ke sisi Tuhan. Allah SWT berfirman:

إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَىٰٓ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

“(ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (Q. S. Ali Imran 3: 55)

Yunuhar mengatakan para ulama berbeda pendapat tentang maksud kalimat “mengangkat kamu kepada-Ku”.

Menurut Sya’rawi, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (2: 624) Allah SWT mengangkat Isa secara sempurna, kemudian membawa ruh jasad beliau ke suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh orang-orang kafir, yaitu di sisi-Nya.

Para ulama memahami di sisi Nya itu yaitu ke langit. Tidak heran kata Sya’rawi, bahwa akhir perjalanan hidup Nabi Isa AS di dunia ini tidak seperti perjalanan hidup manusia lain pada umumnya, karena memang awal kehadirannya di pentas bumipun berbeda dengan yang lain. Isa lahir tampa ayah.

Sebagian besar ulama memahami bahwa Allah SWT mengangkat Isa secara hakiki, ruh dan jasad, ke langit seperti yang digambarkan oleh Syarawi di atas. Hanya sebagian kecil yang mengatakan bahwa Isa selamat dari penyergapan tentara Herodes, lalu pergi ke suatu negeri yang tidak diketahui oleh musuh-musuhnya dan menetap di sana sampai meninggal dunia. Setelah meninggal, ruh Isa diangkat oleh Allah SWT ke tempat yang tinggi di sisi-Nya.

Penafsiran yang kedua ini, kata Yunuhar boleh jadi karena kata wafat hanya dipahami dalam arti mati, padahal wafat punya arti lain. Sya’rawi menjelaskan dalam Tafsirnya (3:1500-5) bahwa sering orang mengambil makna dari suatu kata seperti yang banyak digunakan tapi melupakan makna lain dari kata tersebut. Misalnya kata tuwuffiya atau wafat sering diartikan mati saja, padahal ada makna lain yaitu tidur seperti dalam firman Allah berikut ini:

وَهُوَ ٱلَّذِي يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيۡلِ وَيَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُم بِٱلنَّهَارِ ثُمَّ يَبۡعَثُكُمۡ فِيهِ لِيُقۡضَىٰٓ أَجَلٞ مُّسَمّٗىۖ ثُمَّ إِلَيۡهِ مَرۡجِعُكُمۡ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (Q. S. Al-An’am 6: 60)

Jelas dalam ayat diatas yatawaffakum bukan berarti mematikan kamu tapi menidurkan kamu. Demikian juga dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّىۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Az-Zumar 39:42)

Dalam catatan kaki nomor 1313 Al-Qur’an dan Terjemahnya dijelaskan bahwa orang-orang yang mati itu ruhnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

“Jadi kalimat Inni munawaffika pada Surat Ali Imran 55 tidak harus dipahami Allah SWT mematikan Isa, tapi menidurkannya. Setelah itu baru diangkat ke sisi-Nya.”

Ada yang mengatakan, tidak masuk akal, bagaimana Isa bisa diangkat ke langit lengkap dengan jasad dan rohnya sekalian. Apakah Isa dapat bertahan hidup di langit?

Untuk orang-orang yang berpikir seperti itu Sya’rawi menjawab, Anda percaya dengan penciptaan Isa tanpa bapak, tetapi kenapa tidak percaya kalau Isa diangkat ke langit? Padahal kedua-duanya sama-sama hal yang luar biasa, tidak sesuai kelaziman.

Jika kalimat Inni munawaffika dipahami dengan mematikan, maka sesuai urutan dalam ayat Isa dimatikan dulu baru diangkat ke langit. Lagi menurut Sya’rawi, waw dalam ayat hanya untuk menggabungkan dua peristiwa bukan mengurutkannya.

Isa diangkat dulu baru kemudian dimatikan jika sudah sampai ajalnya. Dalam gaya bahasa Al-Qur’an hal itu tidak asing, tidak semua waw berarti untuk mengurutkan seperti dalam ayat berikut:

فَكَيۡفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ

“Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (Q. S. Al-Qamar 54: 16)

Dalam ayat di atas, azab lebih dulu disebutkan dari pada ancaman, padahal yang terjadi ancaman dulu baru azab. Hal demikian bisa saja karena waw di sana bukan lit-tartib (bukan untuk mengurutkan).

Akan lebih jelas lagi jika kita membaca hadits-hadits Nabi yang sudah sampai ke tingkat mutawatir bahwa pada akhir zaman nanti Nabi Isa AS akan turun ke bumi. Dengan demikian urutannya adalah Allah SWT mengangkat Isa AS ke sisi-Nya, kemudian menurunkannya pada akhir zaman, lalu kemudian mematikannya.

“Diskusi tentang hal ini dapat dibaca dalam buku-buku Aqidah terutama bagian tanda-tanda besar kiamat sudah dekat. Untuk kepentingan Kisah Nabi Isa AS penulis rasa cukup sekian,” jelasanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here