Syekh Siti Jenar: Jangan Suka Mencuri Shalat

1645

Jakarta, Muslim Obsession – Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang sering kali dicap oleh kalangan masyarakat sebagai seorang Wali Allah yang sesat karena ajaran sufinya yang dikenal dengan Manunggaling Kawula Gusti, atau Allah menyatu dalam dirinya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam ajaran Syekh Siti Jenar, karena pada hakikatnya ia meyakini seluruh alam semesta ini termasuk manusia itu tidak ada, karena yang ada, dan yang paling sejati itu hanya Allah. Ketika semua tidak ada, maka dirinya menyatu dengan Tuhan, yang ada hanya Allah.

Dr. Fahruddin Faiz, Dosen Filsafat dan Tasawuf, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam sebuah kajiannya sering mengatakan, ajaran Syekh Siti Jenar dalam beribadah lebih menekankan hakikat, dan makrifat. Ia berguru langsung dengan ulama sufi di Irak, Al Halajj.

Hanya saja kata Fahruddin, cara berdakwah Syekh Siti Jenar terlalu cepat, tidak bisa menyesuaikan dengan karakter dan pemahaman masyarakat Jawa pada waktu itu, yang mungkin belum bisa memahami sepenuhnya ilmu hakikat dan makrifat. Padahal kata dia, ilmu hakikat penting sekali dalam ibadah.

Dalam sebuah ceramahnya, Fahruddin menjelaskan panjang lebar tentang ilmu kebatinan yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Dalam ibadah, misalnya, ia melihat shalat. Siti Jenar selalu menekankan bahwa dalam beribadah jangan berhenti di syariat. Karena jika hanya di syariat, maka shalat hanya sebatas gerakan fisik, layaknya olahraga.

“Kalau kata Syekh Siti Jenar kita shalat itu sering kali hanya olahraga, itu yang dimaksud menyembah kekosongan, kesunyian, tidak ada apa-apanya. Ituloh yang disembah siapa, Dia (Allah) siapa nggak paham,” ujar Fahrudin dalam kajian tasawufnya yang dikutip Muslim Obsession di akun youtube Nasihat ID, Sabtu (20/6/2020).

Shalat tanpa hakikat itu kata Syekh Siti Jenar, hanya menyembah kekosongan. Ia mengibaratkan seperti bambu, kelihatan dari luar kuat dan kokoh, tapi dalamnya kosong, tidak ada apa-apanya, atau seperti batang kangkung, kosong tidak ada isi, hampa.

“Shalat tanpa memahami hakikatnya seperti menyembah bumbung, hatinya kayu, batang kangkung, kosong mlompong, hampa dampa, kolong angin,” tulis Siti Jenar dalam buku Serat Siti Jenar yang dibacakan Fahruddin.

“Itu yang bahasanya Ki Lonthang (Muridnya Syekh Siti Jenar) disebut kekosongan. Jadi berapa persen Allah hadir dalam setiap shalat kita?” tutur Fahruddin.

“Kalau guruku kata Ki Lonthang, setiap detik dalam hidupnya adalah shalat, ingat Allah,” tambah Fahruddin

Mencuri Shalat

Dalam Serat Siti Jenar, disebut bahwa setiap ibadah jangan berhenti di syariat. Syariat hanya wadah untuk bisa naik lebih tinggi yang puncaknya adalah bertemu dengan Allah. Niatkan semua ibadah hanya karena dan untuk Allah, bukan karena ingin yang lain, karena itu seperti mencuri ibadah.

“Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati pada seseorang, kadang-kadang menginginkan kedunian yang banyak, lain dari dzat Allah yang bersama diriku,” tulis Siti Jenar.

Fahrudin menguraikan pemikiran Siti Jenar bahwa semua ibadah itu adalah perintah Allah, maka semua itu harus dilakukan atas dasar Demi Allah, karena Allah, lillah. Tapi umumnya manusia, beribadah atau shalat karena dasar pamrih, ingin dapat rezeki yang banyak yang sifatnya kedunian.

“Ini yang disebut mencuri shalat. Shalatnya karena pamrih, bukan karena Allah, bukan karena dasar kecintaan kepada Allah,” ucap Fahruddin.

“Barang siapa yang shalat Isya dan Subuh berjamaah tanpa putus maka…… Rezekinya akan lancar.  Wah terus kita Isya dan Subuh tanpa putus ngincernya apa? Rezeki lancar,” lanjut Fahruddin disambut tawa para jamaah.

“Harusnya ibadah itu niatnya lillah, tetap karena Allah, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” jelas Fahruddin.

Kalau dikomparisikan dengan ayat Al-Quran, Fahruddin mengambarkan orang yang ibadahnya niatnya bukan karena Allah maka seperti dijelaskan dalam surat Al-Ma’un.

. فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

fa wailul lil muṣalliin

Artinya: Maka celakalah orang yang shalat,
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

alladziina hum ‘an ṣalaatihim saahụn

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

alladziina hum yuraaụn

Artinya: yang berbuat riya

“Jadi semua yang diomongkan Siti Jenar, ini kan karena banyak yang mengkritik, dianggpnya Siti Jenar ngarang nggak ngerti syariat, dan nggak pernah ngaji. Nggak mungkin kalau diliat dari silsilahnya beliau masih keturunan Nabi,” tutupnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here