Syekh Ali Jaber: Merasa Diri Paling Benar dan yang Lain Sesat, Itu Bahaya!

174

Jakarta, Muslim Obsession – Syekh Ali Jaber mengatakan, dalam setiap dakwahnya keliling Indonesia tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk bersatu. Tidak bercerai berai, memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mau menerima perbedaan.

Ia melihat Indonesia sangat multikultural, berbeda jauh dengan wilayah Arab, Timur Tengah. Namun perbedaan di Indonesia bisa disatukan melalui wadah Pancasila. Perbedaan di Indonesia kata dia, bukan hanya ditataran budaya dan bahasa, tapi juga pemahaman tentang agama.

Di tengah banyak perbedaan itu, Syekh Ali Jaber mengajak masyarakat agar tetap bersatu. Perbedaan pendapat tidak boleh dijadikan alasan untuk bercerai berai. “Ayuk kita membangun Indonesia bersama, menjaga NKRI kita, menjaga persatuan kita, menjaga kebersamaan kita,” ujar Syekh dalam sebuah ceramahmya di media sosial, dikutip Muslim Obsession, Selasa (17/11).

“Ada perbedaan ada. Apa yang saya sampaikan tidak semua kalian terima. Boleh itu hakmu. Beda pandangan, beda pikiran, beda otak. Saya tidak bisa memaksa kalian untuk menerima apa yang saya sampaikan. Tapi kita harus saling menghormati, meski ada perbedaan di antara kita,” tuturnya.

Syekh Ali Jaber pun menerima perbedaan itu dengan gembira. Misalnya ketika dia Shalat Subuh di suatu tempat. Ketika diminta menjadi imam, ia tanya dulu jamaah di sana terbiasa memakai qunut atau tidak. Kalau memakai qunut, dia pun menyesuaikan memakai qunut. Jika tidak, Syekh juga tidak memakai.

Demikian juga bacaan Bismillah ketika shalat. Syekh juga selalu menyesuaikan jamaahnya. Terkadang dia membacanya keras, terkadang pelan, tak terdengar. Demikian juga bacaan dziikir setelah shalat. Kadang syekh bacanya keras, kadang pelan. Semua itu dilakukan kata dia, dalam rangka memahami dan menghormati perbedaan yang ada.

“Jangan harap ke depan NU dan Muhammadiyah jadi satu. Satu pemahaman, satu pandangan. Tidak bisa. Karena itu melawan sunatullah. Allah menciptakan manusia dengan penuh perbedaan. Kenapa beda? Karena setiap manusia beda otaknya. Tidak bisa semua manusia otaknya sama,” jelasnya.

Contoh sederhana kata dia, adalah Imam Syafi’i. Imam Syafi’i punya guru Imam Malik. Guru dan murid ini ternyata punya madzhab berbeda. Imam Syafi’i punya pemikiran berbeda dengan gurunya. Dan madzhabnya kita diikuti ratusan juta umat Islam dunia. Apakah Imam Malik marah? Jelas tidak, kata Syekh Ali Jaber.

“Nggak pernah Imam Malik protes, kok selama belajar sama saya bikin madzhab sendiri sih? Nggak ada istilah Imam Malik protes. Tidak pernah Imam Malik bilang Imam Syafi’i sesat, meski beda pandangan. Tidak pernah,” jelasnya.

Ia menyebut kekayaan umat Islam justru ada pada tafsir. Semua perbedaan dalam memahami agama Islam itu sumbernya tetap satu, Al-Quran dan Hadits.

Karena itu Syekh Ali Jaber meminta kepada masyarakat agar tidak gampang menyalahkan pendapat orang lain yang berbeda. Tidak gampang menyesatkan orang, apalagi mengkafirkan orang. Menganggap diri paling benar, dan menilai orang lain salah.

“Merasa diri paling benar, yang lain sesat, itu bahaya. Anda berhak membela pendapatmu, tapi Anda tak berhak memaksa pendapatmu, dan menyalahkan pendapat lain,” tandasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here