Syekh Abdul Qadir Jailani Pernah Ditolak di Madrasah Imam Al Ghazali

244

Jakarta, Muslim Obsession – Nama Syekh Abdul Qadir Al Jailani sudah sangat popular di telinga masyarakat Indonesia. Ia adalah ulama fiqih yang kedudukannya dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Syekh Abdul Qadir adalah orang Kurdi yang lahir di pada bulan Ramadhan tahun 1077 di Desa Nif, selatan Laut Kaspia, yang sekarang menjadi Provinsi Mazandaran di Iran.

Hingga kini masih terjadi perdebatan, antara Syekh Abdul Qadir lahir di tanggal 1 Ramadhan atau justru di tanggal 2 Ramadhan. Meski ulama kebanyakan lebih meyakini bahwa ulama yang di kalangan Pakistan dan India disebut Ghaus-e-azam ini lahir pada tanggal 2 Ramadhan.  

Dari garis ayah, silsilah Syekh Abdul Qadir akan sampai pada Hasan bin Ali bin Abu Tholib, menantu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan dari garis ibu, silsilahnya sampai kepada Nabi Ibrahim melalui kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib. Silsilah Syekh Abdul Qadir ini bersumber dari Khalifah Sayyid Ali al-Murtadha.

Ditolak oleh Madrasah Imam Al Ghazali

Syekh Abdul Qadir disebut sebagai wali yang memiliki banyak kelebihan. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah berusia 60 tahun, usia renta yang normalnya sudah tak mungkin lagi mengandung. Ia juga menolak menyusu, tak seperti bayi-bayi kebanyakan.

Sebagai anak yatim, dimana ia sudah kehilangan ayahnya semenjak ia masih dalam kandungan, Syekh Abdul Qadir hidup dalam lingkungan keluarga shalih dan sederhana. Dilansir dari Britannica, di usia 18 tahun Syekh Abdul Qadir sudah meninggalkan kampung halamannya dan hijrah ke Baghdad untuk belajar mengenal hukum Islam. 

Namun sayang, di Baghdad ia tak diterima belajar di Madrasah Nidzamiyah yang dipimpin oleh Ahmad Al Ghazali, saudara kandung Imam Al Ghazali. Syekh Abdul Qadir akhirnya menimba ilmu pada beberapa ulama seperti Ibnu Aqil, Abul Khattat, Abul Husein Al Farra, dan Abu Sa’ad al Muharrimiseim.

Dengan kecerdasannya, dalam waktu singkat saja Syekh Abdul Qadir sudah bisa menguasai banyak ilmu agama, baik ilmu fiqih maupun ushul fiqih. Hingga pada suatu hari, Abu Sa’ad al Muharrimiseim membangun sekolah kecil di daerah Babul Azaj dan menyerahkan pengelolaannya kepada Syekh Abdul Qadir lantaran ia percaya dengan kemampuan muridnya tersebut.

Pendakwah Termashyur di Tahun 1127

Syekh Abdul Qadir sudah mulai tampil di masyarakat menjadi pendakwah. Lewat kemampuannya berdakwah dan mengajar, Syekh Abdul Qadir langsung menarik minat banyak tokoh muslim dunia pada masanya.

Terlebih, ia juga dikabarkan berhasil mengajak sejumlah Yahudi dan Nasrani untuk ikut memeluk Islam. Dimana pada masa itu perpindahan keyakinan tergolong hal yang sangat mustahil dilakukan.

Kemampuan Syekh Abdul Qadir Jailani dalam berkhutbah sangat luar biasa. Hingga ia dikatakan sebagai tokoh yang paling bisa mempengaruhi dan mengubah pola pikir masyarakat Irak di abad ke-12.

Penganut ajaran Syekh Abdul Qadir pun menyebar cepat. Dari kalangan orang kaya, pedagang, petani hingga orang-orang pinggiran. Dari masyarakat Irak, Afrika, Mesir, India, hingga Indonesia.

Semenjak tahun 1127 hingga 25 tahun lamanya, Syekh Abdul Qadir memutuskan untuk menyepi. Ia menjadi pengembara sufi di padang pasir Irak. Ketika memperdalam sufi ini, Syekh Abdul Qadir banyak melakukan tirakat, riyadhah dan mujahadah melawan hawa nafsu

Berbagai julukan mulia

Sekembalinya dari pengembaraannya, Syekh Abdul Qadir memimpin madrasah di Baghdad yang didirikannya sejak tahun 521 H. Ketika ia wafat di tahun 1166, madrasah itu diserahkan kepada anaknya, Abdul Wahab.

Suatu ketika, Syekh Abdul Qadir yang melahirkan 17 buku bersejarah ini pernah berkata,”Tidur dan bangunku sudah diatur. Pada suatu saat dalam dadaku timbul keinginan yang kuat untuk berbicara. Begitu kuatnya sehingga aku merasa tercekik jika tak berbicara. Dan ketika berbicara, aku tak dapat menghentikannya.”

Syekh Abdul Qadir mendapat banyak julukan kehormatan. Syekh yang menjadi peletak dasar ajaran tarekat Al Qadiriyah ini juga dijuluki Muhyidin atau penghidup agama.  Jika Imam Al Ghazali menggabungkan syariat dan tarekat, Syekh Abdul Qadir memadukan syariat dan sufisme. Karena hal ini, Syekh Abdul Qadir juga dijuluki sebagai ghautsul a’dzam atau orang suci terbesar dalam Islam.

Sedangkan gelar Sayyid disematkan lantaran Syekh Abdul Qadir adalah keturunan Nabi Muhammad dari jalur Siti Fatimah binti Muhammad.  Syekh Abdul Qadir juga dijuluki Sultan Auliya, pemimpinnya para wali.

Kepergian yang senyap

Diceritakan bahwa pada suatu malam Syekh Abdul Qadir terbaring lemah ditemani oleh anak-anaknya, termasuk Abdul Jabbar. Abdul Jabbar sempat menanyakan, bagian dari tubuh ayahnya mana yang terdera sakit. Dan Syekh Abdul Qadir menjawab bahwa seluruh tubuhnya sakit kecuali hatinya, karena hatinya selalu terpatri pada Allah.

Syekh Abdul Qadir kemudian melafalkan “Allah” dalam suara pelan yang diulang-ulang. Makin lama suaranya makin pelan kemudian hilang, senyap. Dalam usia 90 tahun, Syekh Abdul Qadir menghela napas terakhirnya ditemani oleh 49 anak dari empat orang istrinya.

Shalat jenazah diimami oleh anaknya, Abdul Wahhab. Selesai dishalatkan, Syekh Abdul Qadir dimakamkan di sepetak tanah yang teduh di serambi madrasahnya. Hari itu, pintu madrasah ditutup hingga siang. Tanda duka tengah menggantung di langit Baghdad. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here