Suara Emas Syaikh Mahmoud Khalil Al-Hussary

81
mahmoud-khalil-al-hussary (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Bagi Anda yang pernah mengikuti kelas tahsin atau tajwid, tentu tidak asing dengan nama Syaikh Mahmoud Khalil Al-Hussary. Biasanya guru-guru tahsin merekomendasikan murottal beliau untuk didengar.

Syaikh Mahmoud Khalil Al-Hussary termasuk qari’ (pelantun Al-Quran) yang paling terkenal. Tidak hanya di negeri asalnya, Mesir, di Indonesia, suara beliau cukup akrab di telinga masyarakat nusantara. Saat sore tiba, biasanya masjid-masjid memperdengarkan suara beliau sambil menunggu adzan maghrib. Meskipun orang tidak tahu siapa pemilik suara fasih dan indah itu.

Beliau disebut-sebut sebagai orang yang paling utama dan paling baik tajwidnya dalam mentartil kitabullah.

Syaikh Mahmoud Khalil Al-Hussary dilahirkan di Gaza tepatnya di Desa Syibran Namlah, pada bulan Dzul Hijjah 1335 H, bertepatan dengan 17 September 1917. Beliau berhasil menghafalkan 30 juz Al-Quran saat berusia 8 tahun.

Kemudian Syaikh menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di universitas tertua itu beliau mengambil jurusan Al-Quran. Hingga berhasil memperoleh ijazah al-Qira-at al-‘Asyr (qiraat yang sepuluh). Pada tahun 1364 H/1944 M, Syaikh mulai rutin menjadi qari di siaran Al-Quran al-Karim di Mesir. Sejak saat itulah, suara indah dan fasihnya dikenal umat Islam di seluruh tempat.

Pada tahun 1957, ia dipilih menjadi penyeleksi para qari’ di Mesir. Dan tahun 1960, ia diberi amanah untuk mengoreksi cetakan-cetakan mushaf Al-Quran yang ada di Al-Azhar. Beliau menjalankan tugas tersbut di bawah lembaga Al-Quran wa al-Hadits bi Jam’i al-Buhuts al-Islamiyah.

Pada tahun 1960 juga, ia diangkat menjadi guru besar para qari’ di Mesir. Di tahun yang sama, menteri wakaf Mesir, membuat kebijakan dan usaha luar biasa dalam menyebarkan ilmu-ilmu Al-Quran. Setahun berikutnya, Syaikh Mahmoud Khalil Al-Hussary menjadi orang pertama yang bacaan Al-Qurannya 30 juz direkam. Selama kurang lebih 10 tahun berikutnya, beliau menjadi satu-satunya orang yang memiliki rekaman bacaan Al-Quran. Tidak heran, masjid-masjid di dunia termasuk Indonesia sangat akrab dengan murottalnya. Setelah itu, beliau pun rekaman 30 juz Al-Quran dengan riwayat Warasy ‘an Nafi’. Kemudian Qalun ‘an Nafi’. Kemudian ad-Dauri ‘an Abi Amr. Hingga sekarang, kaum muslimin masih mendengarkan, mengambil manfaat dan pelajaran dari warisan kebaikan beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here