Survei Indikator: 56,9 persen, Masyarakat Menilai Rapid Test Kurang Efektif

166
PT Pegadaian (Persero) melakukan rapid test massal bagi seluruh karyawan di kantor pusat pada Kamis-Jumat, 6-7 Agustus 2020.

Jakarta, Muslim Obsession – Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia merilis survei tentang cara pemerintah melakukan penanganan corona. Salah satunya mengenai penggunaan rapid test atau tes cepat untuk deteksi awal terhadap infeksi virus corona.

Hasilnya, mayoritas responden menilai bahwa rapid test tidak efektif. “Mayoritas, 56,9 persen, menilai rapid test kurang atau tidak efektif sama sekali sebagai alat identifikasi awal untuk pencegahan penyebaran virus corona,” kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi dalam konferensi pers virtual, Kamis (20/8/2020).

Menurut survei, responden yang menilai rapid test efektif sebesar 42,4 persen. Sisanya, 0,7 responden memilih tidak menjawab.

Hasil itu berbanding terbalik dengan penilaian responden terhadap efektivitas protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang digaungkan pemerintah selama pandemi.

Mayoritas responden menilai, menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, serta mencegah kerumunan efektif untuk mencegah Covid-19.

Sebanyak 26,3 persen responden menilai protokol tersebut sangat efektif untuk mencegah penularan virus, sedangkan 61,2 persen responden menilai cukup efektif.

Lalu, 10,9 persen responden menilai protokol tersebut kurang efektif, dan 1,6 persen responden menilai protokol itu tak efektif sama sekali.

“Soal rapid (test) mereka menganggap tidak terlalu efektif, tapi soal protokol kesehatan efektif,” kata Burhanuddin.

Untuk diketahui, survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia ini digelar selama awal Juli hingga awal Agustus 2020. Survei melibatkan 304 responden dari 20 kota di Tanah Air, yang seluruhnya merupakan pemuka opini atau opinion leader.

Karena tidak tersedianya data populasi pemuka opini, maka pemilihan responden tidak dilakukan secara acak.

Responden dipilih secara purposif yang umumnya dijadikan rujukan oleh media, seorang pengamat kesehatan, pengamat sosial politik, tokoh organisasi masyarakat, LSM, hingga pengusaha.

Mereka di antaranya adalah dokter spesialis paru Erlina Burhan, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, Rektor UGM Panut Mulyono, Rektor ITB Kadarsah Suryadi, Rektor UI Pandji Soerachman, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, seniman Butet Kertarejasa, dan ratusan nama-nama besar lainnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here