Supermoon Bisa Disaksikan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

897
gerhana bulan
Super Blue Blood Moon atau Supermoon diperkirakan terjadi esok, Rabu (31/1/2018),

Jakarta, Muslim Obsession – Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang diperkirakan terjadi esok, Rabu (31/1/2018), merupakan fenomena langka. Fenomena yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total itu, menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, tak perlu ditakutkan.

“Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan terulang lebih dari 100 tahun untuk di Amerika, sementara wilayah Indonesia 36 tahun (30-31 Desember 1982), sehingga masyarakat diharapkan melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Senin (29/1/2018).

Dwikorita menjelaskan, fenomena Supermoon bertepatan dengan Gerhana Bulan Total, dimana posisi matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Fenomena ini dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pengamatan dapat dilihat secara ideal dari daerah perbatasan mulai dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga daerah yang berada di sebelah barat Sumatra. Supermoon akan melintas di Samudera Hindia yang berada sebelah barat Sumatra yang merupakan zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung.

Selain itu, lokasi yang ideal untuk mengamati fenomena Supermoon yakni di Observatorium Boscha (Lembang), Pulau Seribu, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Planetarium, Museum Fatahilah, Kampung Betawi, Setu Babakan, serta Bukit Tinggi. Pengamatan juga dapat dilakukan di 21 titik pengamatan hilal.

Di sisi lain, Dwikorita Karnawati mengingatkan masyarakat diharapkan mewaspadai tinggi pasang air laut maksimum hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari. Pasalnya, fenomena ini dapat mengakibatkan surut air laut minimum mencapai 100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di Pesisir Sumatra Utara, Sumtera Barat, selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Dwikorita menegaskan bahwa tinggi pasang maksimum akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Adapun, keseluruhan proses Gerhana Bulan Total pada 31 Januari 2018 dapat diamati di Samudra Pasifik serta bagian timur Asia, Indonesia, Australia, dan bagian barat laut Amerika.

Gerhana ini juga dapat diamati di bagian barat Asia, Samudra Hindia, bagian timur Afrika, dan bagian timur Eropa pada saat bulan terbit. “Masyarakat dapat mengamati puncak Gerhana Bulan Total ini dapat pada Pukul 20:29,8 WIB; 21:29,8 WITA; dan 22:29,8 WIT,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here