Sunan Bonang Berdakwah Lewat Sastra

5609
Makam Sunan Bonang (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Makdum Ibrahim merupakan anak dari Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati atau dengan nama lain Nyi Ageng Manila.

Sunan Bonang juga merupakan cucu dari Maulana Malik Ibrahim dan adipati Tuban bernama Arya Teja serta keturunan ke 23 dari Nabi Muhammad. Beliau lahir pada tahun 1465 M. Sunan Bonang belajar agama dari Sunan Ampel di Ampel Denta, Surabaya.

Setelah selesai belajar di Ampel, Sunan Bonang melanjutkan belajar ke Samudra Pasai. Disana, Sunan Bonang berguru kepada Syeh Maulana Ishak (Paman Sunan Ampel) beserta ulama besar ahli tasawuf dari Baghdad dan Iran. Sekembalinya dari Samudra Pasai, Sunan Bonang berdakwah keliling ke berbagai daerah diantaranya Lasem, Tuban, Madura dan Pulau Bawean.

Tidak salah jika beliau menjadi guru spiritual yang paling memengaruhi sepak terjang dakwah dari seorang Raden Sahid, alias Sunan Kalijaga. Pertemuan Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga yang tak lain adalah anak dari paman Sunan Bonang, Arya Wilatikta telah diabadikan dalam sejumlah serat dan naskah kuno.

Pada masa mudanya, Raden Makdum Ibrahim tidak jauh berbeda dengan muridnya. Makdum Ibrahim sewaktu berdakwah di Kediri, kepada para penganut ajaran ilmu hitam Bhairawa Tantra, cenderung menuai konflik dan terkadang menggunakan kekerasan atau pertarungan dengan para penganutnya.

Bahkan Sunan Bonang karena saking marahnya, dengan kesaktian dan ilmu kanuragan beliau sempat mengubah arah aliran sungai Brantas, sehingga menyulitkan masyarakat yang tinggal di tepian sungai. Di satu sisi ujung sungai terjadi kekeringan, sementara di sisi lain terlanda banjir.

Tetapi setelahnya, masih sedikit sekali yang mau menerima ajakan beliau untuk memeluk agama Islam di daerah Kediri. Kesulitan dan alotnya proses dakwah di Kediri itulah, yang pada akhirnya menumbuhkan kesadaran baru dalam diri Sunan Bonang bahwa masyarakat akan lebih banyak menolak jika didekati dengan pemaksaan, apalagi kekerasan.

Sunan Bonang lantas melanjutkan dakwahnya dengan berhijrah ke Demak, sekaligus memenuhi panggilan dari Raden Patah untuk menjadi Imam Masjid di sana. Kali ini beliau lebih fokus dengan pendekatan yang lebih mengarah kepada seni, budaya dan kearifan lokal secara halus, sebagaimana yang kelak diwariskannya kepada sang murid, Sunan Kalijaga.

Berbekal ilmu yang telah Sunan Bonang kenyam dari banyak guru, beliau pada usia dewasa dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang piawai dalam berdakwah. Mulai dari ilmu fiqih, ushul-fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur sampai ilmu kanuragan dan kedigdayaan telah beliau kuasai dan dalami.

Maka sebagaimana muridnya, Sunan Bonang lebih dulu mengenalkan Islam melalui wahana pertunjukan wayang dengan sisipan nilai-nilai sufistik. Juga mensosialisasikan tembang-tembang, kidung-kidung, serta perancangan formasi alat-alat gamelan yang salah satu alatnya bernama “bonang” dan menjadi julukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here