Sri Lanka Larang Sembelih Sapi, Peternak Muslim Terancam Bangkrut

72

Kolombo, Muslim Obsession – Sri Lanka telah mengumumkan bahwa mereka akan melarang penyembelihan sapi. Sebuah tindakan yang dipandang bermotivasi politik untuk menyenangkan mayoritas Buddha dan merugikan minoritas Muslim.

Diperkirakan, larangan tersebut terutama akan menargetkan pedagang Muslim yang memiliki monopoli perdagangan daging sapi.

Mujibur Rahman, seorang anggota parlemen Muslim, mengatakan bahwa larangan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa bukanlah tentang mengikuti ajaran Buddha.

“Jika mereka mengikuti kebijakan Sang Buddha, maka mereka harus melarang penyembelihan semua hewan dan tidak hanya ternak (sapi). Jadi, ini bukan tentang kebijakan Sang Buddha. Justru ini kebijakan Mahinda Rajapaksa,” ungkapnya, dikutip dari situs 5pillarsuk, Jumat (9/10/2020).

Rahman menuduh Rajapaksa dan saudaranya Gotabaya (Presiden) menciptakan masalah yang tidak perlu dan beralih menjadi komunal.

Serta memperingatkan bahwa kebijakan tersebut secara langsung dan tidak langsung akan membuat ribuan orang yang terkait dengan perdagangan keluar dari pekerjaan dan menghancurkan pendapatan mereka secara langsung dan tidak langsung.

Hilmy Ahmed, wakil presiden Dewan Muslim Sri Lanka, mengatakan larangan itu pada akhirnya akan meningkatkan populasi sapi dengan ternak berkeliaran di banyak bagian negara itu.

“Seekor sapi tua atau banteng harganya sekitar 35.000 rupee Sri Lanka ($ 189) dan kebanyakan peternak menjual setidaknya 20 sampai 30 sapi sebulan. Tapi, jika undang-undang itu disahkan, mereka tidak punya pilihan selain membiarkan sapi jantan ini berkeliaran di jalanan. Ini bisa menjadi bencana dan berdampak pada pendapatan petani,” urainya.

Menurut Departemen Produksi dan Kesehatan Hewan, populasi sapi Sri Lanka pada 2019 lebih dari 1,5 juta. Mereka juga memiliki 472.000 kerbau. Negara itu menghasilkan lebih dari 29.000 ton daging sapi tahun itu, naik 1.000 ton dari 2018.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here