Sosok Rif’at Al-Banna Peraih Nilai Terbaik di Ajang MTQ Nasional 2020

49

Jakarta, Muslim Obsession – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berhasil menjadi juara umum pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-28 di Padang, Sumbar. Nama Muhammad Rif’at Al-Banna mendapat nilai terbaik, hampir mendekati sempurna, yakni 96,58.

Namun dia bukan dari Sumbar, melainkan kontingen Jawa Barat. Ia mengatakan, dalam MTQ ini sebenarnya bukan kemenangan yang ia cari. Pesan dari gurunya, jadikan MTQ sebagai media menghafal Al-Quran, bukan untuk menang dan kalah.

“Boleh (ikut MTQ) asal niatnya buat ngelancarin hafalan Qur’an. Kalau hilang niat buat ngelancarin hafalan Qur’an, mending gak usah ikutan,” katanya belum lama ini.

Karena niatnya demi melancarkan hafalan Al-Qurannya, maka saat menang tidak akan jumawa, pun ketika kalah tidak akan kecewa. Karenanya, mengutip pernyataan Kiai Syahrir Ali Basya, “Jadikan MTQ untuk Al-Quran, bukan Al-Quran untuk MTQ.”

Karenanya, sebelum tampil, ia hanya di kamarnya saja dan menuntaskan hafalannya 30 juz, selain memang karena sedang kurang sehat. Rif’at mengaku kalah ataupun menang, ia tetap bahagia sebab telah menuntaskan murajaahnya.

Tak ayal, hal ini menjadi kekuatannya untuk tampil secara maksimal sehingga tidak mendapatkan satu teguran pun dari dewan hakim. Artinya, saat meneruskan ayat yang dibacakan dewan hakim, ia tidak salah satupun.

Keikutsertaannya dalam setiap ajang MTQ memang tidak memasang target apapun, kecual satu hal, yakni tetap menjaga kelancaran hafalannya. Sebab, kelancaran hafalan itu sudah dapat mencakup semua hal, termasuk juara.

“Kalau nyarinya juara, ketika kalah kita kecewa. Tapi kalau nyarinya buat ngafal, buat ngelancarin, terus-terusan ngaji, jadikan momentum karena saya rasa tidak ikut MTQ tidak ada pendorong lebih,” kata Ketua Program Tahfiz di Pondok Pesantren Ulumul Quran Al-Mustofa, Sumedang, Jawa Barat itu.

Ketika sudah ada kabar kapan digelar MTQ, ia terus memperkuat hafalannya dibantu keluarga dan teman-temannya untuk menyimak dan mengetesnya.

Memang sudah cita-cita Rif’at Al-Banna untuk menjadi penghafal Al-Quran. Tekadnya yang kuat dan bulat membuatnya begitu cepat menghafalnya. Rif’at bercerita bahwa ia mulai menghafal Al-Quran sejak kelas 3 SMP menjelang ujian nasional. Sampai tamat SMP, ia berhasil menyelesaikan hafalannya dua juz.

Lalu, ia hanya butuh waktu 10 bulan tambahan untuk menyelesaikan hafalannya sampai 30 juz. Hal itu ia lakukan di Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana, ia sekaligus menuntaskan studi aliyahnya.

Meski sudah hafal dan tamat aliyah, ia tidak langsung pulang. Ia melanjutkan pendalaman keilmuannya di bidang Al-Quran dengan takhassus mengambil ijazah pada salah seorang kiai di Tebuireng sembari belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri.

Jalan Keikutsertaan di MTQ

Pertama kali ikut MTQ 2006 murotal. Saat itu, ia menyabet peringkat kedua di tingkat Kabupaten Bandung.

Kemudian, ia kembali mengikuti MTQ pada tahun 2014. Saat itu, ia menjadi peserta pada cabang tahfiz 10 juz. Di tingkat Provinsi Jabar, ia baru mendapat harapan pertama. “Di situ sudah ada pengalaman. Semangat untuk tahun berikutnya,” katanya.

Tahun berikutnya, ia juga meraih harapan pertama di cabang yang sama, tahfiz 10 juz. Bedanya, tahun 2015 itu ia meraihnya di tingkat nasional, yakni pada perhelatan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di Pondok Gede.

Tahun 2016, prestasinya semakin meningkat. Pria kelahiran Oktober 1997 itu berhasil menyabet terbaik pertama pada MTQ Nasional Ke-26 di Nusa Tenggara Barat. Tidak lagi di cabang tahfiz 10 juz, kala itu, ia ikut serta pada cabang tahfiz 20 juz.

Rif’at pun meraih terbaik kedua tingkat Asia Pasifik pada MTQ yang digelar Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia. Tidak berhenti di situ. Ia pun melanjutkan di cabang 30 juz.

Tahun 2017, ia hanya berada pada terbaik ketiga di tingkat provinsi. Setahun berikutnya, 2018, pada MTQ Nasional Ke-27 di Medan, Sumatera Utara, ia meraih terbaik kedua. Rif’at diutus menjadi perwakilan Indonesia untuk MTQ internasional di Turki pada tahun 2019 dan meraih terbaik kelima.

“Alhamdulillah kelima juga bangga karena tingkat internasional,” ujar pria 23 tahun itu. (Al)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here