Sosok Khansa, Penyair Perempuan yang Dikagumi Rasulullah

127

Jakarta, Muslim Obsession – Nama lengkapnya Tumadlir binti ‘Amr bin al-Syarid dari Bani Sulaim. Namun ia dikenal dengan sebutan Khansa.karena hidungnya yang tidak terlalu panjang. Ia lahir di Najd dari keluarga kaya di zaman jahiliyah yang kemudian memeluk Islam. Khansa dipandang sebagai salah satu penyair perempuan terbaik di eranya.

Di masa jahiliyah, peran penyair perempuan kebanyakan hanya menggubah syair-syair ratapan (elegi, sajak sedih) untuk orang yang telah meninggal dan menampilkannya sebagai perwakilan suku tertentu dalam kompetisi publik.

Khansa pun memenangkan kompetisi tersebut dengan puisi eleginya tentang dua saudaranya yang mati dalam perang suku, Shakr dan Muawiyah. Setelah itu, popularitasnya melambung tinggi karena puisinya begitu menyentuh hati. Gaya tuturnya dan pemilihan diksinya luar biasa.

Khansa dapat menggabungkan kata-katanya seperti perjumpaan siang dan malam yang didahului senja berwarna jingga, kemudian perlahan-lahan memias, dan gelap yang mengambil alih tidak dengan tiba-tiba. Beberapa penggalan puisinya menggambarkan itu:

إنى أرِقْتُ فبتُّ الليلَ ساهرة # كأنّما كُحِلَتْ عَينى بعُوّار

Sungguh (mata)ku terjaga (menangis), lalu malam kulalui tanpa pejam
Seolah mataku dicelaki kebutaan. (Abdussalam al-Hufi, Syarh Diwan al-Khansa, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006, hal 46)

Dengan karya-karyanya, Khansa berhasil mengangkat syair-syair ritsa (elegi) ke level qaridl, yaitu jenis puisi yang dipandang tinggi statusnya oleh orang Arab ketika itu. Ia menggubah puisi-puisinya menggunakan bentuk matra dan rima, tidak lagi menggunakan saj atau rajaz yang biasa dipakai dalam puisi-puisi ritsa.

Khansa sangat dihormati oleh sastrawan Arab lainnya. al-Nabighah al-Dzubyani, seorang penyair dari Bani Dhubyan yang hidup sekitar 535-604, pernah memuji al-Khansa dengan mengatakan:

“Demi Allah, jikalau Abu Bashir (al-A’sya) tidak membacakan puisinya padaku lebih dulu, akan kukatakan bahwa kau penyair terhebat dari jin dan manusia.” (Imam Ibnu Qutaibah, al-Syi’r wa al-Syu’ara, juz 1, h. 344)

Menurut salah satu riwayat, Khansa memeluk Islam bersama kaumnya, Bani Sulaim. Abu ‘Amr mengatakan:

قدمت علي النبي صلي الله عليه و وآله سلم مع قومها من بني سليم فأسلمت معهم

“Khansa mendatangi Nabi Saw bersama kaumnya, Bani Sulaim, kemudian ia memeluk Islam bersama mereka.” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Ishabah fî Tamyîz al-Shahâbah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz 8, h. 66)

Dikisahkan, bahwa Nabi Muhammad Saw meminta Khansa untuk membacakan sebuah syair, dan beliau pun kagum pada syair yang dibacakannya (yastansyiduha wa yajabuhu syi’raha). (Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fî Tamyiz al-Shahâbah, juz 8, h. 66).

Setelah memeluk Islam, tema dan isi dari syair-syair ratapan yang telah membawanya ke puncak popularitas berubah. Ketika ia mendengar empat orang anaknya, Yazid, Muawiyah, ‘Amr dan Amrah terbunuh dalam Perang Qadisiyyah (636 M) di masa Khalifah Umar bin Khattab, ia berujar:

الحمد لله الذي شرفني بقتلهم، وأرجو من ربي أن يجمعني بهم في مستقر رحمته

“Segala puji milik Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku hanya berharap Tuhanku akan menyatukanku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya.” Khansa.wafat pada tahun 24 Hijriah (645 M) di usia sekitar 70/71 tahun. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here