Social Distancing, Warga Absen Kesehatan Via WhatsApp

371
WhatsApp jadi media penting untuk meningkatkan kesadaran bermasyarakat.

Muslim Obsession – Pandemi virus Corona membuat setiap orang mulai hati-hati dalam bersosialisasi. Istilah social distancing pun menjadi trending dan mudah didapat dalam setiap ujaran di media sosial.

Hikmahnya, kesadaran untuk berempati muncul di masyarakat. Kepedulian terhadap kesehatan satu sama lain saat ini tampak di mana-mana, bentuknya beragam.

Di sebuah kawasan di Bintaro, warga melakukan absensi melalui WhatsApp. Mereka saling berbagi kabar tentang kesehatan.

“Kami memulainya dari ibu-ibu arisan dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid),” tutur Ibu Dian (nama samaran) memulai kisah kepada Muslim Obsession, Ahad (22/3/2020) pagi ini.

WhatsApp saat ini menjadi media komunikasi paling efektif karena setiap warga harus benar-benar melaporkan kondisi kesehatan seluruh anggota keluarga. Menurutnya, cara ini menjadi early warning system untuk mengantisipasi penularan virus Corona.

“Lewat WA, kami jadi saling menguatkan satu sama lain, stay healthy, dan banyak berdoa. Kami pun akhirnya sangat menjaga dan lebih memperhatikan keluarga di kiri-kanan walaupun sementara ‘say hello’ via media sosial,” ujarnya.

Beberapa hari lalu, tersiar kabar dari salah satu pengurus RT bahwa ada satu keluarga terindikasi PDP (Pasien Dalam Pengawasan) Corona. Pengurus RT segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan sudah menindaklanjuti laporan pada Puskesmas yang berjanji akan datang menjemput.

Namun karena lama menunggu, dua warga yang dianggap PDP Corona ini memeriksakan diri ke rumah sakit dan dirujuk untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut di salah satu rumah sakit besar.

Sampai di sana mereka ditolak karena PDP dianggap masih belum urgent dan kondisinya masih dalam batas normal. Hari ini mereka dikabarkan akan mencari rumah sakit yang bisa swap.

“Nah, tadi malam suami saya yang kebetulan Ketua DKM sempat menelepon ke beliau untuk menanyakan kondisinya. Dan alhamdulillah, si istri juga post di grup arisan mengenai kondisi berdua. Kami ibu-ibu arisan menguatkan beliau semua. Kami juga menawarkan keluarga tersebut untuk fokus isolasi diri. Bahkan kalau perlu bantuan logistik ketika isolasi, warga siap membantu dengan meletakkan bahan-bahan yang diperlukan di luar rumah,” ungkap Ibu Dian.

Akhirnya tadi malam, sambungnya, para pengurus di 3 RT membentuk gugus tugas antisipasi Covid-19 dengan cara melakukan tracing ibu-ibu peserta arisan yang kontak dengan istri korban.

Pengurus RT bekerja sama dengan pengelola masjid, dimana DKM menjadi ujung tombak untuk berkomunikasi dengan warga, sementara pengurus RT berkoordinasi dengan pihak eksternal.

“Aku tadi malam rasanya terharu mau nangis terus. Kalau untuk kekompakan acara lingkungan masih wajar. Tapi ketika ada yang sakit seperti ini dan semua saling menguatkan, itu rasanya gimana gitu,” tutupnya.

Kisah Ibu Dian bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk terus dan meningkatkan empati terhadap lingkungan. Social Distancing tidak jadi kendala untuk tetap berkomunikasi dan menjaga lingkungan dari wabah Covid-19.

Stay healthy. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kita dari setiap keburukan dan juga penyakit. Aamiin. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here