Soal Sukmawati, MUI: Kalau Tak Paham Syariat Jangan Bangga

488
Sukmawati Soekarnoputri (Photo: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis ikut berkomentar soal puisi dari Sukmawati Soekarnoputri berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dinilai berbau Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA), karena menyinggung umat Islam dengan membanding-bandingkan azan dengan kidung dan konde dengan cadar.

Cholil menyayangkan puisi tersebut. Menurutnya, jika Sukmawati tidak paham dengan dengan Syariat Islam mestinya belajar, bukan malah bangga dengan ketidaktahuannya. Sebab ucapannya dari ketidaktahuan itu justru bisa mencelakakan dirinya dan orang lain.

“Tak mengerti syariat Islam bagi pemula itu keniscayan, tapi bangga dengan tak paham syariah bagi muslimah adalah kecelakaan. Syariah itu sumber ajaran Islam yang wajib diketahui oleh pemeluknya. Syariah itu original dari Allah SWT,” ujar Cholil saat dihubungi, Selasa (3/4/2018).

Dalam pusinya, Sukmawati juga mengungkapkan bahwa sari konde ibu Indonesia sangatlah indah dan lebih cantik dari cadar. Padahal, menurut Cholil, cadar itu produk fikih dari ijtihad ulama yang sebetulnya tidak untuk dibenturkan dengan kebudayaan lain seperti konde. Semua memiliki makna tersendiri.

Adapun soal azan Cholil pun menjelaskan bahwa azan itu syiar Islam untuk memberitahu dan memangil untuk mendirikan shalat. “Azan bukan sekadar soal merdu suara muazinnya dikuping, tapi bagi muslim Azan itu menembus hati karena berisi keaguangan Allah, syahadat dan ajakan untuk meraih kebahagiaan,” kata Pengasuh Ponpes Cendikia Amanah Depok ini.

Cholil menambahkan, nusantara sangat kaya akan budaya dan nilai, sehingga menilai keindahan tidak boleh merendahkan yang lain. Menurut dia, tak elok jika seorang putri pendiri bangsa menyinggung yang lain untuk membangun kerukunan umat beragama.

Cadar dan azan menyangkut keyakinan bukan soal keindahan, meskipun keduanya itu tak saling bertentangan. Tak layak membandingkan sesuatu yang memang tidak untuk dibandingkan apalagi wilayah subjektif individu dan pelantunnya. Mana kebinekaannya itu yang didengungkan,” ungkap Kiai asal Madura ini. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here