Soal Kartun Nabi, Ustadz Adi Hidayat: Sekarang Ada Penyakit Macronisme

145

Jakarta, Muslim Obsession – Dunia Islam mengutuk keras atas tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina Islam dan Nabi Muhammad Saw, menyusul diterbitkannya Majalah Kartun Nabi Muhammad di negara tersebut.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) juga turut mengutuk tidakan Macron yang dianggap sewenang-wenang. Melalui akun Instagramnga @adihidayatofficial, UAH menyebut dunia tidak hanya dilanda virus corona tapi juga dilanda virus atau pemikiran macronisme, merujuk pada nama Emmanuel Macron.

“Jadi ada sekarang penyakit macronisme, menggeneralisir segala perbuatan pada komunitas tertentu. Semua jenis kekerasan kita tolak dudukkan pada tempatnya. Kekerasan ini bisa banyak bentuknya,” kata UAH.

Menurut UAH yang harus dipahami kekerasan tidak hanya diartikan secara fisik. Kekerasan juga bersifat verbal. Menghina Nabi Muhammad juga bagian dari kekerasan. Bahkan itu merupakan perbuatan sangat keji.

“Bagi umat Islam, menghina Nabi itu kekerasan yang keji. Menggambarkan Nabi lewat kartun itu kekerasan,” katanya.

Kontroversi di Prancis diawali tindakan seorang guru Samuel Paty yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar. Tindakan ini menuai protes dari komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal.

Presiden Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit.

Terkait anggapan satu orang Islam buruk maka semuanya buruk, UAH menjelaskan dengan mencontohkan peci. Jika ada satu peci yang tidak cocok dengan ukuran kepala, maka jangan salahkan bentuk penutup kepala atau calon pengguna.

Peci tidak lantas berkualitas buruk hanya karena tak cocok dengan ukuran kepala. Sama dengan ukuran kepala yang tak perlu disalahkan karena tidak cukup dalam peci. Cukup cari peci lain yang lebih cocok dengan ukuran kepala atau sebaliknya.

“Ingat tidak semua orang Prancis seperti ini. Jangan menggeneralisir sesuatu hingga menjadi hal yang lebih luas. Ini adalah cara berpikir kita,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here