Sisi Lain Istri Nabi Ibrahim As yang Jarang Terungkap

208

Jakarta, Muslim Obsession — Umumnya dalam sejarah Islam, diketahui Nabi Ibrahim memiliki istri, yakni Hajar dan Sarah. Dari Sarah lahirlah Ishaq dan dari Hajar lahirlah Ismail. Keduanya merupakan pesuruh Allah SWT (nabi) sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Namun, ternyata istri Nabi Ibrahim tidak hanya itu. Prof Quraish Shihab mengatakan Nabi Ibrahim tidak hanya memiliki dua anak, yaitu Ismail dan Ishaq.

Dalam Perjanjian Lama: Kejadian 25 disebutkan setelah wafatnya Sarah, Nabi Ibrahim menikah lagi dengan seorang wanita bernama Ketura.

“Dari istri ini lahir Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, dan Suah,” tulis Prof Quraish Shihab dalam tafsirnya, Al-Misbah.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 132 disebutkan, Ibrahim telah mewasiatkannya kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada-Nya.”

Menurut Prof Quraish Shihab, wasiat adalah pesan yang disampaikan kepada pihak lain secara tulus, menyangkut suatu kebaikan. Biasanya wasiat disampaikan pada saat-saat menjelang kematian karena ketika itu, kepentingan duniawi sudah tidak menjadi perhatian si pemberi wasiat.

Maksud perkataan Nabi Ibrahim, menurut Prof Quraish adalah agama ini adalah tuntunan Allah, bukan ciptaan Nabi Ibrahim. Memang banyak agama yang dikenal oleh manusia, tetapi yang ini, yakni yang intinya adalah penyerahan diri secara mutlak kepada-Nya, itulah yang direstui dan dipilih oleh-Nya.

“Karena itu maka janganlah kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri kepada-Nya yakni memeluk agama Islam,” katanya.

Pesan ini kata Prof Quraish Shihab berarti jangan kamu meninggalkan agama itu walau sesaat pun. Sehingga dengan demikian, kapan pun saatnya kematian datang kepada kamu, kamu semua tetap menganutnya. “Kematian tidak dapat diduga datangnya,” katanya.

Jika kamu melepaskan ajaran ini dalam salah satu detik hidupmu, maka jangan sampai pada detik itu kematian datang merenggut nyawamu sehingga kamu mati tidak dalam keadaan berserah diri. Karena itu, jangan sampai ada saat dalam hidup kamu, yang tidak disertai oleh ajaran ini.

“Demikianlah lebih kurang maksud wasiat Nabi Ibrahim,” katanya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here