Singapura Larang Publikasi Kartun Nabi

79
Singapura (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Demi menjaga kerukunan antar umat beragama, Singapura melarang publikasi gambar-gambar yang menyinggung atau menghina agama, termasuk kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW .

Larangan ini dikeluarkan oleh Infocomm Media Development Authority (IMDA) atau Otoritas Pengembangan Media Infokom.

Dalam rilisnya yang diterima, Rabu (3/11/2021), IMDA mengatakan publikasi buku berjudul Red Lines: Political Cartoons and the Struggle Against Censorship ditemukan “tidak menyenangkan” di bawah Undang-Undang Publikasi yang Tidak Diinginkan.

Buku oleh akademisi Singapura Cherian George dan novelis grafis Sonny Liew tersebut diterbitkan pada bulan Agustus tahun ini oleh The MIT Press.

Situs web buku tersebut menggambarkan konten yang mengeksplorasi motif dan metode sensor politik kartun di seluruh dunia.

Ini berisi 29 gambar ofensif, termasuk reproduksi kartun dari surat kabar mingguan satire Prancis Charlie Hebdo tentang Nabi Muhammad, yang menyebabkan protes dan kekerasan di luar negeri.

Publikasi Prancis itu juga memuat gambar-gambar yang merendahkan Yesus Kristus dan dewa-dewa Hindu.

Pihak berwenang mengatakan telah melibatkan distributor publikasi, Alkem Company, dalam hal ini.

Kartun Charlie Hebdo yang ofensif pertama kali muncul pada tahun 2006 dan telah dicap secara luas sebagai tidak bertanggung jawab, sembrono dan rasis,” kata IMDA.

“Sebagian besar publikasi besar menolak untuk mereproduksi kartun karena dianggap menghasut,” imbuh IMDA, seperti dikutip Today Online.

Reproduksi grafik ini telah menyebabkan keresahan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, Timur Tengah dan Inggris.

Hal ini juga mengakibatkan serangan kekerasan, dengan satu bahkan melibatkan tempat dan staf penerbit asli pada tahun 2015, di mana 12 orang tewas.

Baru tahun lalu, seorang guru bahasa Prancis dibunuh oleh tiga remaja setelah dia menunjukkan kepada murid-muridnya karikatur Nabi Muhammad selama pelajaran.

IMDA mengatakan gambar ofensif diidentifikasi dalam konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda.

“Anggota masyarakat disarankan untuk tidak membagikan gambar ofensif yang merendahkan agama dan tokoh agama,” kata IMDA.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Dewan Agama Islam Singapura (Muis) mengatakan bahwa mereka telah meninjau publikasi buku tersebut dan menemukan bahwa publikasi itu berisi beberapa kartun dan gambar Nabi serta kartun yang menghasut diskriminasi terhadap Muslim, mengejek Al-Quran dan merendahkan Islam. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here