Sihir dan Sejarah Awalnya

541
Ilustrasi: Sihir.

Muslim Obsession – Kehidupan manusia tidak lepas dari hawa nafsu. Di sinilah Iblis berperan sesuai janjinya untuk menjerumuskan manusia dengan beragam model dan caranya.

Cara Iblis menjerumuskan manusia salah satunya dengan mengenalkan sihir. Upaya ini menjadi pilihan bagi manusia-manusia yang disibukkan dengan hasrat, iri dengki, benci, dan kesombongan.

Setidaknya ada 30 ayat Al-Quran yang menyinggung tentang sihir. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 102, misalnya, dijelaskan bahwa sihir awalnya berasal dari dua malaikat, Harut dan Marut. Keduanya diutus Allah sebagai ujian bagi manusia.

Dalam buku Kumpulan Tanya Jawab Mistik, Seks, dan Ibadah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa menurut sebagian ulama, Harut dan Marut merupakan dua orang manusia yang begitu taat kepada Allah sampai-sampai keduanya dinamai malaikat. Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat, keduanya memang malaikat.

Bagi kalangan ini, kisahnya bermula ketika para malaikat menyaksikan tingkah-polah manusia yang marak membuat kerusakan dan pertumpahan darah.

Mereka menilai, alangkah lebih baiknya bila tugas khalifah Allah di muka bumi ditunaikan bukan oleh manusia, melainkan malaikat. Mereka kemudian mengadukan kegelisahan ini kepada Allah.

“Inilah ‘unek-unek’ malaikat yang kedua, setelah unek-unek yang pertama yang diuraikan QS Al-Baqarah 2:30-33,” kata Quraish Shihab.

Allah kemudian memerintahkan para malaikat memilih dua di antara mereka sebagai pelaksana tugas khalifah Allah di muka bumi. Maka terpilihlah dua malaikat, Harut dan Marut. Keduanya lantas turun ke bumi dengan dilengkapi potensi-potensi kemanusiaan. Sebenarnya, tugas ini merupakan ujian, apakah benar malaikat lebih sempurna dalam menjalankan tugas kekhalifahan.

Dalam perjalanannya Harut dan Marut mengalami banyak godaan. Potensi kemanusiaan yang dimiliki keduanya memungkinkan untuk tergoda, seperti halnya manusia pada umumnya. Dan akhirnya, keduanya terjerumus rayuan. Beberapa riwayat menyebut lantaran perempuan.

“Itu sekelumit kisahnya ditemukan dengan panjang lebar dalam berbagai kitab tafsir. Kisah ini dipahami oleh sementara pakar sebagai kisah simbolik,” tulis Quraish Shihab.

Kisah tentang sihir juga kental dalam perjalanan Musa ‘alaihissalam saat menunaikan tugas kenabiannya. Nabiyullah Musa ‘alaihissalam bahkan berhadap-hadapan dengan para tukang sihir suruhan Firaun.

Ahli-ahli sihir berkata, `Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu ataukah kami yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?’ Musa menjawab, lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka, tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan),” (QS. Al- Araf:115-116).

Tukang-tukang sihir melemparkan tongkat dan tali serupa ular itu ke gelanggang. Meski sempat takut lantaran sihir mereka, Musa mendapatkan perintah dari Allah untuk melemparkan tongkatnya. Tongkat itu pun menelan semua ular khayal dan batil para tukang sihir.

Ibnu Abbas berkata, maka setiap tali dan kayu langsung ditelan oleh ular dari tongkat Nabi Musa. Sementara Ibnu Katsir mengungkapkan, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa pada saat itu.’Lemparlah apa yang ada di tangan kananmu,’ yaitu tongkatnya. Ternyata ia menelan semua yang mereka buat. Karena (tongkat itu) berubah menjadi ular yang sangat besar lagi menakutkan, memiliki kaki, leher, kepala dan gigi. Ular itu mengikuti sambil menelan tali-tali dan tongkat-tongkat tersebut hingga tidak tersisa satu pun.

 

Saat Rasulullah terkena sihir

Di era Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sihir pun eksis. Bahkan Rasulullah pernah disihir oleh salah seorang pembencinya. Kisah ini tertuang dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah disihir oleh seseorang dari bani Zuraiq yang bernama Labid bin al-Asham, sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam dibuat membayangkan seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak berbuat apa-apa.

Sampai pada suatu hari atau pada suatu malam ketika beliau berada di sisiku, akan tetapi beliau terus berdoa dan berdoa. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, apakah kamu tahu bahwa Allah telah memberikan jawaban kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepada-Nya tentangya (sihir)?

Ada dua orang yang mendatangiku, satu di antaranya duduk di dekat kepalaku dan yang satunya lagi berada di dekat kakiku. Lalu salah seorang di antara keduanya berkata kepada temannya, Sakit apa orang ini? Disihir, sahut temannya. Siapa yang telah menyihirnya? Tanya temannya lagi. Temannya menjawab, Labid bin Al-Asham. Dalam bentuk apa sihir itu? Dia menjawab, pada sisir dan rontokan rambut ketika disisir, dan kulit mayang kurma jantan. Lalu, dimana semuanya itu berada? Tanya temannya. Dia menjawab, di sumur Dzarwan.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau. Lalu, beliau datang dan berkata, Wahai Aisyah, seakan-akan airnya berwarna merah seperti perasan daun pacar, dan seakan-akan kulit mayang kurmanya seperti kepala setan.

Lalu kutanyakan, Wahai Rasulullah, tidakkah engkau meminta dikeluarkan? Beliau menjawab, Allah telah menyembuhkanku, sehingga aku tidak ingin memberi pengaruh buruk kepada umat manusia dalam hal itu. Kemudian beliau memerintahkan untuk menimbunnya, maka semuanya pun ditimbun dengan segera,” (HR. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/222-Fat-h) dan Muslim dalam kitab as- Salaam bab as-Sihr (XIV/174-Nawawi).

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here