Siapa Orang Pertama yang Menulis Sirah Nabi Muhammad Saw?

169
Nabi Muhammad Saw (Ilustrasi)

Muslim Obsession – Umar bin Khattab memiliki anak dan cucu dari seorang ulama besar di antara teman dan tabi’in yaitu Abdullah bin Umar. Cucunya bernama Salim ibn Abdullah bin Uģmar dan Utsman bin Affan bersama putranya Aban bin Utsman, serta Ali bin Abi Thalib dengan dua orang putra Hasan dan Hussein.

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas tentang Aban ibn Utsman ibn Affan.

Masa kecilnya

Aban adalah seorang yang taat. Nama dan nasabnya adalah Aban bin Utsman ibn Affan bin Abi al-Ash bin Umayyad ibn Abdusy Syam al-Qurasyi al-Umawi. Lahir di kota suci Madinah sekitar tahun 20 H. Ibunya adalah Ummu Amr binti Jundub bin Amr bin Humimah bin al-Harits ad-Dausi Kunyah Abu Said. Ibn Saad berkata, “Dia lahir bahagia. Karena itu diberikan kun-yah Abu Said (Ayah Kebahagiaan).“

Aban tumbuh di lingkungan terbaik. Ayahnya, al-Khalifah ar-Rashid, Utsman ibn Affan radhiallahu ‘anhu sangat peduli padanya. Di bawah asuhan sang ayah yang merupakan orang pertama yang memeluk Islam, tentunya Aban memiliki ayah dan pembimbing hidup yang sangat istimewa.

Menjadikannya tumbuh di salah satu rumah terbaik di kota Madinah dan lingkungan desa, yang tidak kalah istimewa yakni kota Madinah. Tempat tinggal mayoritas sahabat. Bahkan aroma kenabian masih tercium dalam hembusan angin Madinah.

Menjadi Ulama

Lingkungan khusus di kota Madinah memiliki pengaruh yang besar terhadap pemikiran dan sains Aban. Hingga menjadi tokoh ulama tabi’in dan ulama terkemuka. Amr bin Syu’aib berkata, “Saya tidak melihat orang yang lebih tahu tentang dia dalam masalah hadits dan fiqh.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz: 3, hal.18).

Bilal bin Abi Muslim berkata, “Aku melihat Aban bin Utsman, di antara matanya ada bekas sujud samar.” (Thabaqat al-Kubra li Ibni Saad, No: 5912).

Ali bin al-Madini berkata bahwa Yahya bin Said bin Qahthan berkata tentang Aban, “Dia termasuk di antara 10 ahli hukum Madinah.” Ali bertanya, “Siapa mereka?” Said bin al-Musayyib, Abu Salamah bin Abdurrahman, al-Qasim bin Muhammad, Salim ibn Abdullah (ibn Umar ibn al-Khattab), Aurah ibn az-Zubair, Sulaiman ibn Yasar, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, Qabishah bin Dzuaib, Khairjah bin Zaid bin Thabit, dan Aban bin Utsman,” jawab Yahya bin Said. (al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, Juz: 1, hal. 154).

Dikutip dari Media Muslim Story, Senin (28/12/2020) Aban adalah narator hadits terpercaya. Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya dan sahabat Nabi lainnya. Seperti: Zaid bin Tsabit, Usamah bin Zaid, dll. Imam Muslim, at-Turmudzi, Abu Dawud, Ibn Majah, meriwayatkan hadits darinya.

Seperti hadits yang diriwayatkan di at-Turmudzi:

عن عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن أبان بن عثمان قال: سمعت عثمان بن عفان رضي الله عنه يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من عبد يقول فى صباح كل يوم ومساء كل ليلة بسم الله الذى لا يضر مع اسمه شىء فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ

Dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari ayahnya, dari Aban bin Utsman berkata, “Aku mendengar Utsman bin Affan radahiallahu ‘anhu berkata,” Rasulullah ﷺ berkata,’ Tidak ada yang mengucapkan setiap pagi dan setiap sore membaca ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa ‘wa huwas samii’ul’ alim ‘(Dengan menyebut nama Allah bahwa tidak ada yang dapat mencelakakan nama-Nya di bumi atau di langit, Dialah Yang Mendengar lagi Mengetahui) tiga kali, maka tidak ada yang bisa merusaknya. ‘”(HR Tirmidzi No: 3388, Ibnu Majah No: 3869. Abu Dawu No: 5088, Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini sanad hasan).

وروى ابن سعد عن الحجاج بن فرافصة عن رجل قال: دخلت على أبان بن عثمان, فقال أبان: “من قال حين يصبح: لا إله إلا الله العظيم, سبحان الله العظيم وبحمده, لا حول ولا قوة إلا بالله, عوفي من كل بلاء يومئذ” . قَالَ: وَبِأَبَانَ يَوْمَئِذٍ الْفَالِجُ ، فَقَالَ: “إِنَّ الْحَدِيثَ كَمَا حَدَّثْتُكَ ، الا أَانَّصهُ يَوْمَ أَانَّصهُ يَوْمَ أَانَّصهُ يَوْمَ أَانَّصهُ يَوْمَ أَانَّصهُ يَوْمَ

Dikisahkan dari Ibn Saad dari al-Hajjaj bin Furafishah dari seorang pria, dia berkata, “Saya bertemu Aban bin Utsman. Aban berkata, “Yang di pagi hari berkata: Laa ilaaha illallaah al-Azhim. Subhanallahi al-Azhimi wa bihamdihi. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah (Tidak ada Tuhan yang benar kecuali Allah Yang Maha Besar. Segala puji bagi Allah SWT dan segala puji bagi Anda), ia terbebas dari bencana hari itu. “Kata narator,” Saat itu Aban lumpuh. Dia berkata, ‘Hadits ini seperti yang saya katakan, namun ketika hari kelumpuhan ini melanda saya, pada saat itu saya belum membaca dzikir ini.’

Banyak figur ahli hadits dan ahli hukum belajar dari Aban bin Utsman. Di antaranya: Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri. Muhammad bin Ishaq al-Muthlibi. Amir bin Saad bin Abi Waqqash, murid dan rekannya. Abu az-Zinad Abdullah bin Dzakwan. Umar bin Abdul Aziz. Amr bin Dinar al-Makki. Putranya sendiri, Abdurrahman bin Aban bin Utsman. Maimun bin Mihran. Nabih bin Wahb. Dan Yazid putra Hurmuz al-Madini.

Dan siswa yang lahir dari madrasah tersebut adalah Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm. Diceritakan oleh Ibn Asakir, Imam Malik berkata, “Abdullah bin Abi Bakar memberitahu saya bahwa ayahnya belajar dengan Aban bin Utsman”. Imam Malik berkata, “Aban belajar banyak hal tentang hukum agama dari ayahnya, Utsman.” (Tarikh al-Kabir oleh Imam al-Bukhari).

Selain ulama, Aban juga menjabat sebagai gubernur Madinah selama 7 tahun. Abdul Malik bin Marwan menaikkannya dari 75 H menjadi 83 H.

Ahli Sirah Nabi

Pada generasi kedua Islam, ailah Nabi Muhammad tercatat. Tabi’in mengambil peran itu. Mereka menjadi rujukan utama. Ceritakan kabar dari orang tua mereka, sahabat Rasulullah ﷺ. Periode mereka begitu dengan zaman kenabian. Bahkan, sebagian dari mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi. Seperti: Aurah ibn az-Zubair ibn al-Awwam, ibunya adalah Asma binti Abu Bakar ash-Siddiq. Bibinya adalah Ibu Aisyah yang Setia Pertama. Ayahnya adalah sepupu Nabi ﷺ. Nenek dari pihak ayah adalah Shafiyah binti Abdul Muthallib, bibi Nabi ﷺ. Dan kakek dari pihak ayah adalah al-Awwam bin Khuwailid, saudara dari Orang Percaya Pertama Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Pakar Nabawiyah Sirah lainnya adalah Aban bin Utsman. Keahlian Aban dalam studi Sirah lebih dikenal daripada publisitasnya di bidang hadits dan fiqh. Hingga menjadi sosok kiai sirah yang dipercaya di mata para ulama.

Mughirah bin Abdurrahman bercerita tentang kematiannya, al-Waqidi, “Itu diriwayatkan hadits darinya. Dia adalah seorang sarjana yang terpercaya. Tapi sejarah hadits itu kecil. Kecuali tentang perang Rasulullah SAW yang ia kisahkan dari Aban bin Utsman. Ia sering membaca sejarah dari Aban. Dan memerintahkan kami untuk mempelajarinya.“

Hal ini menunjukkan bahwa Aban bin Utsman digunakan sebagai rujukan dalam studi Maghazi dan Sirah. Sampai-sampai para ulama memerintahkan siswanya untuk mempelajari sejarah Aban.

Kematian Pakar Sirah

Di akhir hayatnya, Aban menderita kusta hingga membuatnya lumpuh. Namun dia tetap pergi ke masjid dengan digendong di atas gerobak.

Putra Khalifah Utsman ibn Affan ini meninggal pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Tepatnya pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik (101-105 H).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here