Shalat Mahrib, Isya, Subuh Sendirian, Bolehkah Suaranya Dikeraskan?

120

Jakarta, Muslim Obsession – Jika melaksanakan shalat jamaah khususnya mahrib, isya, dan subuh di dua rakaat pertama imam membacanya dengan suara keras. Namun bagaimana jika shalat itu dilakukan sendiri. Bolehkah membacanya dengan suara keras?

Untuk menjawab itu perlu diperhatikan bahwa Nabi Muhammad Saw membaca al-fatihah dan surat setelahnya dengan keras pada dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat subuh.

Hal ini berdasarkan riwayat secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sebagaimana keterangan an-Nawawi dalam al-Majmu’ (3/389) “Dianjurkan bagi imam mengeraskan bacaan ketika shalat jumat, shalat id, istisqa, dan shalat gerhana. (HR. Bukhari)

Sehingga anjuran ini berlaku bagi umatnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari 631 dan yang lainnya).

Adapun untuk shalat sendirian Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan, dalam Al-Mufashal li Ahkam al-Mar’ah, hlm. 220, Imam Syafi’i dan Imam Hambali berbeda pendapat. Menurut Imam Syafi’i anjuran untuk mengeraskan suara di rakaat satu dan kedua dan memelankan bacaan di rakaat setelahnya juga berlaku bagi orang yang shalat sendirian

“Sementara menurut Hambali, bagi orang yang shalat jahriyah sendirian, dia memiliki pilihan, boleh mengeraskan atau memelankan bacaan,” ujar ustadz Ammi dalam artikelnya.

Keterangan yang sama juga disampaikan Imam Ibnu Baz Rahimahullah

الأفضل الجهر في المغرب والعشاء والفجر، الأفضل الجهر وإن كنت وحدك كالمريض، وهكذا المرأة تقرأ جهراً في المغرب والعشاء والفجر

Yang afdhal, mengeraskan bacaan ketika shalat maghrib, isya dan subuh. Yang afdhal dikeraskan, meskipun anda shalat sendirian, seperti orang yang sedang sakit. Demikian pula wanita, dia bisa membaca dengan keras untuk shalat maghrib, isya dan subuh. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here