Setiap Kita Adalah Pemimpin

3372

Oleh: Dr. KH. Husnan Bey Fananie, MA (Dubes Indonesia untuk Azerbaijan)

Setiap kita adalah pemimpin. Begitu yang diajarkan ayah saya sejak kecil. Ajaran itu pula yang saya terima waktu mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Karena setiap orang adalah pemimpin, maka dirinya akan mempertanggung-jawabkan setiap apa yang dilakukannya. Itu saja garis besarnya.

Tentang hal ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,” (QS. Al-Baqarah [2]: 132).

Manusia diciptakan untuk menjadi khalifatu fil ardh. Secara harfiah, menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam catatannya, “Membumikan Al-Quran”, khalifah memiliki makna “pengganti”. Artinya, seorang khalifah merupakan sosok pengganti yang diberikan mandat oleh Sang Pemberi Mandat. Maka dalam hal ini, saya memahami makna khalifatu fil ardh pada ayat di atas adalah bahwa manusia diberikan mandat untuk mengatur urusan di bumi ini sesuai hukum yang ditetapkannya. Jika berfungsi sebagai pengatur, maka manusia itu memiliki tanggung jawab yang besar kepada pemberi mandat, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.

Seorang khalifah juga berarti seorang pemimpin. Ia memiliki ilmu dan pengetahuan untuk menciptakan perbuatan. Ia diberikan kebebasan dalam memilih apapun yang dikehendakinya. Namun, tentu saja kehendak yang disesuaikan dengan kehendak Sang Maha Pengatur, berupa hukum-hukum-Nya yang telah diinformasikan melalui Nabi Muhammad Saw.

Kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri. Minimal, kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. Selebihnya, kita akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan status dan fungsi kita di dunia ini. Seorang kepala keluarga akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya. Terlebih lagi seorang kepala negara yang di dunia ini bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup sebuah bangsa dan negara.

Hal ini juga ditekankan Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya, “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya,” (HR Bukhari).

Namun masalahnya, kadang kita tidak sadar jika diri kita memikul beban yang begitu berat. Beban yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Cobalah tengok sekeliling kita. Misalnya, sebagai kepala keluarga, sudahkah kita bertanggungjawab penuh terhadap kesejahteraan isteri dan anak-anak? Sudahkah kita memberikan secuil perhatian terhadap kelangsungan pendidikan anakanak? Ataukah kita bersikap acuh, cuek, dan lebih mementingkan diri sendiri sehingga menelantarkan mereka?

Apapun profesi kita saat ini, sejatinya, Allah ‘Azza wa Jalla akan memintakan pertanggungjawaban dari semua amanah yang telah Dia embankan kepada hambaNya. Tidak ada yang dibiarkan olehNya kecuali setiap kita akan ‘diberondong’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan saat itu tak ada satu makhluk pun yang bisa untuk berdusta.

Memimpin diri sendiri tidaklah lebih mudah daripada memimpin orang lain. Hal ini sering disebabkan oleh ketidakjelasan dan ketidaktegasan aturan diri yang kita buat. Terlebih bila kita membuat suatu pelanggaran, hanya kita sendirilah yang tahu. Dengan demikian, komitmen diri yang kita bangun semakin lama akan luntur dan kabur sehingga tanpa sadar kita justru menjerumuskan diri kita sendiri.

Sepintar atau sepiawai apapun seseorang menjadi pemimpin, ia pasti memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Ia tetap membutuhkan kehadiran orang lain sebagai fungsi kontrol atau bahkan sebagai pemimpin kita yang lebih tinggi karena memang tak ada satu manusia pun yang sempurna, masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan.

Menjadi pemimpin tak semudah yang dibayangkan orang, iaharus siap lahir dan batin. Bukan saja siap secara intelektual, namun siap pula moralitasnya. Seorang pemimpin sejatinya merupakan sosok figur yang didambakan masyarakat atau pengikutnya atau bawahannya, karena itu setiap langkah dan perilakunya harusnya menjadi teladan dan patut diteladani. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan di atas pengikutnya, bawahannya atau masyarakat pada umumnya. Idelanya, seorang pemimpin harusmemiliki kelebihan atau nilai positif dibandingkan dengan yang lainnya dan menjadi teladan bagi yang dipimpinnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here