Selamat! Rara L Moerdijat Raih Gelar Doktor dari Universitas Pelita Harapan

110
Rara L Moerdijat saat tampil di Sidang Terbuka UPH, Jumat (3/9/2021). (Foto: Youtube)

Jakarta, Muslim Obsession – Wakil Ketua MPR RI Rara Lestari Moerdijat meraih gelar Doktor dari Universitas Pelita Harapan (UPH) setelah sukses mempertahankan disertasinya berjudul “Transformasi Pengelolaan Organisasi di Daerah Pasca-Bencana dan Pasca-Konflik: Studi Kasus Yayasan dan Sekolah Sukma Bangsa”, Jumat (3/9/2021) malam.

Di hadapan Sidang Terbuka yang dipimpin Rektor UPH DR (HC) Jonathan L Parapak, promovenda yang merupakan politisi Partai Nasdem tersebut dengan cerdas dan percaya diri mampu memaparkan hasil penelitiannya sekaligus menjawab pertanyaan dan sanggahan dari para penguji, Prof. DR. Komaruddin Hidayat, Prof. DR. Bachtiar Aly, MA dan Prof. Badri Munir Sukoco, MBA, Ph.D.

Perempuan kelahiran Surabaya, 30 November 1967 yang akrab disapa Rerie tersebut memaparkan, penelitiannya kali ini menggunakan metode Kualitatif Eksplanatori dengan subyek penelitian Yayasan Sukma di Aceh dan 3 sekolah Sukma Bangsa Pidie, Bireuen, dan Lhokseumawe. Observasi dilakukan selama 15 tahun, tepatnya dimulai tahun 25 Februari 2005 – 29 Februari 2020.

Pengumpulan data dilakukan Dewan Pembina Yayasan Sukma Bangsa ini dengan melakukan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan penyebaran angket melalui Google Form.

“Empat periodisasi perjalanan Yayasan Sukma sebagai sebuah organisasi memperlihatkan elaborasi kelima konsep yang diperkuat spiritual belief dan funding commitment terjadi baik dalam keterkaitan secara parsial dan atau keterkaitan secara komprehensif,” ujar Rerie di hadapan para penguji dan audiens Sidang Terbuka yang ditayangkan langsung melalui kanal YouTube Universitas Pelita Harapan.

Rerie menjelaskan, penelitiannya menemukan keterkaitan antara learning organization, knowledge creation, dynamic capability, adaptive resilient, dan innovation capacity serta temuan baru spiritual belief dan funding commitment secara dinamis, sirkular, dan integratif sehingga diformulasikan sebagai model yang oleh peneliti dinamakan sebagai Transformasi Pengelolaan Organisasi Dinamis.

Menurut mantan CEO Media Group dan Presiden Direktur Media Indonesia ini, Transformasi Pengelolaan Organisasi Dinamis tersebut dapat direplikasi oleh organisasi dalam melakukan kegiatan, baik di kondisi homogen maupun heterogen dengan adaptasi sesuai ekosistem setempat.

“Penelitian ini memperlihatkan bahwa model Transformasi Pengelolaan Organisasi Dinamis terjadi karena adanya interaksi unsur korporasi, masyarakat sipil, termasuk akademisi, birokrasi, media, dan politisi. Interaksi unsur pentahelix ini menjadikan organisasi sebagai a dialectic being yang melakukan sintesa terus menerus sebagai daya dorong terjadinya evolusi dan transformasi di Yayasan Sukma dan tiga Sekolah Sukma Bangsa,” jelasnya.

Kesimpulannya, jelas Rerie, Transformasi Pengelolaan Organisasi Dinamis menciptakan organisasi yang hidup dan melalui dialektika memiliki kemampuan untuk mendorong terjadinya evolusi dan transformasi.

Kendati demikian, sebut Rerie, lewat penelitian ini dirinya juga menemukan kondisi bahwa Yayasan Sukma belum memiliki perencanaan pembiayaan secara mandiri dan berkelanjutan karena sepenuhnya bergantung kepada korporasi.

“Sebagai kritik dan masukan, sebaiknya Yayasan sudah harus memikirkan dan merencanakan perencanaan pembiayaan secara mandiri dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan visi dan misi organisasi,” tandasnya.

Di akhir paparan disertasinya, Rerie mengungkapkan terima kasihnya kepada sejumlah pihak yang telah mendukung dirinya dalam proses menempuh pendidikan doktoral dan penelitiannya tersebut.

“Yang terhormat Bapak Surya Paloh dan seluruh jajaran Media Group, Yayasan dan Sekolah Sukma Bangsa terima kasih atas kesempatan dan dukungan yang diberikan,” pungkas Rerie.

Lulus dengan Yudisium Cum Laude

Promotor disertasi Prof. DR. Hendrawan Supratikno, MBA mengapresiasi temuan-temuan dalam penelitian disertasi Rerie. Prof. Hendrawan mengemukakan dua temuan penting Rerie, yakni spiritual belief dan funding commitment yang jika disederhanakan menjadi Doa dan Dana.

“Doa dan dana. Doa tanpa dana membuat seseorang bisa menjadi pengemis. Sementara dana tanpa doa membuat seseorang menjadi bengis,” ujarnya.

Sementara Prof. DR. Komaruddin Hidayat mengaku terkesan dengan paparan Rerie. Terlebih Aceh yang menjadi lokus penelitian memiliki peranan sangat penting dalam pembentukan Republik Indonesia.

“Setelah ujian ini, predikat yang melekat kepada Anda tidak sekadar sebagai wakil rakyat, tapi juga sebagai pakar dan doktor manajemen pendidikan. Ini merupakan satu predikat yang mulia sekali,” ujar Prof. Komaruddin.

Setelah mendengarkan paparan serta jawaban atas pertanyaan dan sanggahan Tim Penguji, Rektor UPH memberikan putusan bahwa Rerie lulus serta berhak menyandang gelar Doktor di bidang Ilmu Manajemen Pendidikan.

“Kami telah mempelajari disertasi yang saudari ajukan serta memperhatikan juga jawaban saudara atas pertanyaan dan sanggahan dari tim penguji. Tim penguji memutuskan untuk mengangkat saudari Rara Lestari Moerdijat menjadi Doktor dalam Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan dengan yudisium “Dengan Pujian” atau Cum Laude. Selamat,” tegas DR (HC) Jonathan. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here