Selama Musim Haji, Tradisi Gentong Haji Masih Dilestarikan

446
Tradisi Gentong Haji (Foto: Detik.com)

Jakarta, Muslim Obsession – Masyarakat di sejumlah daerah mempunyai tradisi tersendiri dalam menyambut ibadah haji, Salah satunya seperti yang terlihat di Kabupaten Cirebon. Di daerah tersebut, ada tradisi yang telah berlangsung sejak dulu dan masih lestari hingga saat ini. Tradisi itu dikenal dengan istilah Gentong Haji.

Gentong Haji merupakan cara masyarakat setempat memanjatkan syukur dan harapan agar mereka yang beribadah haji diberi kemudahan serta kembali dengan selamat. Tradisi ditandai dengan adanya gentong yang disiapkan di halaman rumah orang yang berhaji.

Tradisi tersebut saat ini masih dapat disaksikan di Desa Pangkalan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon dan sudah dijalankan turun-temurun.

Gentong berisi air diniatkan untuk bersedekah. Selain menyiapkan gentong, pihak keluarga juga menggelar pengajian dengan tujuan agar anggota keluarga yang beribadah di tanah suci mendapatkan kelancaran.

Gentong berisi air minum tujuannya untuk menjadi pelepas dahaga bagi siapapun yang melintas di depan rumah. Ada juga warga yang menggunakan air dalam gentong tersebut untuk membasuh wajah sambil melepas lelah.

Ketika orang yang berhaji pulang, gentong itu akan dipindahkan dan diadakan selamatan.

Dalam menyiapkan gentong haji, maka gentong yang sudah diisi air akan didoakan dalam sebuah acara pengajian malam sebelumnya. Lalu, gentong diletakkan di bagian depan atau halaman teras rumah agar mudah dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang.

Gentong tersebut tertutup rapat tudung saji dari anyaman bambu bagian atas dan ditemani cibuk atau alat untuk mengambil air menyerupai gayung, terbuat dari batok kelapa. Kemudian, ada pula beberapa buah gelas untuk minum air orang yang melintas di depan rumah.

Bagi masyarakat di daerah Pantura, tradisi ini lazim dilakukan dan mengandung filosofi tersendiri. Gentong berisi air tersebut dilambangkan sebagai suasana sejuk dan menyegarkan, sehingga terkandung harapan agar sanak saudara yang menjalankan ibadah haji merasakan hal yang sama.

Selain itu, dengan mengambil air di dalam gentong tersebut, diharapkan juga ikut mendapat berkah dan suatu saat dapat berkesempatan melaksanakan ibadah di Tanah Suci. Tradisi lain yang identik dengan gentong haji adalah pengajian yang dilakukan oleh keluarga besar dan juga para tetangga.

Pengajian surat Yasin itu diadakan sejak jamaah haji berangkat ke Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air. Doa-doa dipanjatkan agar jamaah haji khusyu menjalani ibadahnya. Selain itu, diharapkan menjadi haji yang mabrur saat kembali ke kampung halaman.

Beberapa daerah lain di sekitar Cirebon melakukan tradisi tawurji. Tradisi ini mirip dengan malam Halloween di Amerika, tetapi di praktikan dengan cara yang berbeda.

Tawurji itu sendiri berasal dari dua suku kata yaitu tawur dan ji. Makna kata tawur diartikan sebagai melemparkan sesuatu, sedangkan kata ji berasal dari kata haji atau kaji (sebutan lain untuk orang yang telah menunaikan ibadah haji di Cirebon).

Tradisi ini dimulai pada malam Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah. Saat itu anak -anak kecil akan berkeliling kampung selepas sholat magrib, hingga azan isya dengan menggunakan peci dan sarung dan membawa obor.

Biasanya sambil berkeliling, anak-anak tersebut akan berdiri di depan rumah dan akan menyanyikan tembang yang berbunyi “wur-tawur ji tawur, selamat dawa umur”. Dalam Bahasa Indonesia tembang tersebut kurang lebih memiliki makna “lemparkan ji (haji) lemparkan , selamat panjang umur”.

Kata lemparkan di sini yang dimaksud adalah memberikan uang kecil atau permen atau apapun dalam bentuk sedekah pada anak-anak tersebut. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here