Sekjen PBB Akan Kunjungi Pengungsi Rohingnya

400
Sekjen PBB Antonio Guterres (Foto: Anadolu)

Washington, Muslim Obsession – Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres akan mengunjungi para pengungsi Rohingya yang saat ini tinggal di pengasingan di Cox’s Bazar, Bangladesh pekan depan.

“Guterres akan tiba di negara Asia Tenggara ini pada 1 Juli bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim,” kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, seperti dilansir Anadolu, Jumat (29/6/2018).

“Kunjungan mereka akan menyoroti kemurahan hati Bangladesh karena menjadi tuan rumah gelombang pengungsi terbesar di 2017 dan pentingnya komunitas internasional untuk berbuat lebih banyak,” tambahnya.

Kedatangan tersebut, kata dia, untuk dialog bersama Pemerintah Bangladesh tentang rencana jangka menengah untuk situasi pengunsi dan menekankan kembali dukungan PBB dan Bank Dunia dalam mencari solusi terbaik atas situasi orang-orang Rohingnyan.

“Setelah melakukan pertemuan dengan otoritas Bangladesh di Ibu Kota Dhaka, Guterres dan Kim akan melanjutkan perjalanan ke Cox’s Bazar pada 2 Juli, di mana mereka akan bertemu langsung dengan pengungsi Rohingya dan pekerja-pekerja kemanusiaan dan mendorong bantuan dana lagi,” tukasnya.

Selain itu, menurut dia, distrik di sebelah tenggara Bangladesh ini telah menjadi rumah bagi ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan dan persekusi yang menimpa mereka di tanah kelahiran mereka, Myanmar.

Guterres dan Kim akan didampingi oleh Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi, dan Direktur Eksekutif Dana Populasi PBB Natalia Kanem.

“Mereka akan melihat situasi pengungsi Rohingya yang baru tiba di Bangladesh dan menilai kemajuan untuk pemulangan pengungsi yang aman, sukarela dan bermartabat, sesuai dengan standar internasional,” tuturnya.

Sebagai informai, sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750 ribu pengungsi, kebanyakan wanita dan anak-anak, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan militer Myanmar meluncurkan kekerasan kepada komunitas Muslim minoritas, menurut Amnesty Internasional.

Setidaknya 9.400 warga Rohingya tewas di Negara Bagian Rakhine sejak 25 Agustus hingga 24 September tahun lalu, menurut Doctors Without Borders.

Dalam laporan yang dirilis beberapa waktu lalu, kelompok kemanusiaan ini berkata kematian 71,7 persen atau 6.700 Rohingya ini disebabkan oleh kekerasan. Ini termasuk 730 anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang-orang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan akan serangan yang meningkat sejak belasan tewas dalam kekerasan komunal pada 2012.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh para personel keamanan.

PBB menyebut pembunuhan massal dan pengusiran ini sebagai aksi pembersihan etnis. (Bal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here