Sejarah Pilu Genosida Muslim di Bosnia

265
Sejarah Pilu Genosida Muslim di Bosnia (Photo: history.com)

Muslim Obsession – Pada bulan April 1992, pemerintah Republik Yugoslavia, Bosnia-Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia.

Kemudian selama beberapa tahun berikutnya, pasukan Serbia Bosnia, dengan dukungan pasukan Yugoslavia yang dikuasai Serbia, melakukan kejahatan yang mengerikan terhadap penduduk Bosniak (Muslim Bosnia) dan Kroasia.

Hingga mengakibatkan kematian sekitar 100.000 orang (80 persen dari penduduk Bosniak) pada tahun 1995. Genosida (pembantaian besar-besaran) tersebut merupakan tindakan genosida terburuk, sejak penghancuran rezim Nazi terhadap sekitar 6 juta orang Yahudi Eropa selama Perang Dunia II.

Kekuatan Slobodan Milosevic

Sebagai buntut dari Perang Dunia II, negara-negara Balkan dari Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Kroasia, Slovenia dan Makedonia menjadi bagian dari Republik Rakyat Federal Yugoslavia.

Maka setelah kematian pemimpin lama Yugoslavia, Josip Broz Tito pada tahun 1980, tumbuh nasionalisme di antara berbagai republik Yugoslavia yang terancam memisahkan serikat mereka.

Proses ini semakin intensif setelah pertengahan 1980-an dengan munculnya pemimpin Serbia Slobodan Milosevic. Dengan kekuatannya ia menimbulkan ketidakpuasan antara orang Serbia di Bosnia, Albania dan Kroasia.

Hingga pada tahun 1991, Slovenia, Kroasia, dan Makedonia mendeklarasikan kemerdekaannya. Selama perang susulan di Kroasia, pasukan Yugoslavia yang didominasi Serbia mendukung separatis Serbia di sana dalam bentrokan brutal dengan pasukan Kroasia.

Radovan Karadzic Di Bosnia, Muslim mewakili kelompok populasi tunggal terbesar pada tahun 1971. Namun, lebih banyak orang Serbia dan Kroasia yang berimigrasi selama dua dekade berikutnya. Pada sensus 1991, dari 4 juta penduduk Bosnia, 44 persennya ialah penduduk Bosniak. Sedangkan 31 persen Serbia, dan 17 persen Kroasia.

Namun pemilihan umum yang diadakan pada akhir 1990 menghasilkan perpecahan antara pemerintah koalisi dengan pihak-pihak yang mewakili tiga etnis (dalam proporsi kasar untuk populasi mereka) dan dipimpin oleh Bosniak Alija Izetbegovic.

Karena ketegangan yang dibangun di dalam dan di luar negeri, pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic dan Partai Demokrat Serbianya mengundurkan diri dari pemerintah dan mendirikan “Majelis Nasional Serbia”. Pada 3 Maret 1992, setelah referendum, Presiden Izetbegovic memproklamasikan kemerdekaan Bosnia.

Perjuangan Berat di Bosnia

Jauh dari mencari kemerdekaan bagi Bosnia, orang-orang Serbia Bosnia ingin menjadi bagian dari sebuah negara Serbia yang dominan di Balkan, yakni “Serbia Raya” yang telah lama dibayangkan oleh separatis Serbia.

Pada awal Mei 1992, dua hari setelah Amerika Serikat dan Masyarakat Eropa (pendahulu Uni Eropa) mengakui kemerdekaan Bosnia, pasukan Serbia Bosnia dengan dukungan Milosevic dan tentara Yugoslavia yang didominasi Serbia, melancarkan serangan mereka dengan pemboman terhadap Bosnia-Sarajevo.

Mereka menyerang kota-kota yang didominasi Bosnia di Bosnia bagian timur, termasuk Zvornik, Foca, dan Visegrad, mengusir secara paksa penduduk sipil Bosnia dari wilayah tersebut dalam proses brutal yang kemudian diidentifikasi sebagai “pembersihan etnis.”

Konon, pembersihan etnis berbeda dari genosida. Karena dalam tujuan utamanya adalah pengusiran sekelompok orang dari area geografis dan bukan pemusnahan fisik sebenarnya dari kelompok itu. Meskipun metodenya sama, seperti pembunuhan, perkosaan, penyiksaan, dan pemindahan paksa.

Meskipun pasukan pemerintah Bosnia berusaha mempertahankan wilayah, tapi dengan bantuan tentara Kroasia, pasukan Serbia Bosnia menguasai hampir tiga perempat dari negara pada akhir tahun 1993.

Tak hanya itu, partai Karadzic telah mendirikan Republika Srpska sendiri di Timur. Sebagian besar orang Kroasia Bosnia telah meninggalkan negara itu, sementara penduduk Bosniak yang signifikan hanya tinggal di kota-kota yang lebih kecil.

Beberapa proposal perdamaian antara federasi Kroasia-Bosnia dan Serbia Bosnia gagal, ketika Serbia menolak menyerahkan wilayahnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menolak untuk campur tangan dalam konflik di Bosnia.

Akan tetapi, kampanye yang dipelopori oleh Komisaris Tinggi untuk Pengungsi memberikan bantuan kemanusiaan kepada banyak pengungsi, yang kekurangan gizi dan korban luka-luka.

Srebrenica Massacre

Pada musim panas 1995, tiga kota di Bosnia timur — Srebrenica, Zepa dan Gorazde — tetap di bawah kendali pemerintah Bosnia. Amerika Serikat telah mendeklarasikan “tempat aman” ini pada tahun 1993, untuk dilucuti dan dilindungi oleh pasukan pemelihara perdamaian internasional.

Pada tanggal 11 Juli 1995, pasukan Serbia Bosnia maju di Srebrenica, membanjiri satu batalyon pasukan penjaga perdamaian Belanda yang ditempatkan di sana.

Pasukan Serbia kemudian memisahkan warga sipil Bosniak di Srebrenica, menempatkan perempuan dan gadis di bus dan mengirim mereka ke wilayah yang dikuasai Bosnia.

Beberapa perempuan diperkosa atau dilecehkan secara seksual. Sementara laki-laki dan anak lelaki dibunuh seketika atau digiring ke situs pembunuhan massal. Perkiraan, penduduk Bosniak dibunuh oleh pasukan Serbia di Srebrenica. Berkisar dari sekitar 7.000 hingga lebih dari 8.000.

Setelah pasukan Serbia Bosnia menangkap Zepa pada bulan yang sama dan meledakkan bom di sebuah pasar Sarajevo yang penuh sesak, komunitas internasional mulai merespon lebih kuat terhadap konflik yang sedang berlangsung dan korban sipil yang terus bertambah.

Pada Agustus 1995, setelah Serbia menolak untuk mematuhi ultimatum PBB, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bergabung dengan upaya pasukan Bosnia dan Kroasia selama tiga minggu, mengebom posisi Serbia Bosnia dan bertubi-tubi serangan darat.

Akibatnya, ekonomi Serbia lumpuh oleh sanksi perdagangan AS dan pasukan militernya di bawah serangan di Bosnia. Maka setelah tiga tahun peperangan, Milosevic setuju untuk memasuki perundingan.

Pembicaraan perdamaian yang disponsori AS di Dayton, Ohio, pada November 1995 (yang termasuk Izetbegovic, Milosevic dan Presiden Kroasia Franjo Tudjman) menghasilkan pembentukan sebuah federasi Bosnia yang dibagi antara federasi Croat-Bosniak dan sebuah republik Serbia.

Respon Internasional 

Meskipun komunitas internasional tidak banyak mencegah kekejaman sistematis yang dilakukan terhadap Bosnia dan Kroasia di Bosnia, mereka secara aktif mencari keadilan.

Pada Mei 1993, Dewan Keamanan PBB membentuk Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda. Itu adalah pengadilan internasional pertama sejak Pengadilan Nuremberg pada 1945-1946, dan yang pertama kali untuk mengadili tindakan genosida, di antara kejahatan perang lainnya.

Radovan Karadzic dan komandan militer Serbia Bosnia, Jenderal Ratko Mladic, termasuk di antara mereka yang didakwa oleh ICTY untuk genosida dan kejahatan lain terhadap kemanusiaan.

ICTY akhirnya menuntut 161 individu kejahatan yang dilakukan selama konflik di bekas Yugoslavia. Mereka dibawa ke hadapan pengadilan pada tahun 2002 atas tuduhan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Namun, kesehatan yang memburuk yang menimpa Milosevic, menyebabkan penundaan yang lama dalam persidangan. Sampai akhirnya dirinya ditemukan tewas di sel penjara pada tahun 2006.

Wallahu ‘Alam bish Shawab

(Vina – Disadur dari History of Bosnian Genocide)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here