Sedekah Terbaik dari Abu Thalhah

123
Ilustrasi: Kebun Kurma.

Muslim Obsession – Nama seorang sahabat Anshar, Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu sangat termasyhur di Madinah. Ia merupakan saudagar kaya raya yang terkenal karena kedermawanannya.

Sosok Abu Thalhah sangat menginspirasi, karena ia mewakafkan harta yang paling dicintainya. Kisahnya diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha’.

Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah ﷺ pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.”

Anas berkata, “Ketika turun ayat,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran: 92).

BACA JUGA: Secuil Kisah Kemuliaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah ﷺ. Ia lalu menyampaikan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu.

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.” (HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.

BACA JUGA: 10 Sahabat Perempuan Nabi yang Jarang Dikenali Publik

Dari hadits ini, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya memberikan nafkah dan sedekah kepada kerabat, istri, anak, dan orang tua, sekalipun mereka musyrik. Kerabat harusnya lebih diperhatikan dalam silaturahim.

Seperti halnya Abu Thalhah yang akhirnya memberikan kebunnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Hassan bin Tsabit.

Bersedekah kepada kerabat memiliki keutamaan dan dua pahala, yaitu pahala menjalin hubungan kerabat (silaturahim) dan pahala sedekah.

Manusia itu Pelit

Pada dasarnya, sifat manusia itu pelit sehingga bersedekah dengan harta yang dicintai itu akan terasa sangat berat. Sifat manusia itu sangat mencintai harta, enggan mengeluarkannya.

Allah Ta’ala menegaskan hal ini dalam QS. Al-Fajr ayat 20:

وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.

BACA JUGA: 5 Sahabat Nabi yang Kaya Raya dan Dermawan

Sifat manusia yang bakhil disebutkan juga dalam QS. Al-‘Adiyat ayat 8:

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, ada dua makna yang tersirat dalam ayat ini. Pertama, manusia itu sangat cinta pada harta. Kedua, manusia sangat tamak dan bakhil (pelit) dengan harta sehingga mencintainya berlebihan. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:635).

Mengetahui bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat bakhil dan cinta yang berlebihan terhadap harta, maka sejatinya, jika ada yang bisa mengeluarkan harta yang ia cintai untuk bersedekah, itu sangat luar biasa.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here