Sarung Kotak Sang Jenderal Besar

613
Pak Nas dalam sejumlah kesempatan lebih senang mengenakan sarung bercorak kotak-kotak.

Muslim Obsession – Di kalangan kuli tinta, nama Jenderal Besar Abdul Haris Nasution memiliki tempat istimewa. Bukan soal ia sosok yang ramah dan mudah didekati, lelaki kelahiran Mandailing Natal, 3 Desember 1918 ini juga unik karena keshalihannya. Pak Nas dinilai ‘terlampau’ shalih karena kedekatannya (taqarrub) kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang sulit disamai oleh orang lain.

“Pada banyak kesempatan wawancara bersama para wartawan, Pak Nas seringkali meminta undur diri ketika mendengar adzan. Beliau rupanya sosok yang gemar shalat di awal waktu,” ungkap Sahrudi, Pemimpin Redaksi Men’s Obsession yang beberapa kali mewawancarai Pak Nas saat masih menjadi wartawan Harian Bali Post.

Sikap Pak Nas ini bukan ‘kaleng-kaleng’ yang hanya mencari sensasi di depan para wartawan agar diberitakan. Pak Nas adalah Pak Nas yang jujur bersikap kepada siapapun. Bahkan di hadapan Presiden Sukarno selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia. Ketika rapat dengan Bung Karno dan tiba waktu shalat, Pak Nas selalu minta izin undur diri untuk mendirikan shalat terlebih dahulu.

“Iya, papa memang punya sifat itu. Karena dipanggil Tuhan itu nomor satu daripada dipanggil manusia, kan begitu. Papa punya prinsip begitu,” terang Hendrianti Sahara Nasution atau Yanti Nasution, putri sulungnya.

Bagi Pak Nas, shalat seperti benang yang menghubungkan dirinya dengan Allah. Jika terputus benang itu, maka hilanglah kesempatannya untuk meraih kemudahan dalam beraktivitas. Pak Nas selalu menghadirkan Allah dalam setiap kesempatan, apalagi ketika ‘panggilan’ Tuhan itu tiba. Ia meyakini bahwa Allah adalah Maha Pemberi Solusi yang kepada-Nya Pak Nas selalu menggantungkan harapan.

Seperti umumnya Muslim di Tanah Air, Pak Nas juga senang mengenakan sarung saat menunaikan shalat. Tentu kondisi ini berbeda ketika ia bertugas, dimana Pak Nas shalat mengenakan pakaian dinas. Di rumah, saat santai, Pak Nas paling senang mengenakan sarung. Ia memiliki beberapa sarung yang umumnya bermotif kotak-kotak. Sarung-sarung Pak Nas hingga saat ini masih berada di kediamannya yang kini menjadi Museum Jenderal Besar AH. Nasution di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Di kamar tidur yang juga dihiasi diorama peristiwa G30S, sarung-sarung Pak Nas berada di sebuah tempat khusus. Sementara di meja bundar dekat dengan tempat tidur terdapat kotak kayu tempat menyimpan Al-Quran. Ada satu sobekan cukup besar di atas meja bundar itu bekas tembakan pasukan yang menyerang kediaman Pak Nas di pagi yang kelam, 1 Oktober 1965.

“Hingga sekarang ada sarung papa yang sering saya gunakan untuk shalat. Ini mengingatkan saya kepada papa yang selalu mengajarkan pentingnya shalat kepada kami keluarganya,” kenang Yanti.

Kedekatan Pak Nas dengan keluarga, termasuk cucu dan cicitnya, serta ajarannya tentang Islam memang sangat lekat. Tak heran jika Pak Nas juga menjadi inspirator, sehingga beberapa cicitnya menjadi hafizh Al-Quran. Yanti mengatakan, enam cucunya (cicit Pak Nas) rata-rata sudah hafal Al-Quran, mereka sekolah di Madinah Arab Saudi. Anak ketiga Yanti menikah dengan cucu Jenderal Sudirman.

Kotak Al-Quran ini masih tersimpan di kamar Pak Nas yang sekarang menjadi salah sebuah sudut Museum Jenderal Besar Dr. AH Nasution. (Foto: Imam/OMG)

Yanti menyimpan kisah lucu tentang praktik keislaman Pak Nas. Kisahnya, Pak Nas yang memiliki wudhu kerap merengut jika Ibu Johanna tak sengaja menyentuh kulitnya. Bagi penganut mazhab Imam Syafi’i yang taat, bersentuhan kulit dengan istri dapat membatalkan wudhunya. Sebaliknya, Ibu Johanna hanya tersenyum geli melihat sikap Pak Nas.

Pak Nas juga sering mengingatkan istrinya untuk mengenakan kerudung (hijab/jilbab). Namun karena Ibu Johanna berasal dari lingkungan keluarga Belanda dan Jawa yang kuat memegang kepercayaannya (kejawen), istri Pak Nas belum tergerak mengenakan kerudung bahkan hingga ia meninggal dunia.

“Ibu Johana itu masuk Islam setelah nikah dengan bapak. Ibu memang Islam tapi nggak masuk (terlalu dalam) ke situ. Ketika bapak melihat orang banyak pakai kudung, bapak pun meminta ibu pakai. Tapi ibu belum ingin pakai kerudung,” kata Yanti.

Hingga suatu ketika Ibu Johana pernah mengatakan kepadanya, kalau ia sudah akan meninggal, baru ia akan pakai kerudung. Meski pada akhirnya hingga ia wafat, tetap belum mengenakan kerudung. Malah ia juga pernah mengatakan, “Begini saja ya, nanti kalau sudah ada batu nisan saya baru tulis di batu nisan, Hajjah Johana Sunarti Nasution. Biar ayah kamu nggak lihat mama pakai kerudung, tapi mama sudah laksanakan semua yang insya Allah diminta oleh Allah.”

Sikap Johana itu, menurut Yanti, bukan tanpa alasan. Johana yang pernah menunaikan ibadah haji, pernah menyampaikan alasan itu kepadanya. Antara lain Johana mengatakan bahwa setiap orang harus bisa berbuat baik, dan ia merasa sudah melakukannya. Dalam keseharian Johana, Yanti pun menyaksikannya. Johana sosok Muslimah taat. Ia rajin berkegiatan sosial juga shalat sunnahnya.

“Ibu saya kan sosial iya, sholat Dhuha iya, semua sholat dia laksanakan. Seperti itu. Nomor satu bagaimana mencontohkan orang dalam perbuatan. Karena banyak orang bolak-balik pergi haji tapi pulang dari sana jadi seperti begitu. Atau terus-terusan umrah untuk jalan-jalan. Daripada begitu mending umrahin orang karena banyak yang belum umrah. Jadi itu juga dilakukan ibu saya,” tutur Yanti.

Suatu saat, imbuh Yanti, Ibu Johana memiliki uang untuk berangkat haji. Namun ketika itu pembantu Ibu Johana mengatakan jika di rumahnya belum punya kasur. Maka uang untuk ibadah haji itu pun diberikan Johana kepada pembantunya untuk membeli kasur, untuk keluarga pembantunya.

“Jadi ibu saya itu, bagaimana orang dalam perbuatannya itu loh. Nah ini yang menonjol dari keislaman ibu saya. Baginya, yang penting kan perbuatan kita dulu dan apa yang kita lakukan. Begitu kedua orangtua saya itu, begitu modelnya,” kisah Yanti. (Ditulis oleh Imam Fathurrohman)


** Ditulis dalam rangka Mengenang 101 Tahun Jenderal Besar TNI (Purn) Dr. AH. Nasution. Acara peringatan digelar Obsession Media Group (OMG) di Museum Jenderal Besar Dr. AH. Nasution, Jumat 20 Desember 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here