Sarapan “Ndeso”, Saoto Bathok Mbah Katro

331
Saoto Bathok Mbah Katro, Yogyakarta (Foto: Fath/Obsession Media Group)

Yogyakarta, Muslim Obsession – Kota klasik Yogyakarta tak pernah kehabisan cerita uniknya. Tak cuma setiap sudutnya yang sangat klasik nan tradisional, Yogya juga menawarkan kuliner lokal yang aduhai.

Soal makanan, Yogya tak hanya punya bakpia pathok, gudeg, krecek, cenil, atau geplak. Kota Pelajar ini juga punya saoto bathok yang konon rasanya ‘ndedesh’.

Tak percaya, begitu landing di bandara Adi Sucipto, saya langsung minta diantar ke kawasan Candi Sambisari. Di sana terdapat warung saoto bathok Mbah Katro yang namanya cukup melegenda.

Dari bandara, driver memacu mobilnya menyusuri jalanan bersemen di sepanjang situs Candi Sambisari ke arah utara. Tepatnya, warung saoto bathok Mbah Katro berada di Jl. Candi Sambisari No. 6, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Letak warung saoto bathok Mbah Katro tak begitu jauh dari bandara. Hanya sekira 20 menit saja, warung saoto bathok yang berbentuk barisan saung di galangan sawah itu bisa kita temui.

Kepulan asap dari batok kelapa berisi saoto terlihat jelas saat saya tiba di area utama warung tersebut. Di sini, sebelum masuk barisan saung bambu tempat menikmati makanan, saya harus pesan varian menu yang daftarnya ditawarkan para pelayan.

Saoto pada dasarnya adalah soto yang kita kenal. Berisi irisan daging sapi, tauge, daun seledri, dan bawang. Sederhana kelihatannya. Tapi yang membuat saoto ini melegenda adalah rasa kuahnya yang ‘ndedesh’.

Kuah panas yang dituangkan langsung dari panci besar itu terasa nikmat dan segar. Apalagi saya menambahinya dengan perasan jeruk nipis dan sambel. Wah, kenikmatan yang paripurna!

Penyebutan saoto umumnya digunakan oleh masyarakat Solo. Jika dilihat dari rupa dan rasanya, saoto bathok Mbah Katro memang merupakan ‘reinkarnasi’ soto khas Solo.

Kenikmatan yang ditawarkan Mbah Katro tak berhenti di situ. Saya satu persatu mencicipi tempe goreng, sate usus ayam, dan sate telur puyuh. Hmmmhh…lidah semakin semangat untuk terus bergoyang.

Sajian saoto bathok dan kawan-kawannya ini benar-benar menantang. Saya tak cukup melahap satu bathok saoto campur nasi, meski sudah ditambah dua tempe dan dua tusuk telur puyuh.

Alhasil, ronde keduapun saya mulai. Kali ini, saoto saya coba imbangi dengan sate usus ayam yang rasanya juga ‘ndedesh’.

“Alhamdulillah, menang banyak pagi ini,” pikir saya.

Ya, boleh dikatakan demikian. Saya menang banyak pagi ini. Bayangkan, dengan sajian nikmat ini saya tak perlu merogoh kantong dalam-dalam.

Setelah melihat daftar harganya, macam makanan di warung ini sangat murah. Saoto campur nasi hanya dipatok harga lima ribu rupiah saja perbatoknya. Sementara sate telur puyuh harganya hanya dua ribu rupiah saja. Padahal satu tusuk isinya empat telur puyuh cukup besar.

Saya makin terperangah melihat harga makanan lainnya. Sate usus hanya seribu rupiah. Tempe cuma lima ratus rupiah, dan varian minuman seperti teh manis atau jeruk panas hanya dua ribu rupiah.

Wuihhh…coba bayangkan jika menu ini dijual di Jakarta.

Pagi jelang siang, saya bersiap melakoni tugas lainnya. Kali ini saya merasa sangat puas saat beranjak dari papan lesehan tempat makan tadi. Makan nambah, sajian nikmat, tak perlu uang banyak.

Hmmh..saya kira, ini hanya ada di Yogyakarta. Tak percaya? Ayo ke sini kalau berani!

(Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here