Santri yang Dicemburui

72
Ilustrasi: Kiai dan para santri.

Oleh: Syafrudin Anhar

Dalam kehidupan di pesantren, ada sebuah cerita. Di kalangan pesantren cerita ini sudah menyebar.

Dikisahkan, seorang Kiai yang kharismatik sebagai pengasuh pondok pesantren, didatangi oleh sejumlah santri -seperti didemo lah gitu– dalam jumlah yang agak banyak. Para santri ini menyatakan sebagai perwakilan dari seluruh santri yang ada di pondok pesantren tersebut.

Didatangi oleh begitu banyak santrinya, Kiai tersebut terkejut sejenak, namun tetap tenang. Setelah membalas salam para santri, Kiai tersebut menyapa dengan tenang.

Setelah berbincang Panjang, singkat cerita, para santri menanyakan perlakuan yang diberikan sang Kiai kepada seorang santri yang bernama si Pulan (nama seorang santri yang tidak ikut dalam rombongan menghadap Kiai).

“Iya Kiai. Kiai lebih memperhatikan si Pulan. Dia itu yang selalu diperhatikan, yang selalu dipercaya dan disayang oleh Kiai,” sahut santri yang lain.

“Astaghfirullahal ‘azhim”. Istighfar Kiai keluar dari mulutnya yang tipis dan lembut itu. “Si Pulan yang kalian cemburui?” sambil tersenyum Kiai seolah bertanya.

“Jawabannya begini,” kata Kiai tegas. “Besok, kalian kumpuli semua teman teman santri kalian termasuk si Pulan,” sambung Kiai.

“Besok, besok itu, kita potong ayam!” Lanjut Kiai. Dengan lembut, kemudian Kiai menyuruh semua santri yang menghadap itu pulang.

Dengan rasa bingung dan heran atas jawaban yang tertunda, para santri pulang balik ke asrama masing masing.

Esok hari tiba. Setelah shalat Shubuh, dzikir, dan tadarus, para santri berkumpul termasuk si Pulan.

Sebagaimana janji sang Kiai kemarin, semua santri diberi masing masing satu ekor ayam, termasuk si Pulan. Setelah para santri memegang masing-masing satu ekor ayam.

Sang Kiai berkata, “Anak-anakku para santri. Seperti yang saya ucapkan kemarin, kita akan memotong ayam. Dan masing-masing kalian sudah memegang satu ekor ayam,” ujar sang Kiai menjelaskan.

“Sekarang, silakan kalian potong ayam tersebut, dengan syarat, pertama menyebut nama Allah SWT terlebih dahulu sebelum ayam itu dipotong. Syarat kedua, saat kalian memotong, jangan sampai ada yang melihat dan mengetahuinya!” perintah sang Kiai.

“Bagaimana, kalian bisa?” tanya sang Kiai.

“Bismillah Kiai, siap!” jawab para santri serempak.

“Silakan kalian lakukan penyembelihan. Setelah menyembelih kalian kembali dan bersihkan, kemudian kalian simpan di-cold stored pondok untuk dibekukan,” perintah sang Kiai.

Bertebaranlah semua santri yang telah memegang seekor ayam itu. Ada yang memotong sembunyi di kamar kecil. Ada yang memotong di balik tembok pesantren. Ada yang pergi ke tepi sungai yang sepi. Ada yang di tengah sawah, dan lain-lain tempat yang diyakini tidak ada yang melihat dan mengetahui.

Setelah ayam-ayam itu dipotong, para santri kembali ke pondok menyerahkan sembelihannya kepada sang Kiai, sambil menghitung jumlah ayam yang diberikan kepada para santri tersebut.

Namun, ternyata setelah dihitung, kurang satu ekor. Sang Kiai menghampiri para santri yang masih berkumpul.

“Setelah saya hitung, ayam yang kalian sembelih ternyata kurang satu ekor. Siapa yang belum mengembalikan atau yang belum kembali?” tanyanya.

Semua santri saling menoleh dan berpandangan. Mereka gelisah, karena semua dari mereka itu telah melakukan apa yang Kiai perintah dan pesankan.

Saat itu hari sudah hampir siang, tapi satu ekor lagi ayam tersebut belum dikembalikan. Ini artinya masih ada satu santri yang belum kembali untuk mengembalikan ayam yang sudah dipotong.

Setelah diabsen ternyata yang belum kembali adalah si Pulan.

Para santri pada bergunjing, kesal dan marah. “Ke mana nih si Pulan? Diperintah dan dipesan sama Kiai untuk motong ayam saja, sampai saat ini belum datang,” gumam salah satu santri.

“Padahal dia kan santri kesayangan Kiai, potong ayam sambil sembunyi aja gak bisa,” timpal santri yang lain.

Dalam suasana agak gaduh, karena hampir semua mencemooh santri yang belum kembali, tiba-tiba, dengan langkah yang agak pelan, si Pulan datang menghampiri tempat berkumpulnya santri bersama sang Kiai.

Ternyata si Pulan kembali dengan seekor ayam yang masih utuh dan masih hidup. Si Pulan menghampiri sang Kiai sambil berkata, “Saya tidak sanggup melakukan apa yang Kiai perintahkan dan pesankan”.

“Kenapa tidak sanggup kamu melakukannya? Teman-teman kamu, santri-santri yang lain telah menyembelih ayam-ayam tersebut,” kata Kiai.

“Kiai memberi dua syarat. Syarat pertama sangat mungkin saya bisa lakukan, karena hanya mengucap Bismillah. Tapi syarat kedua, saya tidak bisa lakukan Kiai,” jawab si Pulan.

Ia melanjutkan, “Tidak mungkin saya memotong seekor ayam tanpa ada yang melihat dan mengetahui. Karena di manapun saya memotongnya pasti ada yang melihat dan mengetahuinya”.

Si Pulan menambahkan argumentasinya, “Mungkin manusia atau binatang tidak melihat dan mengetahuinya, tapi ada satu Dzat yang pasti melihat dan mengetahuinya”.

Sejenak berhenti si pulan berargumen. Kemudian ia melanjutkan, “Satu Dzat itu adalah Allah SWT Yang Maha Melihat dan Mengetahui. Jadi jika syaratnya itu, saya tidak akan bisa melakukannya, di manapun dan kapanpun,” kata si Pulan mengakhiri.

Sambil tersenyum, sang Kiai merengkuh pundak si Pulan, seakan seperti memeluknya. Kemudian sayang Kiai berkata, “Anak-anak santriku semua, inilah jawaban atas tuntutan atau protes kalian kemarin”.

Sang Kiai melanjutkan, “Si Pulan ini sangat menyakini bahwa apapun yang kita lakukan atau perbuat pasti diketahui Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa”.

“Jangankan perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh fisik kita ini,” jelas Kiai, “Baru terbesit di hati atau qalbu kita saja, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa pasti mengetahuinya.”

Mendengar penjelasan sang Kiai, santri-santri yang hadir semua terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.

*****

Dari cerita ini, sahabat sekalian, kita mendapat pelajaran tentang seringnya kita hilang ingatan dan pengetahuan tentang Dzat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui tanpa batas. Dialah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

…إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۗ…

“…Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka…” (QS. Al-Hajj: 75-76)

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here