Santri, Elanvital Keislaman dan Keindonesiaan

265

Oleh: Miftakhudin Tauhidy (Aktivis Islam)

Penetapan Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah, yakni seruan Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh para ulama pada 22 Oktober 1945.

Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berjuang sungguh-sungguh dengan seluruh jiwa, raga dan harta melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan.

Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentara Inggris, rupanya ada pasukan Belanda yang ikut membonceng.

Kabar akan mendaratnya 6.000 Tentara sekutu Inggris yang diboncengi NICA pada tanggal 25 Oktober 1945 yang akan mengambil alih wilayah jajahan Belanda dari Jepang disambut dengan Resolusi Jihad oleh para ulama dan santri pada hari Senin 15 Dzulqaidah 1364 H bertepatan dengan 22 Oktober 1945.

Semangat jihad juga tidak hentinya dikobarkan oleh Bung Tomo (1920 – 1981) melalui Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia. Dengan panggilan Resolusi Jihad ulama dan santri serta kumandang Takbir dari Bung Tomo, para ulama dan santri membanjiri Kota Surabaya.

Ulama yang langsung hadir di Surabaya membangkitkan semangat jihad, di antaranya Hadrattus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Asy’ari dan KH. Tunggul Wulung dari Jogjakarta, KH Abbas dari Buntet Cirebon dan KH. Kamil dari Garut.

Kehadiran para ulama di Surabaya membangkitkan para pemuda dan santri untuk bergabung dalam barisan Sabilillah, di antaranya tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang terbentuk tanggal 2 Oktober 1945 yang ikut serta dalam pertempuran 10 hari di Surabaya bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pada hari kesembilan pertempuran, tepatnya tanggal 31 Oktober 1945 tentara Sekutu dipukul mundur dengan tewasnya Brigadir Jendral Mallaby.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang baru dibentuk tanggal 24 Dzulqaidah 1364 bertepatan dengan tanggal 5 Oktober 1945 berhasil mengorganisasi perlawanan ulama dan santri membuahkan tewasnya perwira tinggi sekutu.

Tewasnya Mallaby merupakan sejarah terburuk bagi sekutu yang tidak pernah kehilangan perwira tingginya dalam Perang Dunia II (1939 – 1945 M).

Menengok sejarah perjuangan “Santri Zaman Old” yang atas berkat Rahmat Allah SWT dan keinginan luhur, berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaan menjadi cermin motivasi generasi “Santri Zaman Now” untuk bersungguh sungguh memerangi “kejulidan” dan meraih kejayaan agama dan bangsa di masa depan.

Sinyal optimisme kejayaan agama dan bangsa akan semakin menguat ketika fungsi dan peran santri juga menguat.

Istilah Santri sendiri, dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI) setidaknya mengandung 2 pengertian. Pertama adalah orang yang mendalami agama Islam dan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang shalih.

Kedalaman Ilmu Agama Islam dan kesungguhan amal shalih inilah dua poin penting yang menjadi penopang utama 5 unsur elanvital yang terangkum dalam kata (سنتري), dimana setiap hurufnya memiliki makna yang dalam, antara lain:

  1. Sin (س) adalah kepanjangan dari سَافِقُ الخَيْرِ yang memiliki arti Pelopor Kebaikan.
  2. Nun (ن) adalah kepanjangan dari نَاسِبُ العُلَمَاءِ yang memiliki arti Penerus Ulama.
  3. Ta (ت) adalah kepanjangan dari تَارِكُ الْمَعَاصِى yang memiliki arti Orang yang meninggalkan kemaksiatan.
  4. Ra (ر) adalah kepanjangan dari رِضَى اللهِ yang memiliki arti Ridha Allah.
  5. Ya (ي) adalah kepanjangan dari اَلْيَقِيْنُ yang memiliki arti Keyakinan.

Sekali lagi, sinyal optimisme kejayaan keislaman dan keindonesiaan akan semakin menguat tegak lurus dengan menguatnya fungsi dan peran santri.

SELAMAT HARI SANTRI. Santri berjaya Indonesia Jaya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here