Sang Mutiara Itu (4)

215

Di sisi lain, saya ini sering tidak dikenal sebagai seorang Muslim di Amerika. Biasa, bagian dari stigma seolah Muslim itu adalah Arab. Atau dengan pakaian ala Arab atau Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh).

Karenanya ketika saya memulai percakapan dengannya sang pemuda itu barangkali dia tidak tahu kalau saya Muslim. Mungkin di pikirannya saya ini seorang asal Meksiko. Lalu percakapan pun terjadi:

Saya: My friend, where are you from (anda dari mana)?
Pemuda: From Pakistan.
Saya: I guess so (saya memang menyangka demikian)
Saya: What is your name?
 (Siapa Nama anda?)

Sang pemuda tidak menjawab. Tapi dia menunjukkan tanda nama (name tag) di dadanya. Sambil tersenyum kepadanya, kali ini saya memanggil dia: My Brother.

Saya: My Brother, I lived in Pakistan and I’d never encountered any body has a Chinese name. How it is possible? (Saya pernah tinggal di Pakistan 7 tahun dan tidak pernah ketemu dengan seorang Pakistan yang bernama dengan nama China. Kok bisa?

Pemuda itu tersipu malu dan berkata: actually my name is Mohammed.

Saya kemudian agak serius dan berkata: why do you change your name? (Kenapa ganti nama?).

Sang pemuda itu menjawab: Brother, you know I am working in a public place. I am worried people will be scared to come  if they know that I am a Muslim (Saya kerja di tempat umum. Saya khawatir orang akan takut datang kalau tahu saya Muslim).

Saya dengan sedikit serius berkata kepadanya: Brother, that name is highly admired in Amerika. (Nama itu sangat dihargai di Amerika)Don’t you know Muhammad Ali? (Tidakkah anda tahu Muhammad Ali, sang petinju legendaris?).

Saya meninggalkan Dunkin Donat itu dengan sedikit gusar. Kenapa orang ini ketakutan sebelum ada yang menakutinya? Kenapa malu dan khawatir, atau kehilangan rasa mulia dengan sebuah nama termulia di dunia ini?

Saya kemudian terpikir. Ternyata imannya belum menauladani cara Rasulullah dalam beriman. Dia goncang. Dia takut sebelum ditakuti. Malu dengan sebuah kemuliaan.

Karenanya salah satu sunnah atau ketauladanan kepada Rasulullah SAW adalah dengan menauladani karakter keimanannya. Keimanan yang kokoh (unshakable) dalam menghadapi semua keadaan yang ada. (Bersambung)…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here