Sang Mutiara Itu (4)

212

Rasulullah SAW dalam mengimani kebenaran ini diimani sebagai api perubahan. Dengan Islam ini Rasulullah bertekad melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan. Dengan Islam kesemrawutan hidup menjadi terinstitusional secara rapih. Kemiskinan kepada kemakmuran, kebodohan kepada intelektualitas, permusuhan dan peperangan kepada ukhuwah dan kedamaian.

Keimanan sejati kepada kebenaran Islam juga akan teruji pada situasi yang kurang menguntungkan. Di saat tantangan dan kesulitan menghadang dalam Perjalanan kepada Ilahi. Di saat itulah iman akan menampakkan diri, benar (Shadiq) atau justeru kepura-puraan (hypocrisy).

Baca: 

Sang Mutiara Itu

Sang Mutiara Itu (2)

Sang Mutiara Itu (3)

Kita diingatkan bagaimana keimanan Rasulullah terbukti kokoh, bagaikan batu karam di tengah Samudra luas. Tidak goyah, tidak minder. Tapi justru tegar menghadapi terpaan ombak itu.

Allah pun menegaskan itu: “apakah manusia dibiarkan mengaku beriman tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji mereka yang sebelum untuk Allah ketahui (buktikan) mana yang jujur (dalam keimanan) dan mana yang berdusta (tentang iman)”.

Satu contoh populer ketegaran yang sering kita baca atau dengarkan dari para penceramah adalah kisah Rasul dalam sebuah peperangan. Di saat ada kesempatan untuk rehat dari kepenatan perang yang dahsyat, beliau tiba-tiba tertidur sendirian di bawah sebuah pohon. Jauh dari perhatian sahabat-sahabat beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here