Saat Diberi, Pentingkah Ucapkan ‘Terima Kasih’?

201
Sering-seringlah ucapkan 'terima kasih'.

Muslim Obsession – Perilaku take and give menjadi tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karenanya saling menghormati satu sama lain menjadi sebuah keharusan agar kehidupan berjalan harmonis.

Cara menghormati bisa beragam, namun bisa dimulai dengan yang paling mudah. Yaitu dengan mengucapkan ‘terima kasih’.

Mudah? Ternyata tak selalu demikian.

Nyatanya, tuntutan dan tekanan dari lingkungan sekitar seringkali membuat kita sulit mengatakan “terima kasih”. Padahal kata tersebut memiliki kekuatan cukup besar untuk mengubah keadaan, baik pada diri sendiri dan orang di sekitar.

Harus dipahami bahwa mengucapkan ‘terima kasih’ dengan penuh kesadaran dan kejujuran merupakan anjuran penting dalam syariat Islam. Karena berterima kasih sejatinya merupakan bentuk syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Seseorang belum merealisasikan rasa syukur kepada Allah selama ia tidak mampu bersyukur (berterimakasih) atas kebaikan orang lain terhadap dirinya,” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Hadits tersebut bisa kita pahami bahwa siapa saja yang tidak berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik padanya, maka ia sulit pula bersyukur pada Allah. Dan Allah tidaklah menerima syukur seorang hamba, sampai ia berterima kasih kepada orang lain.

Apakah cukup sampai di situ?

Islam merupakan agama paripurna yang mengajarkan para pemeluknya untuk berbuat kebaikan. Bahkan berbuat kebaikan melebihi kebaikan yang ia terima dari orang lain.

Artinya, ketika ada seseorang mendapatkan kebaikan dari orang lain, maka ia harus memberikan kebaikan serupa atau lebih baik dari itu. Tentu jika ia mampu, maka tak hanya mengucapkan terima kasih.

Dari Jabir bin Abdillah Al Ansahary, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ

“Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.”

(Shahih) Takhrijut Targhib (2/55), Ash Shahihah (617): [Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 87-Bab Maa Jaa-a fii Man Tasyabba’a bimaa Lam Yu’thihi].

Umat Islam diajarkan agar tak pelit berbuat kebaikan. Karena kebaikan memiliki domino effect yang akan menghasilkan kebaikan-kebaikan lainnya dan akan kembali pada pelakunya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 7:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri….”

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here