Rumah Hafidz Indonesia, Mencetak Para Penghafal Al-Quran dalam Waktu Singkat

633
Santri RHI sedang melakukan kegiatan murojaah (Foto: Edwin Budiarso)

Muslim Obsession – Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran semakin menjamur di tanah air. Banyaknya orangtua yang ingin agar anaknya bisa menghafal Al-Quran, bisa jadi salah satu penyebabnya.

Ya, antusiasme masyarakat terhadap lembaga tahfidz Al-Quran mulai meningkat akhir-akhir ini. Fakta ini didukung maraknya acara televisi yang menampilkan anak-anak kecil yang pandai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan bahkan sudah hafal puluhan juz.

Setiap orangtua, tentu saja, ingin agar anaknya bisa menghafalkan Al-Quran karena itu merupakan investasi di akhirat kelak.

Al-Quran merupakan mukjizat nyata warisan Rasulullah Saw., berupa firman Allah yang bisa kita baca, tadaburi, bahkan kita tanamkan (install) ke dalam diri kita dengan cara menghafalnya.

Seiring merebaknya fenomena menghafalkan Al-Quran, bermunculan juga lembaga yang membuka progam tahfidzul quran dengan beragam metode yang ditawarkan. Salah satunya adalah Rumah Hafidz Indonesia (RHI) yang menawarkan kemudahan dalam menghafal Al-Quran.

RHI memiliki metode menghafal Al-Quran hanya dalam waktu 50 hari yang diberi nama LUPAKAN. Pada pelaksanaannya, para santri akan diminta untuk melupakan apa saja yang dapat mengganggu hafalan itu, entah itu hobi, bisnis, ataupun pekerjaan. Hal itu dilakukan agar para santrinya dapat fokus dan istiqomah dalam belajar menghafalkan Al-Quran.

“LUPAKAN itu sendiri adalah merupakan singkatan. Huruf ‘L’ berarti lupakan hal yang dapat mengganggu. Kedua ‘U’ ucapkan. Apa yang diucapkan adalah membaca ayat per halaman yang akan kita hafal, lalu kemudian kita membaca berulang-ulang. Berikutnya ‘P’ dan ‘A’ adalah PAhami arti ayat-ayat Al-Quran. Kami menggunakan dua mushaf dalam menghafal itu, ada mushaf hafalan khusus dan ada mushaf terjemah per kata,” ujar pendiri Rumah Hafidz Indonesia, Syafruddin saat berbincang-bincang dengan Muslim Obsession.

Mushaf  terjemah per kata ini, menurutnya, mendukung kegiatan para santri memahami artinya, karena ayat demi ayat Al-Quran itu terkait.

“Nah kemudian ‘K’, ‘A’, dan ‘N’ itu adalah kaitKAN artinya, kemudian terakhir adalah setorKAN. Jadi mendapatkan hafalan itu disetorkan. Itu adalah LUPAKAN,” tambahnya.

Dauroh ini juga menganjurkan para santrinya untuk dikarantina. Hal ini dilakukan agar para santri dapat fokus untuk menghafal Al-Quran. Jika tidak seperti itu para santri malah tidak bakal fokus untuk menghafal Al-Quran, karena pada dasarnya Dauroh ini berdiri memiliki satu misi yaitu untuk mencetak para santri agar mencintai Al-Quran sehingga mudah untuk menghafalnya.

“Karantina ini karena memang fokusnya dalam menghafal, jadi semua peserta yang hadir itu mereka mempunyai satu misi, satu tujuan bahwasanya mereka hadir ke Daurah hanya untuk menghafal Al-Quran saja. Mereka dikondisikan dalam  karantina. Itu fokusnya hanya satu, fokusnya adalah Al-Quran. Jadi setiap hari mereka membuat target kemudian target disetiap hari harus meningkat,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here