Rhenald Kasali Gelar Diskusi Buku Series on Education

350
Rhenald bersama Elisa Kasali urun rembug dalam buku barunya ‘Sentra, Inspiring School’.

Jakarta, Muslim Obsession – Terpanggil oleh kritik badan-badan dunia terhadap kualitas pendidikan di Tanah Air, Rhenald Kasali urun rembug dalam buku barunya ‘Sentra, Inspiring School’.

Dalam Series On Education, Rhenald menunjukkan progress yang telah dijalani unit pendidikan usia dini pada yayasan Rumah Perubahan yang dipimpinnya selama 15 tahun.

“Dengan metode Sentra kami berhasil membentuk higher-order thinking yang biasa dikenal sebagai higher order thinking skills (HOTS) yang menjadi acuan dalam survei skor PISA,” ujarnya saat diskusi buku ‘SENTRA, Inspiring School, Membangun Kecerdasan dan Kemampuan Anak Sejak Usia Dini, Demi Masa Depan yang Cemerlang’ di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Menurut Rhenald, besar kemungkinan masyarakat telah terperangkap oleh judul higher level yang seakan-akan terpisah atau merupakan tahapan dari lower order of thinking seperti menghafal.

“Kenyataannya, level pemahaman sudah bisa dibentuk bersamaan saat anak mulai melatih motorik kasar dan halus, bahasa, maupun rasa pervaya diri. Bahkan membangun empati dan jiwa sosial menjadi domain berpikir yang bisa dibangun sambil bermain sejak usia dini,” jelasnya.

Rhenald dan Elisa Kasali memaparkan pencapaian anak-anak yang dibimbingnya selama 15 tahun dan menunjukkan progres yang membanggakan, kendati anak-anak berasal dari kalangan kurang mampu.

Menggunakan studi dan hasil terbaru dalam neuroscience, Rhenald bersama Elisa Kasali menemukan ternyata untuk membentuk karakter, anak-anak sudah mampu mengenal mana yang baik dan mana yang “jahat” atau mana yang lebih baik dalam kehidupan.

“Namun karena perhatian pendidik lebih ditekankan pada konten dan kognisi, hal-hal dasar yang menjadi penbentuk karakter, disiplin, kemampuan berpikir dan memahami menjadi terabaikan dan dimatikan,” tuturnya.

Rhenald menambahkan, hal tersebut tentu berakibat fatal bagi pembentukan karakter bangsa, kegairahan belajar yang menyenangkan, bahkan dalam membangun sistematika kerja serta kecakapan hidup yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa menghadapi tantangan-tantangan baru.

Seperti diketahui, publikasi laporan Programme for International Student Assessment (PISA) selalu memantik keprihatinan pendidik Indonesia. Yang terbaru, 3 Desember 2019 lalu, laporan PISA 2018 kembali menempatkan Indonesia di peringkat bawah dari 79 negara yang disurvei.

Secara umum, kemampuan membaca, siswa Indonesia ada di peringkat 74 (sebelumnya peringkat 64), kategori matematika ada di peringkat 73 (sebelumnya 63), dan kategori kinerja sains ada di peringkat 71 (sebelumnya 62).

Selama ini, assessment dalam PISA memang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Indonesia pernah mencoba memberikan soal kategori HOTS pada saat Ujian Nasional (UN) 2018 lalu.

Hasilnya, siswa-siswa kesulitan karena memang dalam proses belajarnya belum terlatih dengan soal kategori HOTS.

Rupanya, taraf pendidikan yang diterima siswa selama ini lebih menitikberatkan pada menghafal, memahami, dan mengaplikasikan. Ini merupakan level bawah dan masuk kategori Lower Order Thinking Skills (LOTS).

Makin naik levelnya, siswa dituntut untuk bisa berpikir kritis, analitis, memecahkan masalah, dan melakukan evaluasi. Mayoritas siswa Indonesia, ternyata belum mencapai tahap tersebut. Itulah yang dilihat oleh Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof. Rhenald Kasali dari pengalamannya yang telah mengabdi selama 35 tahun dalam bidang pendidikan.

 

Teknologi Bisa Membantu, Tetapi..

Dari pengalamannya di kampus, bersama Elisa istrinya, Rhenald lalu mendirikan Yayasan Rumah Perubahan yang salah satu kegiatannya adalah menyediakan sekolah bermutu untuk anak-anak kurang mampu pada level dasar.

Sebuah laboratorium dibangun dengan rujukan dari Beyond Centers and Circle Time (BCCT) yang dibimbing ahli perkembangan anak dari Florida State University. Dan perkembangan anak dipantau, bahkan sebuah bengkel dikembangkan untuk membuat alat permainan edukatif yang bisa merangsang anak berpikir.

Rhenald mengatakan, ketika teknologi bergerak begitu cepat dan mengubah berbagai lini kehidupan, ada bidang yang masih harus dibongkar sampai ke akarnya , yakni bidang pendidikan.

Padahal para pemangku kepentingannya selalu ingin melompat pada content-nya, apakah itu matematika, bahasa, science, dan fisika. Padahal di balik itu semua ada kecerdasan mendasar yang masih harus dibangun guru untuk memudahkan tahap berikutnya dalam menerima ilmu-ilmu canggih itu

“Kami menaruh perhatian dalam bidang pendidikan anak usia dini. Inilah fase paling krusial dalam pendidikan,” katanya.

Menurut Rhenald, untuk menaikkan level pengetahuan siswa, tidak bisa dilakukan secara instan. Untuk membangun daya analitis, critical thinking, dan problem solving, tidak bisa hanya dilakukan melalui uji coba dan les bimbingan belajar sebelum ujian dilakukan.

“Untuk membangun kemampuan itu, butuh waktu panjang dan harus dilakukan sejak usia dini,” jelasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here