Respons Moeldoko Disebut dalam Isu Kudeta Ketum Demokrat AHY

130

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) secara mengejutkan menyebut, partainya tengah digoncang isu kudeta yang mengiinginkan partai ini diambil alih secara paksa oleh tangan-tangan para penguasa.

AHY menuding ada pejabat pemerintahan di lingkaran dekat Presiden Joko Widodo yang terlibat dalam gerakan “kudeta” tersebut. Mereka kata AHY ingin memecah Demokrat menjadi dua kubu dengan menggelar kongres luar biasa.

“Menurut kesaksian dan testimoni banyak pihak yang kami dapatkan, gerakan ini melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo,” kata AHY, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui akun Youtube Agus Yudhoyono, Senin (1/2/2021).

Dalam konferensi pers, AHY tidak menyebut nama pejabat yang dimaksud. Ia hanya menyebut gerakan itu terlihat sangat sistematis, para orang dekat pengusaha ini terus merorong kader Demokrat untuk membuat Kongres luar biasa dengan pemilihan ketua umum baru.

“Berdasarkan penuturan saksi dalam berita acara pemeriksaan, untuk memenuhi syarat dilaksanakannya KLB, pelaku gerakan menargetkan 360 orang para pemegang suara yang harus diajak dan dipengaruhi dengan imbalan uang dalam jumlah yang besar,” kata AHY.

AHY mengungkapkan, gerakan kudeta itu didalangi oleh lima orang, salah satunya sosok yang ia sebut sebagai pejabat pemerintah. Meski AHY tidak menyebut nama siapa orang Istana yang dimaksud.

Namun, Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menyebut pejabat yang dimaksud adalah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.

Empat orang lainnya berasal dari Partai Demokrat, yakni seorang kader aktif, kader yang sudah enam tahun tidak aktif, mantan kader yang sudah 9 tahun dipecat dan satu mantan kader yang keluar dari partai sejak tiga tahun lalu.

“Berdasarkan pengakuan, kesaksian, dari BAP sejumlah pimpinan tingkat pusat maupun daerah Partai Demokrat yang kami dapatkan, mereka dipertemukan langsung dengan KSP Moeldoko yang ingin mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional untuk kepentingan pencapresan 2024,” kata Herzaky, dalam keterangan tertulis.

“Ini bukan soal Demokrat melawan Istana, atau Biru melawan Merah. Ini soal penyalahgunaan kekuasaan dengan mencatut nama Presiden,” kata Herzaky menambahkan.

Senada dengan pernyataan Herzaky, AHY menyebut, kudeta di Partai Demokrat itu akan dijadikan sebagai kendaraan politik bagi Pemilu 2024.

Kendati demikian, AHY menegaskan kadernya tetap solid. Ia mengaku telah menerima surat pernyataan kesetiaan dan kebulatan tekad dari seluruh pimpinan di tingkat daerah dan cabang.

Menurut AHY, seluruh pimpinan di tingkat daerah patuh pada kepemimpinan hasil Kongres V Partai Demokrat.

“Insya Allah, gerakan ini dapat ditumpas oleh kesetiaan dan kebulatan tekad seluruh pimpinan, baik di tingkat pusat maupun daerah dan cabang, serta para kader Demokrat lainnya di berbagai wilayah Tanah Air,” ujar dia.

Respons Moeldoko

Menanggapi hal tersebut, Moeldoko meminta Partai Demokrat tidak dengan mudah menuding Istana. Ia juga mengingatkan agar Demokrat tak mengganggu Presiden Joko Widodo.

“Jangan sedikit-sedikit Istana. Dalam hal ini saya mengingatkan, sekali lagi jangan sedikit-sedikit Istana dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini,” kata Moeldoko, melalui konferensi pers virtual, Senin malam.

“Berikutnya kalau ada istilah kudeta itu ya kudeta itu dari dalam, masa kudeta dari luar,” imbuh dia.

Mantan Panglima TNI era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menyebut Presiden Jokowi tak tahu menahu soal isu ini. Oleh karena itu, persoalan ini menjadi urusannya semata.

Moeldoko menduga, isu kudeta di tubuh Partai Demokrat berangkat dari foto-foto saat ia menerima sejumlah tamu. Ia mengaku kerap menerima tamu.

Moeldoko tak menyebutkan secara detail tamu yang ia maksud. Namun, ia hanya menyebut bahwa tamu itu datang berbondong dan membicarakan banyak hal, terutama situasi terkini.

“Saya sih sebetulnya prihatin melihat situasi itu, karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat, begitu. Terus muncul isu itu,” ucapnya.

“Mungkin dasarnya foto-foto, ya ada dari orang Indonesia Timur, dari mana-mana kan pengin foto sama saya, ya saya terima saja, apa susahnya,” kata Moeldoko.

Ia mengaku tak mempersoalkan digulirkannya isu ini. Namun, ia menyebut bahwa seorang pemimpin harus kuat dan tidak mudah terombang-ambing.

“Saran saya ya, menjadi seorang pemimpin harus seorang pemimpin yang kuat. Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang-ambing,” ujar Moeldoko. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here