Renungan Insipratif: Tiga Musibah Setiap Hari

275

Muslim ObsessionMuhasabah atau introspeksi diri menjadi tradisi para sahabat dan ulama salafushshalih. Mereka akan merenung sejenak untuk mendedar apa saja yang telah dilakukannya sepanjang hari.

Alhasil, istighfar menjadi bacaan yang paling sering diucapkan. Selain Kalimat Thayyibah lainnya sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Muhasabah, sejatinya, menjadi salah satu bekal bagi setiap muslim yang ingin kembali ke ‘kampung halaman’ kelak dengan selamat dan berlabuh di dalam jannah. Muhasabah menjadi sangat penting karena seseorang yang enggan introspeksi diri mungkin akan berakhir dengan kesengsaraan.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, menjadi salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal seringkali melakukan muhasabah setiap malam. Terdapat qaul beliau yang sangat dikenal tentang hal ini:

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatu pun pada kalian yang tersembunyi.” (Az Zuhd, Ahmad bin Hambal, h. 177)

Sementara Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menegaskan pentingnya melakukan muhasabah agar mendapatkan keuntungan di akhirat kelak.

“Siapa saja yang memeriksa dirinya sebelum ia diperiksa, niscaya ringanlah pemeriksaannya pada hari Kiamat, mampu menjawab setiap pertanyaan dan baguslah tempat kembalinya. Dan siapa saja yang tidak memeriksa dirinya, maka kekallah kerugiannya dan panjanglah berdirinya pada lapangan kiamat,” tulis beliau.

Sebagai langkah awal, untuk memulai kegiatan muhasabah setiap hari, setidaknya ada tiga hal yang patut direnungkan. Tiga hal ini terdapat dalam tulisa yang tersebar viral di beberapa grup WhatsApp.

Apa sisinya? Mari kita baca dan renungkan dengan seksama.

Pada dasarnya, ada tiga musibah setiap hari yang menimpa kita sebagai hamba-Nya. Tetapi sayang, sebagian besar kita tidak menyadari bahkan sebagian besar kita tidak bisa mengambil hikmahnya.

Musibah pertama. Setiap hari jatah usia kita terus berkurang, tetapi berkurangnya usia ini lepas dari perhatian.

Sementara itu ketika harta yang berkurang, perhatian kita sangatlah luar biasa. Padahal harta yang hilang bisa diganti, sementara umur yang hilang tidak akan ada gantinya.

Musibah ke dua. setiap hari kita hidup dengan rezeki dari-Nya, sementara kita lalai dan lalai bahwa setiap rezeki yang ada kelak akan dihisab oleh_Nya.

Apabila rezeki itu halal, kelak akan ditanya sudahkah kita mensyukurinya? Apabila rezeki itu haram, kaka Allah subhanahu wa ta’ala kelak mengadzab kita.

Musibah ke tiga. Disadari atau tidak, setiap hari kita melangkah mendekati akhirat. Sebagaimana juga kita terus melangkah menjauhi dunia.

Tetapi perhatian kita terhadap akhirat yang kekal tidak sebesar perhatian kita terhadap dunia yang fana. Sementara kita tidak tahu, bagaimana akhir perjalanan kita kelak. Apakah akan menjadi penghuni surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya, ataukah menjadi penghuni neraka tempat segala adzab dan siksanya.

Sebanyak apapun harta dunia terkumpul, atau sebanyak apapun penghargaan dan jabatan teraih, semua tidak seindah kenikmatan yang menjadi impian.

Dan dambaan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam, “Yaa Alloh aku memohon pada-Mu agar engkau mewafatkanku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku di surge-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang shalih,” (QS. Yusuf : 101).

Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada Allah Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berpikir dan berbuat baik dan benar. Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here