Reni Politisi Perempuan Berkemauan Keras

890
Seusai bedah buku Biografi Mohammad Natsir.

Kejutan Reni

SEKITAR bulan Juni 2020, beredar foto Reni sebagai bakal calon wakil bupati. Dalam satu kesempatan, saya tanya: “Serius mau jadi Wabup? Katanya mau jadi Profesor?”

Reni menjawab ringan: “Itu pekerjaan anak-anak.”

Beberapa hari sesudah percakapan itu, masuk pesan ke WA saya: “Kang aya di bumi? Abdi bade ngadeuheus”. Seperti biasa saya jawab: “Mangga.”

Keesokan harinya, Reni tiba di kediaman saya. Sesudah berbasa-basi sejenak, Reni sampai pada pokok persoalan. Dia minta restu untuk maju menjadi calon bupati Sukabumi.

Saya kaget. Dan makin kaget ketika diberitahu bahwa dirinya akan berpasangan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan.

“Kok bisa? PPP yang kursinya cuma empat, menjadi calon bupati berdampingan dengan calon wakil bupati dari PDI Perjuangan yang kursinya enam,” tanya saya.

“Ini kehormatan, Kang,” kata Reni sambil menambahkan bahwa ini adalah penugasan dari DPP PPP yang dia harus laksanakan.

Saya kemudian memberi beberapa pandangan, yang alhamdulillah dilaksanakan dengan penuh semangat oleh Reni.

Saya menekankan kepada Reni agar menjadikan pilkada sebagai momentum untuk konsolidasi partai. Dengan nada bersungguh-sungguh saya tegaskan kepada Reni bahwa soal menang atau kalah sudah tertulis di lauh al-mahfudz. “Urusan kita konsolidasi partai.”

“Siap, Kang!”

Pesan yang saya sampaikan secara empat mata, saya sampaikan lagi dalam Rapat Pimpinan Cabang PPP Kab. Sukabumi.

Dan, sesuai harapan saya, Reni betul-betul bekerja keras untuk mengkonsolidasikan kekuatan partai. Saya dengar dari teman-teman Tim Sukses/Relawan, Reni sering kali berkeliling dari pagi hingga larut malam.

Mendengar itu, saya cuma bisa berharap semoga Reni tetap mampu menjaga kesehatan.

Hilang Kontak

SEJAK akhir Juli, Reni mendadak tidak bisa dihubungi. Kabar yang beredar, Reni dirawat di rumah sakit karena terserang typhus. Penyakit yang mengharuskan orang yang terserang, beristirahat total.

Tetapi kemudian beredar surat terbuka yang mempertanyakan hilangnya kontak dengan Reni.

Surat terbuka itupun masuk ke HP saya. Dan dengan harapan DPP PPP segera menjernihkan masalahnya, sebelum menjadi air keruh yang mengganggu konsolidasi, surat terbuka itu saya kirim ke Plt Ketum PPP, Suharso Monoarfa. Jawaban Monoarfa ringkas: “Saya juga dapat. Terima kasih.”

Saya juga menyampaikan hal yang sama kepada Sekretaris Jenderal DPP PPP, Arsul Sani. Kepada Arsul saya tekankan, jangan sampai semangat teman-teman di akar rumput melemah.

Arsul mengatakan bahwa soal-soal mengenai pilkada akan dibahas oleh DPP pada hari Jumat.

Hari Jumat itu, Reni datang ke DPP PPP untuk memberi laporan perkembangan pilkada di Kabupaten Sukabumi.

Reni belum sempat melapor, malaikat maut telah memanggilnya.

PPP khususnya, bangsa Indonesia umumnya, kehilangan seorang politisi perempuan yang sangat berbakat dan berkemauan keras.

Wartawan senior Nasihin Masha menyebut Reni Marlinawati sebagai “sangat sedikit perempuan yang berpolitik.”

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surgaku”.

Adinda Reni, berangkatlah. Saya mengenangmu sebagai politisi perempuan yang berkemauan keras. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here