Relawan Indonesia Kirim Bantuan untuk Muslim Uighur dan Suriah

255

Jakarta, Muslim Obsession – Seorang relawan kemanusiaan dari Indonesia Eko Sulistio kembali mendatangi Turki guna mengirimkan bantuan untuk saudara-sudara Muslim Uighur, China dan Suriah yang mengungsi di daerah perbatasan antara Turki dan Suriah.

Di tengah wabah pandemi corona ini, Eko merasa perlu untuk kembali datang ke Turki guna membantu saudara-saudara Muslim di sana yang masih banyak mengalami kessengsaraan karena korban konflik di negaranya. Terlebih di musim pandemi ini, bantuan dari negara lain hampir tidak ada.

“Selama masa pandemi Covid-19 hampir tidak ada bantuan International yang datang karena tidak adanya jadwal penerbangan International juga karena deregulasi pemerintah setempat yang mengurangi kunjungan orang asing,” ujar Eko kepada Muslim Obsession, Rabu (21/10/2020).

Bantuan untuk Muslim Uighur dan Suriah lebih kepada bahan makanan, dan peralatan untuk musim dingin, serta alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Aksi kemanusian sudah berlangsung sejak 2 Oktober sampai 24 Oktober 2020.

Adapun bahan bantuan yang didistribusikan adalah beras 6 Ton, kacang tanah 1,8 Ton, makanan sereal 1,8 Ton, bihun 600 Kg, gula 3 Ton, minyak bunga matahari 3000 Liter, saus tomat 600 Kg, kacang Arab 1,8 Ton, minyak zaitun 1800 Liter, gandu 1,8 Ton dan ikan kering 1,8 Ton.

“Paket bantuan makanan keluarga ini
di peruntukan untuk 600 kepala keluarga yang tersebar di beberapa kamp penampungan Uighur dan Kamp pengungsian Suriah,” tuturnya.

Kamp penampungan Uighur dan Kamp pengungsian Suriah tersebut antara lain, untuk Muslim Uighur ada di Kamp Penampungan Zeytinburnu, dan Kamp Penampungan Silivri. Adapun untuk warga Suriah ada di Kamp Pengungsian Darul Muhajirin Wal Ansor Di Esenyurt.

Bantuan-bantuan kemanusiaan ini datang dari masyarakat Indonesia melalui beberapa lembaga kemanusiaan salah satunya dari : DT Peduli, Gerak Bareng, Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah, dan beberapa bantuan yang sifatnya pribadi.

“Sulitnya pendistribusian bantuan yang tidak bisa warga penerima manfaat langsung berkumpul di satu tempat karena larangan berkumpul, menyebabkan pendistribusian bantuan harus dilakukan satu persatu per kepala keluarga, sehingga menyita waktu dan tenaga,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here