Rasulullah ﷺ Memiliki Bentuk Tubuh Ideal

260

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Alkisah, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah bertemu seseorang di jalan dan bertanya kepadanya:

“Kenapa perutmu besar seperti ini (buncit)?” tanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

“Ini karunia dari Allah,” jawab orang tersebut seolah-olah tidak berdosa dengan nada yang agak naik sedikit, seolah-olah tidak menghargai pertanyaan Sayidina Umar bin Khattab.

“Ini bukan berkah, tapi adzab dari Allah!” seru Umar, pun dengan nada yang agak diangkat.

Baca juga: Perut Gendut adalah Adzab?

Sayidina Umar bin Khattab lalu melanjutkan:

“Hai sekalian manusia, hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kalian malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menimbulkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah.”

Dalam kisah di atas, Umar mengajak kepada kaum Muslimin untuk memperhatikan bentuk tubuh agar terhindar dari kegemukan. Karena badan yang gemuk dapat mendatangkan sifat malas dalam beribadah, maupun bekerja, serta dapat mendatangkan berbagai penyakit.

Bentuk Tubuh Rasulullah

Rasulullah Muhammad ﷺ adalah suri tauladan dari segala sisi, termasuk bentuk tubuh. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah sakit, kecuali hanya 2 kali dalam hidupnya. Bentuk tubuhnya juga sangat ideal, dada dan perutnya datar, tidak besar dan buncit perutnya.

Dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, “Rasulullah itu berdada lebar. Antara perut dan dada berukuran sama,” (HR. Ath-Thabarani dan Az-Zabidi).

Baca juga: Berbagai Manfaat Buah Naga untuk Tubuh

Dari Ummu Hani, ia menuturkan: “Saya tidak melihat bentuk perut Rasulullah kecuali saya ingat lipatan kertas-kertas yang digulung antara satu dengan yang lain,” (HR. Ath-Thabarani)

Dalam riwayat lain, “Perutnya bagai batu-batu yang bersusun”. Istilah “batu-batu yang tersusun” kalau pengertian kita sekarang adalah sixpack dan atletis. Jadi jelas dalam riwayat tersebut diketahui bahwa perut Rasulullah ﷺ tidak buncit.

Kendati demikian, karena faktor usia, Rasulullah ﷺ pun mengalami gemuk dan badannya mulai berdaging. Namun gemuknya Rasulullah ﷺ sama sekali tidak menjauhkannya dari amalan Ibadah, baik wajib maupun Sunnah. Rasulullah ﷺ hanya menyesuaikan ibadah sunnahnya sesuai dengan kemampuannya. Yang biasa melaksanakan Shalat Witir 9 rakaat sambil berdiri, menjadi 7 rakaat dengan berdiri dan sisanya 2 rakaat dengan duduk. Jumlah rakaatnya tetap, namun 2 rakaat terakhir beliau SAW lakukan dengan cara duduk.

Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُوتِرُ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا بَدَّنَ وَلَحُمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Bahwa Nabi ﷺ melakukan witir 9 rakaat, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging, beliau shalat 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk,” (HR. Ahmad 26651 dan Bukhari 4557).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here